Connect with us

Ekonomi

Cina Tak Terima Program One Belt One Road Disebut Jebakan Utang

Published

on

proyek china, malaysia hapus proyek cina, belt and road, proyek obor, obor cina, mahathir hapus proyek cina, utang malaysia, proyek besar obor cina, nusantaranews

Jalur sutera abad 21 Cina (Obe Belt One Road Initiative China). (Foto: Ist)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Cina tidak terima Program One Belt One Road (OBOR) atau Jalur Sutera modern yang sedang mereka jalankan disebut sebagai ‘alat geopolitik’ atau jebakan utang bagi negara yang ikut serta dalam proyek tersebut.

Mereka memberika bantahan atas tudingan banyak negara barat, salah satunya AS yang memandang program tersebut sebagai sarana Cina menjebak negara-negara miskin.

Anggota Dewan Negara Tiongkok Wang Yi mengatakan Program OBOR justru digagas untuk memberikan manfaat kepada negara yang berpartisipasi. Program tersebut ia klaim telah membawa manfaat nyata bagi negara-negara yang berpartisipasi.

“Hubungan kemitraan ini bukan alat geopolitik, tetapi platform untuk kerja sama. Anda tidak dapat menyebut program ini sebagai jebakan utang,” katanya kepada wartawan seperti dilansir dari Reuters, Jumat (19/4/2019).

OBOR yang merupakan gagasan Presiden Cina Xi Jinping dijalankan untuk menghidupkan kembali Jalan Sutera lama yang menghubungkan Cina dengan Asia, Eropa dan sekitarnya.

Loading...

Dengan adanya OBOR diharapkan kegiatan perdagangan bisa berjalan dengan lancar. Tapi, oleh negara barat, salah satunya Amerika Serikat, program tersebut dipandang sinis. Mereka curiga bahwa program tersebut dijalankan untuk menyebarkan pengaruh China di luar negeri.

Selain itu, program dijalankan untuk menjebak negara miskin yang mengikuti program tersebut dengan jeratan utang. Atas kritik tersebut, AS kata juru bicara Departemen Luar Negeri mereka awal bulan ini menyatakan tidak akan mengirimkan pejabat tingkat tinggi mereka untuk hadir dalam KTT Belt and Road pekan depan.

Padahal, rencananya KTT akan dihadiri 37 negara. AS menyatakan hanya akan mengirimkan perwakilan tingkat rendah mereka di KTT tersebut.

Baca Juga:  Robert B Neller: Korps Marinir AS Percepat Modernisasi Alutsista

Wang mengatakan akan ada orang Amerika di KTT tersebut yang terdiri dari para diplomat, pejabat tingkat negara bagian, eksekutif dan akademisi. Namun ia tidak memberikan perincian.

“Kami menyambut negara mana saja yang tertarik untuk mengambil bagian. Ketika Amerika Serikat berpartisipasi, atau apakah itu berpartisipasi, terserah mereka untuk memutuskan,” tegas Wang dilansir dari CNN Indonesia. (mys/nn)

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler