Connect with us

Budaya / Seni

Bulan Pemakan Ternak

Published

on

Bulan Besar (New Moon). Foto: Dok. curiator.com

Cerpen Eko Setyawan

Aku tak pernah tahu mengapa beberapa ternak yang kami punya tiba-tiba hilang. Satu per satu berkurang, hilang tak tersisa. Semua lenyap begitu saja. Kambing, sapi, juga kerbau-kerbau jantan yang begitu gemuk.

Semakin hari, selalu saja ada ternak-ternak yang menghilang. Tapi bapak tak pernah merasa khawatir. Begitu juga tetangga-tetangga. Padahal ternak-ternak itu begitu kusayangi. Aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan. Setiap kali aku bermain di sekitar kandang, selalu saja ada hewan yang berkurang ketika kuhitung. Di kandang belakang rumahku, atau pun juga di kandang tetangga. Apa hanya aku yang selalu merasa kehilangan?

Ketika kucoba menanyakan ini kepada bapak, jawabannya begitu tak mengenakkan. Jawabannya selalu membuatku kebinggungan. Entah mengapa, tak ada jawaban yang membuatku mengerti. Pengertian hanyalah serupa angin berhembus, nyata tetapi tidak dapat ditangkap.

“Kenapa semakin hari kambing-kambing kita selalu berkurang Pak?” Tanyaku suatu ketika.

Loading...

“Rupanya kau menyadarinya juga ya? Kukira kau tak pernah peduli dengan ternak-ternak itu,” jawab bapak yang menurutku diucapkan dengan tidak ikhlas.

“Akulah yang membantu bapak mencari rumput, menggembala kambing-kambing itu, aku juga yang memandikan kambing-kambing itu ketika baunya sudah tidak enak lagi. Tentu saja aku sangat peduli dengan kambing-kambing itu Pak.”

“Kau memang rajin nak, tetapi kau belum mengerti dengan apa yang terjadi pada ternak-ternak kita, juga ternak-ternak tetangga. Kau tahu kan, semua ternak-ternak tetangga kita semakin hari semakin berkurang.”

“Apa ternak-ternak kita dicuri orang?” Rasa penasaranku berubah mencadi rasa curiga.

Tetapi tak ada jawaban ketika aku bertanya demikian. Aku berpikir bahwa ternak-ternak itu memang dicuri. Ada maling yang mencuri setiap harinya. Tapi kenapa warga desa tidak merasa kehilangan. Mereka biasa-biasa saja. Seperti tak ada masalah ketika ternak-ternak mereka menghilang.

***

Baca Juga:  Pelacur Negeri (Bagian 5: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand

“Kambing-kambingku setiap hari selalu berkurang, apa kambing-kambing dan sapi kalian juga demikian?” Tanyaku pada Budi, Indra, juga Andi.

Mereka adalah teman-temanku sekolah di kelas 2 SD, kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, karena memang kami tinggal di satu desa dan rumah kami tidak begitu berjauhan. Mereka pula teman yang selalu bersamaku ketika mencari rumput, menggembalakan ternak, dan memandikan ternak kami bersama-sama di sungai.

“Iya Nang, beberapa waktu yang lalu sapiku ada empat. Sekarang tinggal dua. Dan ketika kutanyakan pada bapakku, aku malah dimarahi. Katanya aku masih kecil untuk mengerti tentang sapi-sapiku,” jawab Budi yang dengan nada kecewa.

“Kalau kata kakek, kambing-kambingku dimakan Buto Ijo, soalnya beberapa waktu yang lalu ada banyak orang yang ramai-ramai memukul kentongan. Tak hanya itu, bulan pun juga turut dimakan, hanya tinggal sebagian,” sahut Indra.

Aku tak mengerti apa yang dikatakan Indra. Siapakah Buto Ijo itu? Aku hanya mendengar dari orang-orang sekali dua kali. Katanya, Buto Ijo itu mirip dengan raksasa. Badannya besar, berwarna hijau, hanya memakai celana, dan tentu saja suka memakan manusia. Aku belum pernah mendengar kalau Buto Ijo juga memakan ternak. Apalagi orang-orang mengetahui kemunculannya, kenapa tidak mereka usir?

Aku semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Indra, dengan sesekali membayangkan bagaimana bentuk Buto Ijo itu. Kenapa ketika orang-orang memukul kentongan pada malam hari aku tidak bangun. Dan rasa penasaranku pun menjadi-jadi.

“Apa hubungannya Buto Ijo dengan hilangnya ternak-ternak kita?” Tanyaku pada Indra.

“Aku juga tak begitu mengerti,” timpal Indra.

“Mungkin saja dia sedang kelaparan, sehingga ternak-ternak kita menjadi mangsa,” jawab Andi sekenanya.

“Iya Andi benar, mungkin saja Buto Ijo itu kelaparan,” ucap budi polos.

“Kan orang-orang sudah berkumpul, sudah memukul kentongan, mengapa tidak mereka lawan bersama-sama?” jawabku tak terima.

Baca Juga:  41 Hari Menulis Kiamat

“Mungkin saja orang tua kita takut. Juga seluruh warga desa. Daripada mereka yang dimakan, bukankah sebaiknya ternak-ternak kita yang direlakan?” Sahut Budi.

Aku semakin tak mengerti. Semenakutkan apakah Buto Ijo itu. Rasa penasaranku memuncak. Kami pulang, dengan rasa penasaran yang menjadi-jadi dalam pikiranku. Sementara ternak-ternakku tak pernha kembali lagi.

***

Sesampainya di rumah. Aku bertanya kepada bapak tentang kebenaran ucapan teman-temanku. Tentang Buto Ijo, ternak yang dimakan, juga bulan yang dimakan dan menghilang sebagian. Bulan yang dimakan serupa dengan huruf C seperti yang ibu guru ajarkan padaku ketika belajar membaca. Juga seperti bekas gigitan pada roti kering.

“Apa benar kambing-kambing kita dimakan Buto Ijo Pak?”

“Kata siapa,” bapak heran.

“Kata teman-temanku pak, tadi waktu menggembala kambing. Katanya Buto Ijo itu memakan ternak-ternak di sini, juga bulan. Katanya pula, orang-orang sudah berkumpul, tetapi tidak ada yang melawan. Apa semua orang takut dengan Buto Ijo itu pak?” Tanyaku mendesak.

Bapak heran dengan pertanyaanku. Raut mukanya kelihatan bingung. Entah mengapa bapak menjadi demikian. Menurutku tak ada yang salah dengan ucapanku. Apalagi teman-temanku juga mengatakan demikian kepadaku. Tak ada yang aneh, tetapi raut wajah bapak menimbulkan seribu tanda tanya untukku.

“Hahahahah,” bapak terpingkal, aku semakin binggung.

“Ada apa pak? Apakah ada yang salah dengan ucapanku?” Kataku seraya menunduk.

Bapak masih tertawa, semakin keras. Ada sedikit air mata. Kukira karena bapak tertawa terlalu berlebihan.

“Kau ini lucu sekali,” kata bapak ketika berhenti tertawa.

“Maksud bapak?”

“Ya lucu, apa yang kau katakan itu lucu sekali,” jawab bapak agak serius.

“Ternak-ternak kita tidak dimakan Buto Ijo, hanya bulan yang ia makan. Sementara ternak-ternak kita dimakan bulan besar,” lanjut bapak, sedikit meringis. Menahan tawa.

Aku bertambah bingung, kebingungan, semakin bingung.

Baca Juga:  Melati Kuning - Cerpen Gusti Trisno

Apakah ada rantai makanan seperti yang pernah dijelaskan bu guru di kelas? Tindakan saling makan antara produsen, konsumen, juga pengurai. Kalau di rantai makan yang kuketahui, tumbuhan dimakan ulat, ulat dimakan burung, burung dimakan ular, ular dimangsa elang, setelahnya elang mati diuraikan bakteri dan menjadi pupuk bagi tanaman. Begitulah seterusnya, berulang.

Lalu soal Buto Ijo yang memakan bulan, juga bulan yang memakan ternak-ternak kami. Kupikir ada hubunganya dengan rantai makanan yang dijelaskan bu guru. Saling makan yang terus-menerus terjadi, berulang. Aku mencari rumput, rumput dimakan kambing-kambingku, kambing dan ternak kami dimakan bulan, dan bulan sendiri akhirnya dimakan oleh Buto Ijo.

Aku mengerti sekarang, berarti rantai makanan itu benar-benar berjalan dengan baik. Tak perlu ada yang kucemaskan, sudah berjalan dengan kehendak alam. Tetapi yang masih mengganjal adalah bagaimana cara bulan memakan ternakku. Apakah bulan punya mulut, juga gigi untuk mengunyah? Kalau Buto Ijo aku pasti percaya, sebab dia memiliki mulut dan gigi untuk memakan kambing-kambingku.

***

Ketika pulang sekolah, aku melewati rumah Indra. Sejenak berhenti dan beristirahat di sana. Ada bapakku dan kakek Indra, serta dua orang asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar sayup-sayup yang mereka katakan. Tentang bulan besar, yang diulang terus menerus. Bulan besar, bulan besar, juga kurban. Pada bulan besar harus ada ternak-ternak yang dikurbankan. Aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Sama sekali tak mengerti.

EKO SETYAWAN, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Menempuh kuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Beberapa karyanya termaktub dalam buku antologi puisi bersama dan kumcer. Buku kumpulan puisinya yang pertama akan terbit pada September-Oktober. Bernaung di Komunitas Sastra Senjanara dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Loading...

Terpopuler