MancanegaraPolitik

Cina Menjadi Aktor Utama di Kawasan Timur Tengah

NUSANTARANEWS.CO – Minggu lalu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas melawat ke Cina dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping, untuk membahas solusi konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai.

Selama pembicaraan dengan Xi, Abbas sangat mengharapkan bahwa Cina dapat memainkan peran lebih besar dalam upaya perdamaian di Timur Tengah. Xi pun dengan tegas menyatakan dukungan dan berkomitmen untuk mendorong terhadap solusi dua negara. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Xi juga mengusulkan agar mengadakan dialog trilateral, yang melibatkan Cina, Palestina dan Israel untuk mencari solusi damai di wilayah tersebut.

Beberapa tahun belakangan ini secara bertahap memang Cina mulai terlihat meningkatkan peranannya di kawasan Timur Tengah – sebuah wilayah yang sebagian besar di dominasi oleh AS sejak pecah Perang Dingin (Cold War) antara AS dan US. Keterlibatan Beijing dalam upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel mencerminkan adanya perubahan besar dalam kebijakan politik luar negeri Cina – yang juga merupakan cerminan dari politik dalam negeri Cina.

Baca Juga:  Kemendagri Tegaskan Pj Gubernur Aceh Bukan Perwira TNI Aktif

Baca: Mencermati Runtuhnya Pax Americana

Jadi tidak mengherankan bila dalam beberapa tahun terakhir Cina terus berupaya menunjukkan dirinya sebagai aktor utama di arena global. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menjalankan diplomasi perdamaian di kawasan Timur Tengah – menggantikan peran AS sebagai aktor utama di kawasan yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan pengaruh global Cina.

Apalagi sebagai anggota Dewan Keamanan PBB dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, Cina jelas memiliki pengaruh besar untuk menjalankan berbagai inisiatif guna menemukan solusi damai dalam konflik Palestina-Israel. Diplomasi perdamaian Cina dalam upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel adalah sebuah contoh bagi negara-negara regional lainnya.

Cina sendiri menyadari bahwa Timur Tengah terlalu penting untuk dilepaskan. Bila hal itu terjadi, jelas sangat mengancam kepentingan nasionalnya, khususnya pasokan energi. Sebagai informasi bahwa dalam satu dekade terakhir, para produsen minyak dunia secara strategis mulai menggeser rute perdagangannya ke Timur. Terutama mengingat impor minyak AS yang turun dari 10 juta bph menjadi 7,2 juta bph – sebaliknya impor minyak mentah Cina naik secara signifikan menjadi 7,4 juta bph.

Baca Juga:  Presiden Rusia Vladimir Putin Mendarat di Ibu Kota Iran

Sementara aktor utama lainnya Rusia telah terjebak dalam perang sipil di Suriah. Sehingga Rusia dianggap sudah tidak netral dan sukar untuk  bisa dipercaya lagi oleh kaum Sunni di kawasan Timur Tengah.

Dengan demikian AS dan Rusia telah berpihak kepada masing-masing kelompok yang bertikai dan tidak mampu lagi menjaga keseimbangan antara Iran dan Arab Saudi. Disinilah peluang Cina untuk mengambil peran strategi mengisi kekosongan sebagai aktor utama di kawasan Timur Tengah.

Meski AS telah mengurangi pengaruh ekonominya, namun AS tetap mempertahankan kehadiran militernya di kawasan. Sementara Cina sebagai kekuatan ekonomi baru juga membutuhkan destinasi baru untuk investasi. Sehingga memperkuat posisi Cina di kawasan di mana negara-negara Timur Tengah akhirnya harus mengubah kebijakan luar negeri mereka dari AS menuju Cina.

Baca: Strategi Baru Cina di Timur Tengah

Sehingga kehadiran Cina yang mulai memainkan peran sebagai aktor utama di kawasan telah mendorong negara-negara Timur Tengah untuk melakukan orientasi ulang kebijakan luar negeri mereka. Negara-negara Timur Tengah sadar bahwa mereka bisa “memainkan kartu Cina” untuk menaikkan daya tawar mereka terhadap AS dan Eropa. Paling tidak mereka bisa menarik keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri.

Baca Juga:  Tak Kunjung Deklarasi, Inilah Penyebab Elektabilitas Airlangga Hartarto Tak Kunjung Naik di Jatim

Penulis: Agus Setiawan
Editor: Romandhon

Related Posts

1 of 2.165