Connect with us

Budaya / Seni

Coro – Cerpen Dewandaru Ibrahim Senjahaji

Published

on

Dasar Coro - Lukisan Heno Airlangga (2015). (FOTO: Istimewa)

Dasar Coro – Lukisan Heno Airlangga (2015). (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Di antara santri-santri yang lain Coro memang tergolong liar.  Ia lebih mirip wong ndalan daripada seorang santri. Kerap mbolos mengaji dan sering adu mulut dengan senior ataupun si keamanan pesantren. Seperti kecoa, Coro seringkali meringkuk di kamar ketika teman-temannya mengaji di kelas atau di masjid. Kadang ketika jam mengajinya kosong malah numpang mengaji di kelas lain. Lebih tepatnya ia numpang duduk di kelas lain. Atau kadang gentayangan tak jelas dari kelas ke kelas sambil guyon, menggoda, atau menjahili santri lain.  Begitulah tingkah Coro, ia seperti mempunyai dunia sendiri di pesantren. Karena kelakuannya itu ia sering dipanggil temannya Coro (kecoa).

Sekalipun kerap bertingkah seperti kecoa ketika berjalan, Lain halnya ketika berhadapan dengan senior atau keamanan. Ia lebih mirip seperti macan,  galak dan jumawa. Kadang juga lihai bicara secara cepat dan keras sekalipun jika suaranya meninggi, persis seperti jeritan ayam betina yang hampir bertelur. Hal itu sering membuat penduduk pesantren geram. Tak sedikit yang sinis terhadap Coro,  bahkan Coro sudah dianggap sebagai seekor kecoa yang bertubuh manusia.

***

Malam itu Coro melompat masuk kompleks lewat pagar pesantren yang tingginya tiga meter.  Hal itu dilakukan Coro karena tak mau bertele-tele diinterogasi keamanan. Karena memang di pesantren tidak diperbolehkan keluar malam lewat pukul sembilan. Sunyinya pesantren yang penduduknya telah dibuai mimpi membuat loncatan yang gagal mendarat terdengar keras dan membuat kaget keamanan yang kebetulan sedang berkeliling. Sontak keamanan mencari sumber suara yang mencurigakan itu. Dilihatnya Coro sedang memegangi dengkul karena pendaratan yang kurang sempurna. Seketika Coro dibentak dan diceramahi macam-macam. Tapi Coro yang liar itu tak tampak takut atau malu. Sambil meringis mengusap dengkul Coro tidak menggubris bahkan malah lebih khusyuk mengusap dengkul dan ngeloyor dengan langkah tertatih. Tentu itu membuat keamanan geram.

Makian berulang-ulang yang keluar dari mulut keamanan menyedot perhatian beberapa santri senior yang masih terjaga. Seperti dikomando, mereka menghampiri keamanan dan mencegat langkah Coro. Seorang santri senior yang badannya seperti atlet MMA (Mix Martial Art) itu melayangkan hook ke pipi kiri Coro. Coro yang kurus dan tak siap kuda-kuda itu terjungkal. Jika para senior itu tidak ingat akan pesan Kiai Surat maka tentu mereka akan menyikat habis si Coro seperti orang yang menginjak-injak kecoa di toilet. Tapi itu tidak terjadi kaena keta’dziman santri pada Kiai.

Kekesalan mereka tak terlampiaskan. Mereka merasa dongkol dan hanya memakimaki Coro. Salah satu senior membuat kuping Coro panas dan darahnya mendidih. Tiba-tiba Coro berdiri seperti pendekar. Pertarungan antara 5 atlet MMA dan seorang zombie akan segera dimulai. Adu mulut pun terjadi. Tapi sebelum acara tinju bebas dimulai, mereka dikagetkan suara serak berat dan berwibawa;

Turu bocah wis wengi, ngesuk mbok ngaji !”. Tanpa sadar Kiai surat sudah ada di antara mereka. Sontak mereka semua kaget dan kembali ke tempat dan pos masing-masing. Kiai surat pun berlalu. Coro perlahan melangkah menuju kamar.

***

“Kang.., Coro deneng dijorna bae neng Abaeh ya, Kang ?” Ucap salah satu senior yang merasa tidak puas akan keputusan Kiai Surat. Mereka memang menyebut Kiai dengan sebutan Abah.

“Iya.. aku be gumun koh.. padahal wis sering banget Coro gawe perkara, gawe geger pondok.. tapi ora tau ditakzir. kepriwe si yaa ? Santri yang lain menimpali dengan ketidakpuasan yang sama.

“Tapi arep kepriwe maning Kang. Abaeh ya wis mesti kagungan alesan dewek. Wis lah gari nderek Abaeh bae…” Sergah seorang santri yang paling tua di antara mereka menengahi.

Sekalipun Coro hampir tidak pernah kena hukuman, sikap Coro yang seenaknya itu secara tidak langsung membuatnya terhukum oleh warga komplek bahkan hampir seluruh pesantren. Santri-santri mulai menjauhi Coro, begitu juga teman sekamarnya. Mereka hanya berbicara pada Coro jika ada hal yang sifatnya urgent saja. Sangat sedikit santri yang bercakap-cakap dengan Coro, itu pun hanya santri yang dikucilkan teman-temannya karena kelewat bodoh atau kena penyakit gudik.

Santri semi gemblung ini memang menghawatirkan banyak orang. Dari para santri, ustadz, pengurus, maupun simpatisan pondok pesantren. Mereka takut jika pamor atau derajat pesantren akan turun karena ada santri yang kurang waras ini. Banyak sekali laporan bahwa Coro sering main keluar dan bergaul dengan orang-orang yang bisa dibilang tidak jelas. Ia bergaul dengan preman, anak jalanan, remaja nakal, pengangguran yang meresahkan, tukang sabung ayam, penjual ciu, biduan, dan lain sebagainya. Ketenaran coro sebagai santri abangan yang gaulnya dengan orang-orang tak jelas itu hingga radius 2 Kilometer. Hal itu diketahui karena banyak santri yang bercerita bahwa jika mereka pergi ke pasar atau berjalan mereka sering ditanya oleh orang yang aneh-aneh, dari pengamen, preman, tukang parkir pasar, perempuan cantik, atau pun anak-anak remaja yang sedang bergerombol pasti yang keluar dari bibir mereka adalah “santrinya Kiai Surat ya mas? Salam buat Coro ya?”. Setiap selapanan Coro sering diusulkan untuk dikeluarkan, tapi hasilnya tetap sama. Selalu saja Kiai Surat dengan gaya sepuhnya yang mboys itu nyelethuk pada para hadirin dengan senyum khasnya:

“Wong sing jenenge pesantren kue kaya bengkel, angger barang ora perlu didandani ya ora digawa bengkel, lha masa ana bengkel ora gelem ndandani merga anu barang bodol? Wis tugase dewek ngurusi santri. Kaya kae soten anake dewek sing perlu dibimbing lan dirumat”. Mendengar perkataan Kiai Surat yang lembut dan penuh wibawa itu semuanya terdiam dan tertunduk.

***

Memang ada traumatik pada Coro terhadap pesantren terutama santri yang terlihat sok alim. Ia mempunyai luka menganga yang diisi dengan kebencian. Ia pernah menjalin hubungan dengan seorang santriwati tapi hubungannya harus kandas karena ayah perempuan itu mempunyai syarat, bahwa putrinya hanya boleh menikah dengan seorang santri. Cintanya yang tak kuasa ia tahan itu memaksanya ke pondok pesantren dan ia pun menyantri di sebuah kampung yang lumayan berjarak dengan rumahnya yang terletak di pinggir kota. Coro meminta izin kepada orangtuanya. Ayah ibunya sangat bangga dengan itikad baik Coro. Dari ke lima anaknya, Coro lah yang paling bandel. Sebagai bontotan dari kelurga kaya, Coro begitu berbeda dengan kakak-kakaknya yang hidupnya rapih dan terstruktur. Mereka sejak lama menginginkan Coro berubah di usianya yang sudah lumayan matang itu. Apalagi teman seumuran coro sudah berkeluarga semua.

Di pesantren itu kehidupan Coro berubah drastis. Kehidupan pesantren yang serba mandiri dan serba bersama sangat berbeda dengan gaya kehidupan anak kota yang serba mudah dan serba tercukupi. Dari urusan mengurus pakaian, mandi, makan dan urusan tidur ia selalu kewalahan. Sering pakaiannya yang bermerk itu dighozob santri lain. Ketika mandi pun ia harus bersusah payah menimba air atau berjalan ke sungai. Ia sulit tidur di lantai tanpa kasur yang hanya beralas karpet tipis. Ia harus berbagi tempat dengan santri lain sebab satu kamar ukuran tiga kali tiga meter itu diisi tujuh orang. Belum lagi ada santri yang dengkurannya seperti kerbau atau yang tidurnya seperti gasing. Sebulan di pesantren seperti setahun. Tubuhnya yang kekar dan bersih berubah kurus dan korengan. Setiap malam ia harus menggaruk kulitnya untuk mengurangi gatal.

Sebagai seorang yang tak berpengalaman mondok di pesantren, apalagi di umurnya yang seperempat abad itu, coro tampak begitu konyol. Lain halnya dengan santri-santri lain yang sudah bertahun-tahun mondok atau berpengalaman nyantri di berbagai tempat. Ia terlihat seperti suul adab, sebagai sarjana ilmu sosial ia sangat kritis dan tidak mau diberi penjelasan-penjelasan secara dogmatis. Banyak ustadz yang kewalahan dengan pertanyaan atau pendapat Coro. Tapi karena background hidupnya, ia masih dimaklumi dan sering diberi arahan-arahan oleh santri lain, bahkan oleh santri yang umurnya jauh lebih muda dari Coro. Di kalangan santri Coro si santri baru itu dikenal cerdas dan rajin, sekali pun kadang-kadang terkesan saru karena suka mendebat. Tapi lama kelamaan Coro mampu beradaptasi, tak jarang banyak santri yang sering mengajaknya diskusi. Fenomena santri baru yang tenar itu cukup menarik perhatian para ustadz dan Kiai Surat (pengasuh pesantren). Ada yang berpandangan positif dan ada yang negatif. Tapi Kiai Surat hanya senyum-senyum saja ketika ditanyai soal Coro oleh para ustadz.

Ia tak bisa komunikasi dengan perempuan pujaannya itu,  sebab  di pesantren tak diperbolehkan membawa barang elektronik. Setelah lama tidak ada komunikasi, ia mendapat kabar bahwa perempuan yang ia cintai itu akan segera menikah dengan seorang yang mengaku santri. Telah ada jabang bayi di perutnya.

Perasaan Coro hancur bukan main. Ia terpukul sekeras-kerasnya. Hingga diam-diam menahan dendam dan kebencian terhadap santri dan pesantren. Semenjak itulah Coro menjadi liar. Sebenarnya ia ingin sekali minggat dari pesantren dan hidup bebas bersama kawan-kawannya. Tapi ia teringat ketika ia pamit kepada orangtuanya untuk nyantri. Ia tak bisa membayangkan bagaimana orangtuannya akan terpukul dan bisa-bisa jatuh sakit karena memikirkan kelakuan Coro. Ia masih ingat bagaimana orangtuanya begitu senang mendengar ia ingin mondok.

“Kau benar ingin ke pesantren, Nak ?”

“Iya, Bu.”

“Akhirnya doa kita terkabul Pak”. Ibunya tersenyum menatap ayah Coro. Terlihat wajah tua yang penuh keriput itu berseri-seri menahan bangga hingga matanya hampir berair.

“Alhamdulillah Bu, setidaknya kita sudah tenang jika suatu saat kita dipanggil Tuhan”. Ayahnya menimpali dengan perasaan yang sama.

Sebelum Coro membuka pagar dan keluar dari halaman. Ibunya menghampiri Coro.

“Hati-hati, Nak. Jangan lupa doakan kami, terutama ayahmu agar sehat selalu dan jantungnya tak kumat lagi.” Ibunya memeluk Coro, suatu hal yang telah lama tidak terjadi selama bertahun-tahun. Sekalipun coro agak kekuk mendapat perlakuan seperti itu, tapi coro masih seorang anak dari ibunya. Ia sadar jika selama ini ia banyak merepotkan. Hal itu membuat hati coro terharu ia membalas pelukan ibunya erat-erat.

“Insyaalloh Bu.”

***

Malam itu si keamanan dan beberapa santri petugas ronda maupun beberapa santri yang masih terjaga menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hingga “Braakk…!!” pintu gerbang besi yang kokoh itu seperti dihantam sesuatu yang sangat keras hingga bengkok. Terlihat seorang bertubuh kurus masuk melewati pagar besi itu. Ia berjalan tergopoh menghampiri keamanan dengan mata menyala.

“Kurang ajar!!! Jadi selama ini kau yang menerima dan menyembunyikan surat-surat itu?!”.

Belum selesai keterkejutan mereka orang itu langsung menerkam si keamanan. Pukulan demi pukulan melayang. Beberapa santri yang melihat berlari menuju arena pertarungan itu. Tapi mereka tidak berani mendekat. Mereka sadar Si keamanan yang terkenal dengan ilmu silat dan jadognya itu saja kewalahan mengahdapi lelaki kurus itu, apalagi mereka. Si kemanan terus terpojok dan tak bisa berkutik. Ia habis dihajar lelaki kurus itu.

“Coro …!! hentikan…!!”

“Cukup Coro!!! Ia bisa mati!!”

Beberapa santri yang melihat mencoba menghentikan. Mereka semua terpelanting. Tenaga mereka kalah perkasa.  Tapi untungnya itu membuat coro agak menjauh dari tubuh si keamanan. Keamanan yang bonyok itu sudah tak bisa bergerak. Hanya rintihan kecil dan gerakan naik turun nafas yang tersenggal dengan wajah penuh darah. Coro terdiam dan ngeloyor pergi. Segera para santri mendekati kemanan dan memberikan pertolongan pertama.

***

Pagi yang dingin namun segar itu mulai meninggalkan gelap. Lamat-lamat suara ayat-ayat mendengung seperti suara lebah. Berpuluh santri melakukan rutinitas seperti pagi biasanya. Di antara pintu kamar yang terbuka, ada satu pintu yang masih tertutup. Pintu kamar angker yang hanya dihuni tiga orang pesakitan pesantren yang terkucilkan, mungkin lebih tepatnya tiga orang santri yang memilih memisah dari santri lain. Di kamar itu hanya ada satu santri yang masih berbaring berselimut mimpi; Coro. Laki-laki yang sedang melakukan protes terhadap nasibnya. Kiai Surat yang baik hati dan lembut tutur katanya itu memang orang yang sangat toleran, tapi tidak untuk urusan sembahyang, setiap santri harus sholat. Ia berjalan dengan pasti menuju kamar angker itu. Dihampirinya Coro yang masih meringkuk itu.

“Nang…  Tangi Nang…”

Pelan-pelan Kiai Surat membangunkan tetapi Coro tetap meringkuk. Gudel yang baru pulang dari masjid itu kembali ke kamar, ia memang bebas dari kegiatan rutinitas pagi karena hari ini adalah jadwalnya piket menyiapkan sarapan. Mendapati Coro tidur dan mengacuhkan Kiai Surat ia tak sampai hati pada Kiainya. Ia bermaksud membangunkan Coro. Tapi baru saja gudel hampir mendekat Kiai Surat memberi isyarat dengan menganglkat tangan.

“Orapapa Nang.. wis nganah koe nyambut gawe, aja brisik ya Nang..”. perintah Kiai Surat dan gudelpun berlalu.

“Asholatu wassalamu ‘alaik…. yaa imaamal mujaahidiin….. yaa Rosulallooohh…..”

