Connect with us

Budaya / Seni

Cinta Setelah Kematian – Cerpen A. Warits Rovi

Published

on

Makhfoed (Surabaya), Perjalanan 419, 150 x 190 cm, oil on canvas, 2008/Istimewa
Makhfoed (Surabaya), Perjalanan 419, 150 x 190 cm, oil on canvas, 2008/Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Linda, ini cabang ranting kendung kurus yang kerap disisir angin. Bergoyang-goyang di samping ratusan batu nisan pemakaman Ra’as. Di sinilah aku bermukim, bergantung ringan di ranting itu karena tubuhku telah bebas dari hukum gravitasi. Aku sudah jadi hantu dengan sandang tiga helai kafan yang lusuh dan robek.

Rambutku awut, harum kemenyan, melilit hingga ke kaki. Beruntung spektrum penglihatan manusia tak bisa menjangkau keberadaanku, sehingga mereka bebas lalu-lalang berjalan di bawahku. Tak jarang, kujaili mereka dengan tiupan angin, cekikikan, bisik-bisik atau rimbun kendung kugoyang-goyang. Sebagian mereka tidak takut dan sebagian yang lain lari tunggang-langgang dengan sekarung cerita tentang hantu.

Di ranting ini aku meniti waktu tanpa tercatat petugas sensus. Hujan dan terik matahari sudah tak memengaruhi kehidupanku. Sebenarnya tak satu pun di dunia yang bisa memengaruhiku lagi, selain hanya dirimu, Linda.

Ketahuilah, setiap kau dan suamimu melintasi jalan raya di samping pemakaman Ra’as ini dengan mobil mewah, ingin sekali kukenakan celana dan baju kebanggaanku. Ingin sekali kutumpahi rambutku dengan minyak dan kusisir serapi mungkin. Lalu parfum wangi maskulin ingin kusemprotkan ke seluruh tubuh. Aku ingin tampil keren di hadapanmu seperti dulu. Tapi, tangisku yang tak lagi berair mata seketika pecah. Isakku melenggang ke datar langit. Peristiwa tiga tahun silam kembali menyemai kenangan getir di dalam dada.

Sore itu kabut putih pecah di ubun Kota Sumenep. Matahari berkilau, cerlang, seolah telur cahaya menembus tubuh langit. Mengiringi kayuh sepeda kita hingga di persimpangan Marengan. Kau tersenyum dan mengedipkan sebelah mata kepadaku, sebelum akhirnya pergi. Melambai-lambaikan tangan. Ujung jilbabmu berombak diterpa angin. Sepedamu mulai menjauh, terkayuh di antara rumput teki dan bebatuan. Sejenak lalu berhenti. Kau menoleh ke arahku.

“Jangan lupa, sayang. Besok lusa kita makan pentol di Warung Toraja,” suaramu lengking.

“Iya, sayang. Itu pasti,” jawabku dengan suara nyaring dan dadaku serasa dijatuhi bulan emas. Kau mengayuh pedal lagi. Lalu kau lenyap di tikungan menjadi bayang kerinduan.

Tapi keesokan harinya kau menyampaikan kabar getir lewat telepon. Ayahmu melarang keluar rumah. Pintu-pintu dikunci. Di pintu pagar rumahmu dua satpam tekun berjaga dari pagi sampai malam. Intinya, kau sebagai anak orang kaya tak boleh menjalin kasih denganku yang miskin.

Baca Juga:  Sketsa Kenangan – Cerpen Aziz AS Syah

Beruntung kau masih cerdik menyembunyikan telepon genggam di bawah kasur. Tapi hanya dua hari kau berbagi kabar lewat telepon. Hari sesudah itu kau tak meneleponku lagi. Ketika kuhubungi nomormu sudah tak aktif. Dadaku teriris renyuh, air mata kutahan, kuabai jadi rasa sakit yang menikam-nikam perasaan.

Seribu bayangan dan kemungkinan berkelebat dalam kepala. Aku menduga kau sudah dinikahkan dengan orang kaya, atau mungkin kau sudah mati dibunuh lantaran bersikukuh mempertahankan cintamu kepadaku. Aku jatuh sakit, dan itu bagian dari sebuah kewajaran bagi seorang pecinta. Itulah sebabnya aku tak takut lagi pada jarum suntik dan lilitan selang infus yang meneteskan glukosa. Kala itu aku bahagia bisa sakit karenamu.

Di hari keenam sejak aku terbaring di rumah sakit. Sebuah kabar melesak ke lubang telinga. Katanya kau sudah menikah dengan anak seorang pengusaha tambak garam. Pesta pernikahanmu tujuh hari tujuh malam. Lalu kau menikmati bulan madu ke Singapura melalui jalur laut. Merayakan segala kesenangan di atas kapal mewah. Aku membayangkan bunga keperawananmu pecah di sana. Ah. Aku semakin dihantam rasa sakit yang sangat dahsyat. Hingga tiba pagi yang cerah, ketika hanya ayah dan ibu menunduk di sampingku, membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Sayap-sayap Azrail menggetar gorden. Kemasan sachet dan kaleng obat berjatuhan ke lantai. Aku menggigil. Tubuhku beku. Lalu Azrail membawaku ke sebuah kesenyapan. Saat itu aku bahagia bisa mati karenamu.

Sudahlah, Linda. Tak perlu kuceritakan lagi kematianku yang disebabkan karena terlalu jatuh cinta kepadamu, sebab ternyata cintaku masih kekal dan mampu menyeberangi kematian, bertahan hingga kini. Aku si hantu santun yang setia menunggumu di ranting kendung ini. Yakinlah, kematian adalah pintu pasti bagi manusia untuk kembali pada muasal, di mana diri tak berhubungan lagi dengan harta benda.

***

Kecelakaan tiga hari lalu adalah garis terakhir bagi hayatmu di dunia. Mobil suamimu yang ditumpangi seluruh anggota keluargamu berguling bebas ke dalam jurang sedalam lima meter setelah sebelumnya bersenggolan dengan truk kontainer di sebuah lereng gunung di Kabupaten Jember. Siapa pun tak ada yang menduga kalau rekreasi keluargamu ternyata berbuntut maut. Suami, anak, ibu dan adikmu mengalami luka parah, sedang kau dan ayahmu dijemput Azrail menuju tempat yang senyap.

Baca Juga:  Cerpen: Seorang Gadis yang Tinggal di Negeri Mimpi

Di secabang ranting kendung yang kurus ini, angin masih menggesek-gesek pelan. Tubuhku bergoyang-goyang lebih ringan dari gelantung kepompong menjelang waktu tetas. Kafanku berkibar di bagian ujung, dua senti dari sobekan silang yang kusut dengan warna cokelat tua karena rapuh dimakan waktu.

Tentu kau dan ayahmu sebagai warga baru di pemakaman ini tak membawa sisir bagi rambutku yang awut. Tapi aku tetap bahagia, karena tak melulu mengendus wangi kemenyan di tubuhku. Kini ada wangi baru dari kelopak bunga yang bertebar di atas makammu yang baru. Berjarak setengah meter di sebelah makammu, ada makam ayahmu yang juga penuh taburan bunga, wanginya melapisi udara.

Makammu dan makam ayahmu terlihat seperti pengantin, sepasang yang membujur dengan linggis kesenyapan. Di tengah-tengah sepasang batu kijing, tampak sebuah kendi yang moncongnya lembap meruapkan wangi pandan. Wangi itulah yang mengalahkan bau tanah. Beberapa orang datang bermuka muram. Ada yang mengaji, ada yang hanya tertunduk sambil memegang batu kijing, yang kurang ajar malah hanya bergurau di sisi makammu. Mungkin mereka mengira kematian hanya urusan gampang.

Kau beraut sedih. Duduk pada tonggak kayu. Rambutmu acak terurai menyentuh kafan putih yang sobek. Sejenak kau amati seluruh tubuhmu. Mungkin kau keheranan ketika melihat selangkangmu yang hancur saat kecelakaan tiba-tiba tak terasa sakit. Kau juga sadar ketika menyingkap kafan, dadamu bolong karena tertusuk bambu saat kecelakaan. Kau bisa melihat jantung dan paru-parumu dari bagian yang bolong itu. Kau seharusnya menjerit keras menahan rasa sakit, tapi ternyata tak sakit.

Ayahmu bersandar batu besar yang teronggok di tepi timur pemakaman. Meraba-raba batok kepalanya yang pecah. Tak ada lelehan darah di setiap pecahannya, otaknya yang putih dan lembek, enteng ia jumpu-jumput dengan jemarinya. Mestinya ayahmu menjerit kesakitan. Tapi ternyata tidak.

Kau lalu berdiri dan melangkah ke arah ayahmu. Tapi kau terkejut setelah sadar kakimu tak menyentuh tanah saat kau berjalan. Kau merasa tubuhmu seringan angin. Hanya dalam sekejap kau sudah berpelukan dengan ayahmu. Menangis tanpa air mata.

Baca Juga:  Dilema Sang Putri Raja – Cerpen Luhur Satya Pambudi

Segera aku turun, lepas dari secabang ranting kendung. Menujumu.

“Selamat datang di alam ini, Linda,” sapa pertamaku untukmu. Suaraku masih terasa mendayu saat menyebut namamu. Suaraku tak bisa berbohong kalau ia dipengaruhi oleh rasa cinta yang dalam, seperti dulu ketika kita masih di dunia. Kau melepas pelukan.

Kau dan ayahmu sama-sama mendongak, menatap wajahku. Sembari membangkitkan kenangan masa silam. Dan ayahmu tak segarang dulu, matanya tampak dingin dan beku, barangkali kerakusannya tertinggal di dunia atau ia sudah sadar bahwa harta tak bisa ikut ke alam barzah ini setelah sebelumnya harta tak bisa menyelamatkan kalian dari maut.

“Linda, dulu cinta kita dipisah kelas sosial. Kau kaya dan aku miskin. Di alam ini sudah tidak ada lagi si kaya dan si miskin. Semua sama, hanya punya kain kafan. Maka terimalah cintaku padamu, Linda. Lama aku mempertahankannya dalam hati. Terimalah cintaku ini! Meski kita sudah tak punya berahi dan kelamin kita tak berguna lagi,” suaraku serupa rayu. Kau membisu.

Gapura, 22.04.16

A Warits Rovi

A Warits Rovi

*A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, basabasi.co, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post, Haluan Padang , Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang,  Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak dan beberapa media online. Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit ”Hilal Berkabut” (Adab Press, 2013). Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. email: [email protected]. Phone 081934928777.

Loading...

Terpopuler