Connect with us

Hankam

Bukan Kematian, Aksi Terorisme Bertujuan Tebar Ketakutan dan Teror

Published

on

teroris, terorisme, istilah teroris, kata teroris, definisi teroris, definisi terorisme, kontra terorisme, teror, bandit, polisi, teroris tuban, bandit dan teroris

Terorisme atau teroris. (Foto: IlustrasI)

Bukan Kematian, Aksi Terorisme Tebar Bertujuan Ketakutan dan Teror

NUSANTARANEWS.CO, JakartaAksi terorisme sejatinya bertujuan untuk menyebarkan ketakutan dan teror, bukan kematian. Itu inti terorisme yang berasal dari kata ‘teror’. Belum ada padanan kata bahasa Indonesia yang tepat dari kata ‘teror’. Sebab, teror bisa saja berbentuk fisik maupun non fisik.

Aksi terorisme bukan semata hanya tentang jumlah korban meninggal dunia tetapi berapa banyak ketakutan itu menyebar di seluruh lini kehidupan masyarakat dan sebuah negara.

Teroris kadang-kadang berhasil melakukan dengan cara yang sangat terbatas, terutama bila dilakukan di negara-negara yang jarang menghadapi kasus terorisme.

Ambil contoh misalnya situasi negeri Belanda sekitar tahun 2005-2006. Menurut sebuah polling opini publik menunjukkan bahwa 40 persen masyarakat Belanda menganggap terorisme sebagai satu dari dua masalah penting yang dihadapi negeri kincir angin itu. Masyarakat Belanda menjadi ketakutan setelah insiden Madrid yang membunuh 200 orang dan bom London yang menewaskan 50 orang.

Menurut Brian Jenkins (1975), terorisme itu tidak melulu tentang membunuh orang. Teroris itu ingin disaksikan oleh banyak orang. Dan dalam konteks Belanda, pernyataan Jenkins dinilai masih sangat relevan karena aksi terorisme berhasil menimbulkan ketakutan di tengah publik. Paling tidak elemen ketakutan itu telah menyebar, menjelma menjadi sebuah pesan yang bersifat umum.

Elemen penting lainnya adalah target tidak langsung, karena jarang teroris menyerang langsung kepada ke target utama. Misalnya serangan 9/11 di mana 3.000 orang korban tewas.

Mengutip Agus Setiawan, Target Utama Teroris adalah Kau dan Aku (2016), teroris tidak perlu membunuh banyak orang, tapi mereka ingin mencari perhatian banyak orang. Sasarannya adalah mereka yang menyaksikan dan menonton peristiwa tersebut.

Jadi, target tidak langsung lebih sering digunakan oleh teroris dibanding ke target utama. Kekerasan atau serangan brutal peristiwa 9/11 di New York, Washington dan Pennsylvania bukan ditujukan kepada korban, tapi kepada mereka yang hidup dan menyaksikan.

Lantas siapa yang menjadi target utama terorisme?

Target utama teroris adalah kita, kau dan aku. Strategi teroris adalah membunuh satu atau beberapa orang untuk menakut-nakuti miliaran orang. Mereka ingin agar kita bereaksi berlebihan, dan biasanya berhasil, di sini peran media sangat besar dalam menyebarkan ketakutan. Boleh dikatakan kita dibawa untuk ‘nonton bareng aksi teroris’.

Dampak terorisme bisa sangat besar dan menjadi ancaman nyata yang serius. Bukan hanya dalam hal fisik, melainkan juga lebih pada hubungan antar personal di kalangan masyarakat yang pada gilirannya bisa berdampak terhadap stabilitas politik dan perekonomian suatu negara.

Ada sejumlah catatan penting yang mungkin bisa dijadikan kesepakatan bersama bahwa terorisme lebih merupakan instrumen, alat dan mekanisme untuk menyebarkan ketakutan dengan cara menggunakan kekerasan dalam rangka mempengaruhi publik dan politik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa publik dan politisi lebih bereaksi setelah insiden teroris terjadi. Dan celakanya, hal ini boleh dibilang sangat membantu kepentingan para teroris. (red/nn/berbagai sumber)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler