Cita-cita Kemerdekaan Dinilai Tercegat Oleh Melebarnya Ketimpangan Ekonomi dan Kemiskinan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Posko Nasional Menangkan Pancasila kembali melakukan parade di Jakarta dan di beberapa daerah dalam rangka melakukan gerakan koreksi, dengan tujuan agar Pancasila betul-betul menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara, dan juga supaya Pancasila menjadi bintang arah bagi bangsa Indonesia dalam menyeberangi jembatan emas kemerdekaan, menuju Indonesia yang adil makmur, kuat serta mandiri.

Parade Menangkan Pancasila ini dilakukan pada Minggu (11/3/2018). “Bangsa kita dipersatukan bukan hanya oleh kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah, tetapi juga kesamaan cita-cita, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Sayang, janji kemerdekaan itu tercegat oleh melebarnya ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan mahalnya harga kebutuhan dasar,” ujar Koordinator Posko Nasional, Ahmad Rifai.

BACA JUGA: Ketimpangan Sosial di Indonesia Meningkat

Rifai menjelaskan tahun 2015, rasio gini Indonesia sempat menembus 0,42, yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah. Secara global, tingkat ketimpangan di Indonesia menempati peringkat keenam terburuk di dunia.

“Angka kemiskinan juga masih sangat tinggi. Jika merujuk pada ukuran Bank Dunia, atau ukuran 1,9 USD (setara Rp 775.200 per bulan), masih ada 70 juta rakyat Indonesia terjerembab dalam kemiskinan,” ungkapnya.

Kata Rifai, hari-hari ini rakyat juga dihadapkan dengan harga kebutuhan dasar yang makin mahal. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang, tempat tinggal, air bersih, pendidikan, hingga kesehatan. Mahalnya harga kebutuhan dasar itu disebabkan oleh pelepasan harga kebutuhan pokok pada mekanisme pasar, pencabutan subsidi sejumlah komoditas pokok (BBM, listrik, dan gas elpiji), dan privatisasi layanan publik (pendidikan dan kesehatan).

BACA JUGA: Potensi Ketimpangan di Indonesia Masuk Zona Merah

“Belum lagi, hingga hari ini penyelenggaraan negara belum berhasil menghadirkan kesetaraan semua warga negara, terutama kesetaraan gender. Tahun 2016, ada 259.160 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Di samping itu, perempuan juga belum menikmati kesetaraan ekonomi dan politik,” urainya.

Baca Juga:  Ekonom Konstitusi: Menyoal Kemandirian Ekonomi Bangsa

Sementara itu, Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono mengatakan melalui Parade Menangkan Pancasila ini pihaknya hendak mengingatkan penyelenggara negara, bahwa cita-cita kemerdekaan tidak mungkin terwujud jika masih ada ketimpangan dan kemiskinan. Persatuan nasional akan rapuh jika tidak berbasiskan pada kesejahteraan sosial. Kebangsaan kita akan absurd jika tidak ada kesetaraan gender.

BACA JUGA: Kekayaan 4 Orang Indonesia Setara Dengan 100 Juta Penduduk

“Untuk mewujukan kesejahteraan sosial, negara harus memperkuat ekonomi nasional, dengan jalan: pertama, membangun kedaulatan pangan melalui penguatan pertanian dalam Negeri, dan kedua, membangun industrialisasi nasional yang kuat dan mandiri dengan bertumpu pada Negara/BUMN, swasta nasional, UMKM/koperasi,”kata Agus Jabo. (red)

Editor: Eriec Dieda