KolomOpiniRubrika

Catatan Banal terhadap Tulisan, “Revolusi Artificial Intelligence dan Rekayasa Makhluk Posthuman” 

Catatan Banal terhadap Tulisan “Revolusi Artificial Intelligence
Catatan Banal terhadap Tulisan “Revolusi Artificial Intelligence
Catatan Banal terhadap Tulisan, “Revolusi Artificial Intelligence dan Rekayasa Makhluk Posthuman”  yang membangunkan pikiran melayang jauh ke masa depan pada suatu masa yang sulit dilukiskan
Oleh: B. Parmanto

                                                   

Membaca “Tulisan Revolusi Artificial Intelligence dan Rekaya Makhluk Posthuman-nya Sdr. Agus Setiawan”, dari judulnya saja dapat dikatakan dengan jelas bahwa arah Revolusi Artificial Intelligence (AI) menuju terbentuknya Posthuman (H+)

Kata revolusi dari frasa Revolusi Artificial Intelligence membangunkan pikiran melayang jauh ke masa depan pada suatu masa yang sulit dilukiskan dan dibayangkan di mana mendaratnya, yang ujung-ujungnya sampailah pada terminal sementara yang dikonotasikan sebagai suatu “Fiksi”. Andaikan fiksi dimasud dapat menjadi fakta dalam dunia nyata, kiranya tentu berdampak besar dan luas pada kehidupan masyarakat manusia dan dunia lingkungan hidup sosial, budaya, ekonomi, politik, psikhologi dan mental. Sebaliknya apabila tidak mungkin menjadi kenyataan, akibatnya pun tidak jauh berbeda apabila fiksi tersebut dapat menjadi kenyataan dalam dunia nyata, karena setiap revolusi, berhasil atau pun gagal tentu membawa dampak ikutan yang menjungkir-balikkan nilai-nilai kehiidupan dunia manusia berserta lingkungan hidupnya. Namun apa pun yang terjadi, yang pasti fiksi tersebut telah mampu memicu mempercepat dinamika berkembangnya AI dengan segala konotasi teknologinya melalui para ahlinya yang laju berselancar menunggangi biduk yang didenotasikan dengan kata revolusi.

Baca Juga:  Melihat Alih Teknologi Jet Tempur Su-30 Rusia untuk India

Di samping itu, kata revolusi juga menarik pikiran mundur ke belakang pada awal-awal revolusi fisik tahun 1950-an. Saat itu Founding Father kita, Bung Karno Presiden Pertama R.I. selalu mengobarkan semangat juang Rakyatnya dengan ungkapan yang sangat viral dengan jargonnya “Revolusi Belum Selesai”. Andaikan konsep “Revolusi belum selesai”-nya Bung Karno tersebut kita renungkan, nampak jelas bahwa ide tersebut mengandung kebenaran. Bukankah yang sekarang viral dengan terminologi revolusi 4.0 tersebut, diawali dengan revolusi hijau yang dilanjutkan dengan penemuan mesin uap yang kenudian dikenal dengan revolusi 1.0, disusul oleh revolusi 2,0 dengan penemuan teknologi listrik dan otomatisasi bidang produksi, disusul dengan revolusi 3.0 dengan revolusi informasi, dan kini sampai pada revolusi 4.0 yang pasti akan berlanjut pada revolusi-revolusi selanjutnya, karena begitu revolusi melahirkan teknologi baru, teknologi baru tersebut akan mendorong  dengan makin cepat penemuan selanjutnya yang sulit dikendalikan laju pengembangan dan perkembangannya. Itulah revolusi!

Secara keseluruhan artikel AS tersebut layaknya ‘ayam putih terbang siang’, begitu jelas menggambarkan dinamika Artificial Intelligence (AI) yang nampaknya berusaha merekayasa manusia untuk menjadi manusia super yang dijuluki Posthuman (H+). Artikel tersebut memang betul-betul sebagai berita yang hanya mengatakan tentang masalahnya sebagai berita layaknya ‘manusia menggigit anjing’. Berita dalam bentuk artikel tersebut supaya menggelitik dibumbui dengan istilah-istilah akademis seperti rekayasa biosintetik, penciptaan android, transisional ke posthumanity, transhumanisme sebagai filsafat futuris, paradigma transhumanis dsb.dsb. Selanjutnya supaya lebih meyakinkan lagi didukung pendapat para tokoh negarawan seperti Presiden Putin, tokoh ilmuwan seperti Max More, Alan Tuning, Ross Quillian, Edward Feigenbaum dsb.

Baca Juga:  YLKI Bertindak Cepat, Kirimkan Surat Ke PT SMI Minta Dana Member NET89 Dicairkan

Terminologi yang digunakan dalam artikel AS tersebut satu pun tidak ada yang dilengkapi denotasinya, Misalnya saja denotasi terhadap H+ yang merupakan terminologi yang sifatnya luas merambah menaungi berbagai terminologi konotasinya  seperti Transhumanism(s), Posthuman- ism(s),dsb yang masing-masing merupakan jalan yang dilalui atau ujung tanpa terminal dari Revolusi IT.

Terlepas dari Catatan itu semua, kenyataan menunjukkan bahwa Revolusi IT terus melaju dengan hukumnya sendiri, yang pada suatu titik waktu tertentu Manusia dan Mesin akan menjadi satu sebagai akibat kemajuan bidang: Genetika, Nanoteknologi dan Robotika. Bidang genetika diharapkan membantu umat manusia menaklukan segala jenis penyakit, temasuk penuaan. Bidang Nanoteknologi memungkinkan untuk memanipulasi objek dalam skala atom dan molekul, yang dapat berkontribusi besar pada bidang kesehatan, industri dan lingkungan. Sedangkan Robotika adalah topik yang paling hangat diperbincangkan sekarang ini. Ketiga bidang tesebut akan mentransfomasi umat manusia dari mahluk Organik menjadi Non-organik (H+). Manusia Super yang mungkin jauh dari atau terhindar dari kematian.

Para ahli AI memprediksikan hadirnya Suprintelligence, yaitu AI yang kecerdasannya melampui manusia yang dapat mengantarkan pada era Singularitas, yaitu suatu masa dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat yang mengantarkan peradaban manusia ke era yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Bukankah itu suatu Fiksi, karena tidak terbayangkan sebelumnya. Seandainya pun itu fiksi, fiksi pun sangat berguna sebbab dapat menggerakkan laju Revolusi AI.

Baca Juga:  Peringati HAN 2022: Kemensos Salurkan 208 Paket Bantuan Atensi di Wanasaba Kabupaten Lombok Timur

Akhirnya secara jujur mengakui bahwa yang menulis Catatan Banal ini tidak dapat membayangkan betapa cepat lajunya Revolusi AI, Suprintelligence, yang nampaknya sedang merekayasa manusia untuk dijadikan Super Manusia dengan konotasi Transhuman dan Posthuman.  Mungkinkah Para Ahli Teknologi tersebut terobsesi Manusia Pertama Adam  dan Eva yang yang diusir dari Firdaus untuk mencegah agar tidak melanggar perintah Tuhan lagi dengan memakan buah kehidupan yang menjadikan manusia yang memakannya tidak akan mati. Seandainya Para Ahli Teknologi tersebut benar-benar dapat mewujudkan H+ yang super dan terhindar dari kematian dan Tuhan marah, kiranya Manusia akan diusir lagi ke mana tempat pembuangannya. Nampaknya berhasil atau tidak Revolusi AI mewujudkan obsesinya, sebagai layaknya suatu Revolusi tentu akan meninggalkan dampak yang mungkin mmenjungkirbalikkan tatanan kehidupan sebelumnya. Kecuali kalau Tuhan berkenan, seperti saat Tanah Pasundan diciptaka, Tuhan tersenyum, kata Almarhum M.A.W. Brower, seorang biarawan, psikholog, dosen UNPAR dan beberapa universitas lainnya.

Wallahualam bissawab. Jakarta, Akhir November 2019.

B. Parmanto
B. Parmanto, Pengamat sosial budaya LPPKB

Related Posts

1 of 2.531