Suara serak yang dimakan umur pelan-pelan masuk ke telinga Coro. Ia paham betul dengan suara serak yang termakan umur namun lembut itu. Ia telah sadar namun tetap menutup matanya dan pura-pura masih dibuai mimpi. Perasaannya tak karuan ada yang ingin meledak di dalam dadanya. Masih terngiang di kepalanya makna bacaan tarkhim yang dijabarkan Kiai Surat kemarin sore waktu ia menguping dari jendela sambil rokokan.  Sampai tarkhim separuh jalan, ia masih pura-pura tidur. Berbaring miring, mulai merasa capek berpura-pura. Tapi suara itu masih saja bergema. Suara itu mengalun seperti lagu yang ditembangkan dengan hati-hati sekali. Tangan Kiai Surat yang berkerut karena umur itu memijat-mijat kaki Coro dengan pelan dan lembut sambil terus komat-kamit. Mata yang merem itu diam-diam basah dan mengalir rasa haru campur rasa bersalah. Coro tak kuasa menahan tangisnya. ia bangkit dan di peluknya Kiai Surat erat-erat sambil terisak-isak meminta maaf.

***

Kejadian itu sudah berbulan berlalu, Coro tidak lagi banyak tingkah. Kiai Surat yang lembut dan penuh cinta itu telah meluluhkan hati karangnya. Setiap hari ia lebih banyak diam. Ia tak pernah lagi absen ketika jadwalnya mengaji meskipun di ruang itu ia lebih mirip dengan tiang pesantren. Hanya diam. Kecuali ketika berdoa ia baru terlihat seperti manusia. Ia tetap seliweran dan masuk seenaknya ke kelas lain ketika jam ngajinya kosong. Dan sama, ia lagi-lagi menjadi sebuah benda mati yang sunyi kecuali ketika berdoa. Para Kiai, ustadz,  atau para santri lain membiarkannya. Dalam benak mereka mulai timbul rasa bersyukur Coro mulai mau mengaji sekalipun tetap saja Coro tidak mereka mengerti. Terlebih ia semakin sering masuk melompat pagar larut malam.

Santri-santri khawatir, khususnya keamanan dan beberapa santri senior yang sering memarahi Coro. Mereka khawatir kalau Coro sudah tidak waras dan mereka pun khawatir jika Coro melakukan hal-hal buruk di luar sana. Pasalnya, selain menjadi pendiam, ia sering menyendiri sekalipun telah banyak santri yang membuka pergaulan padanya. Satu bulan terakhir ini ia sangat jarang kelihatan di pesantren. Tapi tetap muncul ketika jam mengaji.

Santri yang terlanjur kesal pada Coro menjadi penasaran.  Mereka ingin tahu apa yang Coro lakukan bersama pemuda-pemuda kampung. Mereka ingin menangkap basah dan menghukum Coro jika ternyata Coro ikut-ikutan pesta pora dan macam-macam di pos ronda atau di pinggir jalan. Akhirnya selesai mengaji,  tepatnya pukul 20.30 mereka diam-diam membuntuti Coro. Berdasarkan keterangan warga, Coro kadang-kadang jalan keliling kampung, kadang ia menghampiri warga yang sedang juguran di pinggir jalan atau di teras rumah sekedar berbincang dan menghabiskan rokok sebatang,  lalu ia pergi ke pos ronda kampung sebelah. Mendapat jawaban tersebut mereka agak kurang senang sebab mereka tahu bahwa pos ronda kampung sebelah tempat nongkrong anak-anak nakal yang suka mabuk-mabukan. Segera mereka mempercepat langkah menuju tempat tersebut.  Tiba-tiba sekelompok anak kecil usia sekolah dasar berhambur dari arah sekitar pos ronda. Anak-anak kecil itu terlihat rapi memakai sarung dan peci. Dan yang anak perempuan terlihat cantik dan lucu mengenakan kudung. Saking penasarannya mereka mencegat segerombol malaikat-malaikat kecil itu. Habis ngaji sama mas kuncoro.

Pemandangan aneh mereka temukan di sekitar pos ronda. Rumah tua bergarasi luas yang lama tak berpenghuni kini mempunyai lampu yang terang. Terasnya di penuhi kursi-kursi dan meja seperti di kafe-kafe pinggir kota. Ruang tamu yang mempunyai banyak jendela kaca terlihat bersih terbuka. Dari luar, ruang tamu terlihat dipenuhi hiasan urban style dan lukisan. Berbeda dengan teras yang dihias dengan mural. Begitu didekati ternyata mural yang ada pada dinding teras seperti huruf arab. Itu adalah kaligrafi modern.

Semerbak aroma kopi yang sedap menelusup ke hidung mereka. Pandangan mereka menjelejah seluruh sisi depan rumah. Sambil terkagum-kagum dan setengah melongo. Mereka mendapati di samping teras dan ruang tamu itu ada ruangan yang tak kalah terang. Di gelari karpet dengan bangku-bangku yang catnya masih baru dan sebuah papan tulis lebar yang menampilkan pola huruf hijaiyah terputus-putus. Itu adalah garasi yang telah disulap menjadi ruangan mengaji. Mereka semakin takjub dengan garasi tua yang dihias dengan sederhana namun rapih itu.

“Ngopi dulu kang… gratis…” ucap seorang dengan ramah sambil membawa nampan berisi kopi racikan yang masih kemebul.

“Coro…!” Mereka yang shock dan hampir terkena serangan mental itu tersadar. Mereka segera menutup mulutnya yang melongo dan mengiyakan sambil manthuk-manthuk bingung.

Belum juga kopi disuguhkan, seorang laki-laki paruh baya datang diikuti dua pemuda dan di belakangnya menyusul satu pemuda membawa gitar. Laki-laki itu berkain sarung dan mengenakan kemeja rapi tanpa peci. Mereka berpenampilan hampir sama. Namun bedanya laki-laki yang paling depan itu lengan pendek kemejanya tak bisa menutupi tatonya.

“Assalamu’alaikum… Cor ! Alhamdulillah…, Akhirnya TPQ kita sebentar lagi jadi… pak Ikhlas, barusan mengirim material. Paling tidak tiga bulan lagi. Bagaimana, kawan-kawan pondokmu mau ikut bantu ngurus ini kan?”

Coro tersenyum dan mengangguk disusul dengan tawa mereka. Tiba-tiba pemuda bersarung pembawa gitar itu menggenjreng gitarnya dan … “ hahahaa.. jeng.. jeng.. Sirunilaili… jeng.. jeng..  Siiruu Linailil khoiri jami’an… jeng.. jeng..Ya hujjaaja baitillah…”  tiba-tiba mereka menyanyikan sholawat dengan aransemen reggae. Para santri pondok itu serempak memegang jidat mereka masing-masing, mereka baru sadar bahwa suara Coro ternyata begitu fasih makhrajnya dan suaranya terdengar seperti suara Haddad Alwi.

 

Dewandaru Ibrahim Senjahaji, lahir di Banyumas 03 juni 1994. Beberapa puisinya termaktub dalam antologi puisi Dari Negeri Poci 6 “Negeri Laut” (2015), “Matahari Cinta Samudra Kata” ( Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2016), Dari Negeri Poci 7 “Negeri Awan”. “Dari Sittwe ke Kuala Langsa”, “The First Drop of Rain” “Surabaya Memori”, “Rumah Penyair 3”, “Kampus Hijau”, “Kampus Hijau 2”, “Kampus Hijau 3”, “Pilar Puisi”, “Pilar Puisi 2”, “Pilar Puisi 3”, “Cahaya Tarbiyah”, “Nyanyian Rindu di Bumi Aksara”, “Aquarium & Delusi”, “Seberkas Cinta” dan lain sebagainya. Sekarang menjadi teman belajar anak-anak SMK 75 1 Purwokerto. tinggal di Desa Pasir Lor rt 03/02 kecamatan karang lewas kabupaten Bannyumas.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi[email protected] atau [email protected]

Terpopuler