Connect with us

Budaya / Seni

Cenilah – Cerpen Dee Hwang

Published

on

Lukisan Yusuf Hasyim, Masjid dan Rumah, dijual 3jt/Source: via kwai-antique

NUSANTARANEWS.CO – Wak Bari berkacak pinggang. Di depan cermin berukuran empat kali telapak tangan kanannya itu, ada tiga hal yang biasa ia lakukan bila selesai mandi petang. Pertama, sarung dilipatnya demikian rapi hingga tak nampak kusut sama sekali. Kedua, rambut disisirnya dengan jari; padahal senecis apapun belahan tetap akan tertutupi dengan kopiah hitamnya. Ketiga, diendusnya kedua ketiak badannya dimana aroma sabun dianggap-anggapnya wangi ambergris atau kesturi; meski ia tak tahu bagaimana nian wangi parfum kesenangan Rasulullah tersebut, yang penting bau badannya hari ini cukup menenangkan hati.

Aman!

Selain karena ia tak ingin Jemaah menaruh perhatian pada gerakan sholatnya yang memang lamban nian, yang salah-salah, lama berdoa dalam sujud sebelum

tasyahud akhir pun dapat disangka sudah mati, ia memang cukup khawatir tentang hal terakhir tadi. Ia sering mendengar bahwa semakin berumur manusia, maka semakin badannya berbau seperti tanah.

Istrinya pun, yang tak mau lagi tidur seranjang dengannya sering mengeluh karena aroma lelaki itu persis seperti guling berisi randu-randu tua, yang kalau basah berbau embal dan bikin bersin! Padahal syukur-syukur pula, bila aroma barus yang sengaja istrinya selipkan di dalam lemari pakaian dan membauri baju putihnya itu tak muncul ke permukaan.

Loading...

Intinya, Wak Bari tak ingin jemaah dalam satu shafnya nanti, apalagi dari golongan anak muda yang terkenal pandai berkomentar di masa sekarang, tak khusuk beribadah lantaran bau badan Wak Bari pula.

Maka, dengan seulas senyum yang ia tampilkan di cermin itu, dimantapkan sudah persiapan untuk menuju ke sebuah mushola ini; mushola yang letaknya hanya sekali belok jalan dari tempat tinggalnya. Di sana, Bila rampung melaksanakan shalat magrib, ia akan menggulir butir-butir tasbih sambil menunggu waktu isya. Bila rampung melaksanakan shalat isya, ia akan bertadarus bersama atau merampungkan bacaan zikirnya sampai selesai benar. Bila sudah, barulah ia pulang bersama para jemaah yang beraktivitas sama seperti dirinya.

Baca Juga:  Sentop dan Hujan Ular - Cerpen Ruly R

***

Wak Bari tahu persis bahwa manusia bisa mati kapan pun Tuhan mau, sementara manusia tak punya kemampuan tawar menawar dengan pencabut nyawa. Sehingga, patut kalau manusia rajin bertandang ke rumah Tuhan untuk menabung amalan-amalan yang dapat menolongnya kelak. Begitu pula dengan dirinya, meski ketika sampai di mushola itu, pemandangan yang ia temui tetaplah sama.

Mushola ini hanya ramai ketika memasuki bulan ramadhan, atau ketika ada seseorang yang meninggal dan harus disholatkan saja. Untuk hari-hari biasa seperti sekarang, yang datang ke sini jumlahnya dapat dihitung jari. Hanya cukup dua baris saja. Ada Arsyad, Zul, Halim, Amir, Hasan dan Husin; dua saudara kembar yang sama berumur seperti dirinya. Ada pula ustaz Sumir yang selalu menjadi imam dan tujuh lelaki muda yang memainkan handphone di batas suci. Wak Bari menggeleng. Pokoknya, nanti ia akan memerintahkan mereka untuk mendaraskan qur’an dengan pengeras suara setelah menyelesaikan shalat isya nanti!

Wak Bari tak menghiraukan kasak-kusuk mereka, yang bisa saja membicarakan betapa orang tua itu rabun penglihatannya karena hampir-hampir ia terjengkal oleh undakan pada batas suci itu. Maka untuk menyelamatkan nama, Wak Bari bergas menegakkan badannya meski tahu itu harus dilakukan dengan susah payah. Beberapa anak terkekeh melihat tingkah laku lelaki itu, yang lain beristigfar, sisanya menabik sambil menjulurkan tangan.

Dengan alasan hendak bersegera mengambil wudhu, Wak Bari membalas tabik itu dengan anggukan saja. Pun, dilemparnya nasihat agar mereka segera masuk ke dalam mushola dan menyiapkan diri. Wak Bari pun ingin menempati baris terdepan agar ibadahnya lebih mantap, karena tak tertinggal dari imam perihal gerakan. Pahamlah kau, bahwa selain rabun dekat, lelaki itu juga mengalami penurunan dalam hal pendengaran.

Baca Juga:  Cerpen Shari Cinintya Lestari

Tidak semua orang gampang menerima nasihat. Apalagi, bila ilmu tentang bagaimana menyampaikan nasihat kepada orang muda belum dikuasai benar. Ada pendekatan tertentu yang tidak lagi menggunakan cubitan, pukulan, sindiran yang berlaku hanya untuk zaman dahulu. Tentu saja anak-anak muda itu akan mengambil tempat untuk beribadah nanti. Namun akhirnya tak ada yang sudi untuk berdiri satu baris dengan Wak Bari. Mereka dongkol. Mereka mengorbankan orang-orang tua untuk menempati shaf depan alih-alih hormat kepada mereka yang lebih tua. Untuk berbarengan, mengangkat tangan menyusul takbir sang imam.

Tidak ada yang menyukai lelaki bau tanah itu. Ia selalu merasa benar dengan nasihat-nasihatnya. Meski tidak ada yang salah dengan isi nasihat itu, namun siapa yang senang dipermalukan di depan orang-orang? Kesombongannya untuk membalas salam tadi hanya nukilan kecil atas apa yang membuat orang-orang di kelurahan itu sebal kepada dirinya. Ia bahkan pernah menjerkah ustaz Sumir; mengatainya pandir di tengah khotbah jumat perkara terpeleset menyebut nama ayat. Padahal, usia Ustaz Sumir lebih tua dibanding Wak Bari, dan siapa pun tahu kehilangan gigi membuat Ustaz Sumir berlidah cadel.

***

“Kalian kan yang ambil cenilah aku. Anak muda zaman sekarang sungguh tak tahu aturan! Katakanlah. Kalian dendam karena aku tegur tadi?!” Wak Bari meneriaki mereka yang usai membacakan alquran. Suara Wak Bari yang marah-marah dari depan pintu masuk itu turut masuk ke dalam pengeras suara. Kini, bukan hanya orang-orang yang ada di mushola terkanjat, namun seluruh warga di kampung memberi perhatian.

Wak Bari naik pitam. Usai melaksanakan tadarus bersama mereka, bukannya tentram hatinya, ia malah merasa kehilangan. Cenilah lily mereknya, berwarna emas, terbuat dari plastik dan anti putus itu hanya ia pakai di waktu-waktu istimewa; pergi ke mushola, ke hajatan kalau diundang, sampai hari-hari raya. Cenilah istimewa bergaya jadul, yang ditandai dengan sebuah paku payung di bagian mukanya.

Baca Juga:  Ruang Yang Gelap

“Jangan berburuk sangka. Mungkin kau lupa meletakkannya dimana.” Ustaz Sumir menenangkan. Seharusnya, ia sudah bisa pulang dengan tenang seperti jemaah yang lain, namun kini celingak celinguk ia mencari benda itu pula; di dalam beduk, di tempat rak-rak alas kaki, diperintahkannya pula anak-anak muda yang kena segak memeriksa di bagian dalam mushola.

Ketujuh anak muda itu bersikut lengan. Mereka bingung bagaimana cara mengatakannya. Sebenarnya bukan mereka yang menyembunyikan benda itu meski mereka memang tak suka pada Wak Bari yang rongseng sikapnya. Selain itu, mereka sama sekali tidak membicarakan betapa rabun penglihatan lelaki itu tadi. Mereka bingung bagaimana menyampaikan bahwa pembicaraan sebelumnya adalah tentang betapa pikunnya Wak Bari sekarang. Sebenarnya, Wak Bari berjalan bertelanjang kaki waktu ke mushola tadi.

Dee Hwang/Foto nusantaranews

Dee Hwang/Foto nusantaranews

*Dee Hwang, Kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 9 September 1991. Lulusan FKIP Biologi Universitas Sriwijaya (UNSRI) 2009. Saat ini aktif menekuni dunia musik sebagai pemain Biola di Violinist SAMS Chamber Orchestra Yogyakarta. Hp: 085268945050, Email : dee_hwang@yahoo.com

___________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim ke email: redaksi@nusantaranews.co / cc : selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler