Connect with us

Politik

Citra Anti Islam Masih Jadi Titik Lemah Calon Presiden Jokowi

Published

on

capres petahana, reuni 212, capres anti islam, capres pro islam, pangi syarwi chaniago, nusantaranews, nusantaranewsco, nusantara news, rezim anti islam, titik lemah jokowi, citra anti islam, sentimen anti islam

Presiden Jokowi saat mencoba produk dari startup Jasa Virtual Reality dan Augmented Reality SmartEye di Jakarta, Kamis (1/11). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaCitra anti Islam dinilai sebagai titik lemah calon presiden Jokowi untuk menghadapi pertarungan Pilpres 2019 mendatang. Citra tersebut semakin membesar setelah suksesnya pergelaran Reuni Akbar 2012 yang menghadirkan ratusan ribu, atau bahkan jutaan umat Islam dan masyarakat di pelataran Monas, Jakarta pada Minggu (2/12) lalu.

Patut diakui, selama ini Jokowi telah dicitrakan anti Islam selama kepemimpinannya sejak 2014 silam. Meskipun berkali-kali melakukan safari politik ke pondok pesantren di tanah air, citra tersebut tak kunjung luntur. Demikian pula dipilihnya cawapres Jokowi dari figur ulama, pun dinilai tak cukup mengikis citra negatif yang tampaknya sudah terlanjur melekat pada diri mantan walikota Solo.

“Citra rezim anti Islam dan tuduhan mengkriminalisasi ulama menjadi titik lemah Jokowi untuk kembali terulang pertarungan lama head to head antara Jokowi vs Prabowo dalam Pilpres 2019 mendatang,” kata pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Baca juga: Fahri Hamzah Komentari Pernyataan ‘Saya Bangga Sebagai Muslim Indonesia’ dari Prabowo di Reuni 212

Sadar akan citra negatif tersebut, Jokowi dan partai pengusungnya melakukan pendekatan yang intensif kepada simpul-simpul basis massa pemilih muslim. Kunjungan ke pesantren, kata Pangi, menjadi agenda rutin sang presiden dengan intensitas yang cukup tinggi untuk kembali meyakinkan para ulama dan kiai di pesantren bahwa pemerintahannya berpihak pada umat dan bukan anti Islam seperti yang dituduhkan selama ini.

“Salah satu bukti keberpihakan Jokowi terhadap umat, menit-menit terahir (last minute) Jokowi memutuskan memilih ulama yaitu Kiai Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden pendampingnya. Pilihan politik ini tentu punya motif yang sangat jelas, Jokowi ingin meredam sentimen anti Islam yang dicitrakan pada dirinya dan sekaligus merespon isu SARA yang dituduhkan selama ini,” papar Pangi.

Lantas apakah figur Kiai Ma’ruf Amin gagal atau berhasil dongkrak elektabilitas Jokowi di mata umat? “Saya mencermati Kiai Ma’ruf Amin yang diharapkan Jokowi mampu mengambil empati ceruk segmen pemilih muslim dianggap belum berhasil, belum menemukan isu dan momentumnya, kesimpulan yang tidak terlalu prematur,” jelasnya.

Sementara itu, politisi PKS Fahri Hamzah melalui akun sosial medianya menyatakan ada statemen kuat yang disampaikan Prabowo Subianto saat menghadiri Reuni 212 di Monas. Menurutnya, ada satu kalimat yang paling ditunggu-tunggu ribuan umat muslim dan masyarakat di kegiatan itu.

“Persis menjawab dugaan saya bahwa salah kalimat yang paling ditunggu dari Prabowo adalah ‘Saya Bangga Sebagai Muslim Indonesia’, yang menyelinap masuk dalam perasaan banyak orang. Kalimat ini maknanya dalam. Lalu beliau tutup dengan pekik takbir dan merdeka 3x!,” cuit Fahri.

Dia berpendapat, kalimat ‘Bangga Sebagai Muslim Indonesia‘ yang keluar dari Prabowo tidak saja seperti menutup seluruh rangkaian Reuni Akbar 212 di Monas tetapi juga menjawab seluruh pertanyaan apakah ada calon pemimpin Indonesia yang akan bangga dengan seluruh yang gelisah selama ini.

“Maka kalimat saya ‘Bangga Sebagai Muslim Indonesia adalah jawaban simbolik Prabowo atas semua keraguan dan pertanyaan yang hadir di Reuni Akbar 212 di Monas dan yang tidak hadir juga. Kalimat itu seperti ditunggu lama. Dan sekarang keluar begitu saja. Seperti memantapkan,” ujar wakil ketua DPR RI tersebut.

(eda/eda)

Editor: Almeiji Santoso

Advertisement
Advertisement

Terpopuler