Connect with us

Budaya / Seni

Buku Puisi ‘Selamat Jalan Iwan Soekri’ Diluncurkan

Published

on

puisi mbeling, sutan iwan soekri munaf, iwan soekri munaf, karya iwan soekri, sastrawan iwan soekri, penyair iwan soekri, komunitas penyair indonesia, pram2ne publisher, buku iwan soekri, arief joko wicaksono, novelis iwan soekri, tulisan Iwan soekri, nusantaranews

Komunitas Penyair Indonesia dan Pram2ne Publisher bekerjasama dengan PDS HB Jassin Jakarta, menggelar peluncuran puisi karya Sutan Iwan Soekri Munaf, di PDS HB Jassin, Jakarta, Jumat (3/8/2018) sore. (Foto: NUSANTARANEWS.CO/Achmad S)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kepergian abadi sastrawan dan jurnalis Iwan Soekri Munaf menyisakan kenangan tersendiri yang diingat oleh keluarga, sahabat, dan menyarakat Indonesia yang mencintai sastra.

Di hari keseratus kematian sastrawan kelahiran di Medan 4 Desember 1957 ini, Komunitas Penyair Indonesia dan Pram2ne Publisher bekerjasama dengan PDS HB Jassin Jakarta, menggelar peluncuran puisi karya Sutan Iwan Soekri Munaf, di PDS HB Jassin, Jakarta, Jumat (3/8/2018) sore.

Arief Joko Wicaksono dalam kesaksiannya menyampaikan, Iwan merupakan sastrawan yang selalu bervariasi menggunakan namanya. Terbukti tidak hanya satu nama yang dipakai ketika mengirim karya puisinya ke media.

“Sebagai penulis, Iwan memiliki nafas yang sangat panjang. Pada 1971 puisinya dimuat di Kompas anak saat usia 13 tahun,” tutur Arief.

“Iwan terus menulis dan berkembang. Dari Pariaman hingga Bandung,” imbuhnya.

Loading...

Arief juga menyebut bahwa Iwan adalah sastrawan pengecualian (untuk tidak menyebut langka). Artinya, kata Arief, Iwan menjalani dunia kepenyairan nyaris setengah abad. Iwan terus menulis meski dengan kesibukan sebagai seorang jurnalis.

“Sebab Iwan punya cinta, maka ia bisa bertahan dalam waktu lama menekuni sastra,” katanya.

Lebih lanjut Arief menuturkan, Iwan jangan dikenal sebagai penyair saja. Dalam suatu waktu, ia peduli anak anak. Ia mengajak anak anak untuk menulis puisi. Iwan juga novelis.

Karya iwan, lanjut Arief, tersebar di media pada tahun 74. Iwan sempat terpengarus puisi mbeling. Ada majalah aktuil yang memuat puisi mbeling. Jadi, Iwan adalah bagian dari puisi mbeling. Waktu itu Iwan masih pelajar tahun 1975. Menulis puisi mbeling untuk mengekspresikan kraleatifitasnya. Tapi Iwan tidak melanjutkan gaya puisi mbeling dalam karya-karya selanjutnya.

Baca Juga:  Tragedi Pembantaian Tiananmen Simbol Matinya Demokrasi di Cina

“Iwan termasuk satrawan yang manulis tema tema kampung halaman, tradisi dan budaya daerah. Gaya penulisannya pun masih memakai gaya para penulis terdahulu. Barangkali itu adalah obsesi Iwan sebagai anak muda waktu itu,” ungkapnya.

“Proses pencarian dan pematangan iwan sebagai sastrawan akhirnya khusyuk bicara dan/atau berfikir tentang waktu,” kata Arief.

Untuk diketahui, Sutan Iwan Soekri Munaf (SISM) lahir di Medan 4 Desember 1957, wafat 24 April 2018 di Bekasi. Iwan Soekri dimakamkan di TPU Muslim Sirnaraga Kota Bandung.

Tulisan Iwan Soekri, perdananya dimuat di ruang anak Harian Kompas edisi 3 Juli 1971, bertepatan Pemilu ke-2 Republik ini.

Iwan Soekri, wartawan dan penulis banyak puisi dan cerpen bertebaran di media lokal dan nasional. Dia kuliah di dua kampus, ITB dan UNPAD di Bandung. Penulis novel Rahasia Seorang Kawan dan Solar Palsu dimuat cerita bersambung di Sinar Harapan.

Kumpulan puisinya Obsesi diterbitkan PT Angkasa Bandung tahun 1985. Tahun 2007, berhasil memenangkan Juara 1 Sayembara Penulisan Esai Sastra yang diadakan Balai Bahasa Sumatera Selatan. Dia juga dikenal wartawan di banyak media.

Beberapa karya Iwan Soekri dikumpulkan dan disusun Isson Khairul dan Eddy Pramduane, diberi judul Selamat Jalan Iwan Soekri, yang disusun dalam bentuk buku.

Arief Joko Wicaksono dan Cunong Nunuk Suraja membedah karya Iwan Soekri, moderator Ayid Suyitno PS. Beberapa Puisi akan dibacakan dan Musikalisasi Rinidiyanti Ayahbi.

Istri dan putra dari almarhum menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para penyair yang turut serta menuliskan puisi persembahan buat mendiang Iwan Soekri.

Pewarta: Achmad S
Editor: M Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler