Connect with us

Budaya / Seni

Cara Membahagiakan Anak Dengan Membacakan Buku untuknya

Published

on

Dirjen PAUD Dikmas, Harris Iskandar membacakan buku untuk anak-anak PAUD. (FOTO: Istimewa)

Dirjen PAUD Dikmas, Harris Iskandar membacakan buku untuk anak-anak PAUD. (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Direktorat Bindikel, Ditjen PAUD Dikmas) kembali melaksanakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) yang diluncurkan pada tahun lalu.

Dirjen PAUD Dikmas, Harris Iskandar menyampaikan, acara digelar lagi atas kesadaran bahwa membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia karena dengan membaca akan memperluas wawasan seseorang. Karena itu, kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak usia dini. Pengenalan dunia baca diharapkan dimulai dari lingkup keluarga. Di sinilah pentingnya kontribusi orang tua yaitu membacakan buku sebagai bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini.

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul pagi ini untuk merayakan bersama Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Ini mempunyai tujuan yang mulia yaitu melekatkan emosi bunda, ayah dan anak. Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna serta mengenalkan kecintaan terhadap buku,” kata Harris Iskandar dalam siaran persnya seperti dikutip nusantaranews.co, Minggu (28/7/2019).

“Kalau ini dibiasakan akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” imbuh Harris.

Harris menjelaskan, pengasuhan anak harus berada di bawah orangtua, bukannya orang lain. “Oleh karena itu tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan pada pengasuh, kepada orang lain. Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya. Kesempatan ini jangan disia-siakan karena umur anak 4 s.d.5 tahun itu ya bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” terang Harris.

Baca Juga:  Sejumlah Maskapai National Flag Carrier Ini Selamat Karena Bail Out

Diungkapkan Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil.

“Tadi saya juga sudah tanya orang tua, alhamdulillah untuk di daerah Jakarta mungkin ya tidak ada masalah, maka itu kami ingin berdialog dengan orang tua di NTB dan Papua untuk mengecek apakah mereka memiliki kendala dalam membeli buku? Kalau di Jakarta tidak masalah. Saya juga mengalami setiap minggu itu membawa anak dan cucu itu banyak sekali buku. Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” ujar Harris.

Hal yang tidak kalah memprihatinkan, lanjut Harris, adalah kondisi dimana anak-anak sejak usia dini sudah kecanduan gawai. Oleh karena itu, dengan adanya gerakan ini, diharapkan dapat mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gawai pada tumbuh kembang anak.

“Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100% dimakan oleh gadget. Ini salah satu kampanye kami ke arah situ. Gadget itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya ya ada efek dopamin, kecanduan ya jadi anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar. Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gadget. Kedua, untuk kesehatan mata itu juga tidak bagus bagi anak. Banyak sekali dampak-dampak kesehatan selain yang saya sebutkan tadi dan juga secara psikologi tidak bagus misalnya internet putih ya internet khusus untuk anak tetap tidak semua orang tua mengikuti petunjuk dari kita. Kebanyakan yang saya pastikan itu mereka membebaskannya begitu saja, parental guide di dalam menu tidak pernah digunakan, tidak mau ribet orang tua itu, karena orang tuanya juga sudah kecanduan dengan gadgetnya,” kata Harris

Baca Juga:  Pada 27 Juli 1953 Perang Korea Berakhir, Tahun 2018 Diteken Deklarasi Panmunjom

Harris berharap agar orang tua mengendalikan dirinya ketika berada di dekat anak-anak, artinya tidak terus menerus menggunakan gawai agar tidak ditiru oleh anak.

“Orang tua sudah kecanduan dan dia tidak mau diganggu, dan dikasih juga gadget ke anaknya, kan musibah bener. Ini yang saya kira kita semua harus sadar ini bahaya. Kita seluruh masyarakat sadarkanlah semua orangtua ini marilah kita kembali membaca buku, coba kurangi kalau tidak bisa untuk tidak sama sekali, kita kurangi dalam waktu tertentu dan jangan menunjukan di depan anaknya. Dalam setiap kesempatan orangtua coba kendalikan diri, jadilah orangtua yang riil, bukan di depan anak kita pakai gadget. Anak itu akan mengikuti, anak itu adalah fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa saja yang kita lakukan kalau kita stick dengan gadget mereka akan gitu juga,” ungkap Harris.

Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa dan bersama-sama menggerakan semua anggotanya untuk memulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya.

“Saya kira kami hanya semacam orkestra saja, saling menyemangati. Kenapa kita lakukan di hari yang sama serentak? Supaya semangat saja bahwa kita itu bukan sendiri tapi 230 ribu lembaga PAUD seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 juta itu sudah mendengar tentang Gernas Baku dan terinspirasi untuk ikuti kebiasaan baru di rumahnya, terutama keluarga muda,” pungkas Harris. (red/nn)

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler