Hankam  

Bukan Nuklir, Perang Modern Yang Disasar Adalah Hati dan Pikiran

Mantan Dubes RI untuk Kamboja, Nurrachman Oerip Sebut Bukan Nuklir, Perang Modern Yang Disasar Adalah Hati dan Pikiran. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)
Mantan Dubes RI untuk Kamboja, Nurrachman Oerip Sebut Bukan Nuklir, Perang Modern Yang Disasar Adalah Hati dan Pikiran. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Kamboja era Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, Nurrachman Oerip menegaskan bahwa ancaman serius bagi Indonesia saat ini bukanlah perang nuklir. Sebab target dari perang modern saat ini yang disasar adalah hati dan pikiran masyarakat di suatu negara itu sendiri.

“Sekarang kita perlu memikirkan kembali apakah tidak saatnya masalah sistem senjata sosial budaya ekonomi itu menjadi sesuatu perhatian kita bersama. Karena sebenarnya perang sekarang ini kan tidak lagi seperti perang di masa lalu, tapi sasarannya adalah hati dan pikiran manusia dan bangsa,” kata Nurrachman Oerip di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, (30/4) lalu.

Saat ini lanjut dia, mereka (negara adidaya) tidak perlu mengirimkan tentara untuk melakukan agresi, tetapi mereka cukup membangun benteng pertahanan di wilayah Indonesia dalam wujud manusia manusia Indonesia. Mereka ini yang berfrekuensi keluar.

“Saya kira itu betul betul sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Ketimbang ancaman ancaman senjata nuklir. Ini yang patut kita renungkan bersama. Karena itu saya pikir di sinilah kita perlu memikirkan bagaimana membangun yang namanya strategic defence initiative (SDI),” tegasnya.

Nurrachman Oerip melihat, sudah saatnya Indonesia memikirkan modalitas yang sudah dimiliki. Indonesia harus segera membangun sinergi dengan berbagai kekuatan di dunia.

“Dan internal ASEAN, kita perlu membangun CBN (Confiden Building Nation). Ini saya pikir kita perlu lebih serius memikirkan ini,” tandasnya.

Hal itu ia sampaikan saat menanggapi potensi perang nuklir pasca berakhirnya perjanjian INF (Intermediate-Range Nuclear Forces) antara AS dan Rusia pada Februari 2019 lalu. Pasalnya seusai pencabutan Pakta Pengendalian Senjata Nuklir atau yang dikenal dengan perjanjian INF diprediksi akan memicu perlombaan senjata nuklir.

Baca Juga:  Visit Sumenep 2019, Pemkab Sumenep Gelar Event Sapi Tanggapan

Pewarta: Romandhon