Connect with us

Budaya / Seni

Cermin Tidur, Kau yang Mencuri Siangku

Published

on

Lukisan Surealis: Dua Dimensi (Ilustrasi). Foto: Chiangrai

Puisi Puput Amiranti

KAU YANG MENCURI SIANGKU

 

kau yang mencuri siangku,

jika kata di atas kupu

dan engkau menggambar kelelawar

Loading...

 

jadi batu

dan taruhan,

 

kau yang mencuri siangku

dan waktu berhenti

menggelisir sunyi

jadi badak

dan taruhan

sungai yang mengasing di benak

 

kau yang mencuri siangku

harapan sehitam sayap

kupu, jadi kayu

mawar melayu mendadak

 

kau yang membolak balik hujung sutra,

pada pangkal pelangi, pepola hujan

sore dan asam

mendung tiruan

pada halaman yang sama

 

kau yang mencuri siangku

 

Blitar, Juni 2016

 

CERMIN TIDUR

mimpi yang menuju buih

kalimat harap tak berkesudahan

seperti temaram, senja lupa pada rumah

menyimpan penuh mitos, gadis berkucir

dan desing bambu

kemana dan hendakkah kan kau pergi?

 

krak, krak gairah itu, entah kapan datangnya

memburu waktu paling luka

muslihat atau niscaya

 

jadi sembul penghujung doa

 

kala gelap hanya lamunan

siang bicara bayangan

 

dari yang asali

bunga bukanlah batu

bukan bubur yang ngelindur

 

tak perlu kau sesali

Blitar, Juni 2016

Puput Amiranti, dengan nama lengkap Puput Amiranti Nugrahaningrum. Lahir di Jember, 24 April1982. Lebih banyak menghabiskan waktunya di pedalaman Kabupaten Blitar dengan menjadi guru dan pembina teater di sebuah sekolah di sana.

Alumnus Sastra Inggris Unair ini, karya-karya puisinya sempat dimuat di pelbagai media cetak, online, dan radio, yakni: Surabaya News, Surabaya Post, Surya, Jawa Pos, Media Indonesia, Aksara, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Jurnal Perempuan, Majalah Bende (Taman Budaya Jawa Timur), Kidung, Jurnal Sajak Edisi 3, Radar Banjarmasin, Harian Rakyat Sultra, juga menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa) dan termuat di majalah Jayabaya dan termuat di antologi Pasewakan (Konggres Sastra Jawa III, 2011). Media online Indonesia-Australia, AIAA News dan dibacakan di radio Indonesia-Jerman, Deutsche-Welle (Januari, 2004). Selengkapnya, Baca: Puput Amiranti.

Baca Juga:  Tongkat Sakti Ayahku dan Sendal Butut Ibuku

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler