Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu, Kisah Inspiratif Penyejuk Hati

Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu, Kisah Inspiratif Penyejuk Hati. (Ilustrasi/Nusantaranews)
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu, Kisah Inspiratif Penyejuk Hati. (Ilustrasi/Nusantaranews)

Judul Buku : Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu
Penulis : Bunda Novi
Penerbit : Qibla
Cetakan : I, 2017
Tebal : x + 230 Halaman
ISBN : 978-602-394-669-3
Oleh : M Ivan Aulia Rokhman*

NUSANTARANEWS.CO – Buku “Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu” ini mengisahkan tentang pengalaman penulis yang akan menghadapi segala tantangan, dan ujian yang diraih oleh kehidupan. Beberapa kisah ini dapat menyentuh begitu melekat hati pada pembaca selalu mewarnai renungan sambil menggores air mata setelah membaca buku ini. Melalui sebuah kisah inspiratif ini bertujuan agar senantiasa dapat memetik hikmah bahwa Islam sangat beruntung demi meraih kebahagiaan terhadap Allah Swt.

Alasan menarik dari judul ini bukan sebab. Karena memaknai rasa manis dari kopi yang ia seduh dan rasa pahit dari susu yang ia nikmati dapat memperoleh rasa nikmat terhadap apa yang telah dicicipi dan menemukan solusi terbaik bagi kehidupan berkeluarga. Kebanyakan kisah ini merupakan catatan harian yang ditulis dalam berbagai perspektif kehidupan berkeluarga. Oleh karena itu saya akan membedah dari hasil kisah yang dibaca dalam buku ini.

Cintanya berubah menjadi rindu yang mengelana dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya pun luluh lantak didera rindu, hingga berakhir pada kematian. Kematian yang indah. Sang pemuda terenyak, mendengar sang gadis telah pergi mendahuluinya. Seolah mimpi buruk, gadisnya telah pergi dengan membawa cintanya. Saat ini, hanya kuburan sang gadis tempat ia mencurahkan rindu dan doa-doanya. Suatu saat, ia tertidur di atas kuburan gadisnya (hal 4).

Kisah pertama dibuka saat menemui cinta yang melekat pria tapi melepas hubungan hati lalu dibawakan ke Kuburan untuk menjemput mimpi yang begitu tersentuh. Cinta tidak hanya merayu nafsu, melainkan cinta bekerja secara sendiri. sesuai kriteria cinta bisa dinilai dari sisi kelayakan, dan aktivitas ibadah yang terbaik untuk mempersiapkan pendidikan bagi anak.

Baca Juga:  Rakernas TRB Hasilkan Beberapa Poin, Maman Minta Relawan Jokowi Militan

Dalam kisahnya aktivitas sebagai bunda hanya makan dan beribadah, ia kerap merawat anak demi melayani setulus hati. Keteladanan bunda memang sangat berat tak membuat patah semangat. Dalam sebuah jalinan persaudaraan karena-Nya, sepatutnya kita open your heart, open your mind terhadap hal ini. Tak selayaknya kita menyimpan sakit hati berkepanjangan, bahkan bisa menjadi dendam sekalipun. Memaafkan, dimaafkan hendaknya dilakukan dengan penuh ketulusan. Bukan keterpaksaan (hal 100).

Beberapa kesalahan yang dialami Ibu dengan anak bermacam-macam. Saat kecil melatih berjalan, bergerak, berdiri, sampai bisa. Merawat anak penuh telaten lalu selalu berkembangbiakan menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Di usia sekolah, para bunda selalu mengantarkan serta menjemput anak di sekolah. Selalu banyak kesalahan yang menimpa anak terhadap bunda. Hati bukan sekadar main-main, tetapi bisa melatih kesabaran terus-menerus hingga membesarkan anak. Jadi peran Bunda dalam mendidik anak senantiasa berproses hingga bisa menumbuhkan tanggung jawab bila menginjak usia remaja.

Seandainya orang-orang dewasa seperti kita mau membuka diri untuk belajar kepada anak-anak tentang makna memaafkan. Barangkali di dunia ini tak akan ada yang namanya peperangan, saling bermusuhan, bahkan menyimpan perasan dendam. Belajar memaafkan kadang bukan hal mudah yang bisa dengan mudah kita lakukan. Namun, dengan hati lapang dan penuh ketulusan untuk memaafkan kadang bukan hal yang mudah yang bisa dengan mudah kita lakukan. Namun, dengan hati lapang dan penuh ketulusan untuk memaafkan setiap kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita, itulah hal mendasar yang akan membuat kita lebih dewasa memahami karakter setiap orang dalam berinteraksi dengan sesama. Yakinlah, bahwa siapa yang mudah memberikan maaf, maka ia akan diberi maaf oleh orang lain (hal 107).

Baca Juga:  Tangkal Paham Radikalisme Melalui Seni dan Budaya

Kisah ini ditutup dengan belajar memaafkan. Selama ini kesalahan yang selama ini melampui hubungan, emosional, dan mendidik kadang menilai menumbuhkan rasa perlawanan hingga berujung kekerasan. Sekali-kali memaafkan rasa amarah akan semakin hilang, hingga berubah jadi taubat.

*M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.