Connect with us

Kolom

Budaya Maritim Sebagai Sumber Kekuatan Bangsa

Published

on

Letkol Laut (P) Salim (Mbah Salim). Foto: Dok. MARITIME OBSERVER

Letkol Laut (P) Salim (Mbah Salim). Foto: Dok. MARITIME OBSERVER

Oleh: Mbah Salim*

“Secara politik, masyarakat maritim mempercayakan kepemimpinan pada orang-orang yang benar-benar kompeten dan memiliki kepedulian kepada survival dan kesejahteraan mereka. Bukan kepada orang-orang yang hanya pintar bersolek menjadi pesohor atau memiliki tumpukan kapital”

Kata maritim akan merujuk pada suatu aktivitas yang dilakukan di laut, seperti pelayaran yang tujuannya entah untuk berdagang atau mencari ikan. Melalui masing-masing arti kata dari kata penyusun “budaya maritim, kita bisa mendapatkan makna sebenarnya dari “budaya maritim” ini. Budaya merupakan keseluruhan gagasan manusia yang mampu menghasilkan berbagai tindakan dan hasil karya. Bila kata “budaya” disandingkan dengan kata “maritim”, menurut hemat saya kata “maritim” menjadi penanda atas sebuah tempat yang letaknya dekat dengan laut atau lebih sering kita kenal dengan pesisir.

Budaya merupakan milik kolektif karena budaya menjadi sebuah nilai yang disepakat dan dijalani secara bersama-sama oleh sekelompok orang. Maka “budaya maritim” dapat kita pahami sebagai keseluruhan gagasan yang mampu menghasilkan tindakan dan perilaku yang menjadi milik suatu kolektif yang tinggal dan hidup dekat dengan laut.

Dan apabila membicarakan hal tersebut pikiran kita akan menuju pada sebuah lanskap dari suatu masyarakat yang hidup dengan kultur melaut. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang dalam kesehariannya selalu bersinggungan dengan laut, karena laut menjadi tempat mereka tinggal dan beraktivitas. Bumi secara geografis terdiri atas daratan dan lautan. Daratan seperti yang kita lihat dalam bola dunia terletak terpencar-pencar karena dipisahkanoleh lautan yang bermaterikan air, dan manusia tidak dapat hidup didalamnya.

Oleh karena itu, lautan seolah memisahkan antara manusia yang satu dengan yang lain dari berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan ini yang ingin saya sampaikan adalah bahwa lautan itu sebenarnya tidak memisahkan, tapi justru menjadi sebuah rute perjalanan yang nantinya mempertemukan bangsa-bangsa dari berbagai belahan dunia, karena dunia itu sebenarnya adalah satu dan saling terhubung antara satu tempat dengan yang lain.

Kemudian, timbul pertanyaan bagaimana bisa lautan yang memisahkan manusia dari berbagai daerah ini justru menjadi sebuah jalur perhubungan? Jawabannya adalah “budaya maritim”. Dengan adanya “budaya maritim”, manusia dari berbagai belahan dunia menjadi saling terhubung. Berlayaradalah salah satu bentuk dari “budaya maritim”, dan menurut saya hal tersebut merupakan suatu hasil kebudayaan yang hebat dari manusia, karena dengan ditemukannya teknologi pelayaran, manusia bisa melakukan perjalanan yang jauh dari pulau satu ke pulau yang lain dan bertemu dengan bangsa yang lain dari berbagai belahan dunia.

Hal ini menyebabkan dipahaminya dunia sebagai satu kesatuan. Seperti yang diujarkan oleh ErickWolf dalam bukunya Europe and People without History
:“…the world of humankind constitutes a manifold, a totality of interconnected process…” , (Wolf, 1994:4) Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa dunia ini merupakan proses saling berhubungan. Macam-macam masyarakat yang ada di dunia mengalami satu proses yang sama dalam perkembangan peradaban umat manusia, karena sejatinya berbagai ras manusia itu terklasifikisikan dalam satu golongan yaitu “manusia”.

Adanya budaya maritim inilah yang membuat manusia dari berbagai belahan manusia terhubung dalam satu proses bersama yaitu perkembangan peradaban umat manusia.Singkatnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain di seluruh belahan dunia ini saling terkoneksi, begitulah kira-kira yang ingin disampaikanoleh Erick Wolf.

Dikatakan terkoneksi karena sesuatu yang ada di suatu tempat terkadang berasal dari tempat lain yang jauh sekali dari tempat tersebut. Apa buktinya? Salah satu buktinya adalah ditemukannya musik keroncong yang menjadi salah satu musik rakyat di Indonesia. Musik keroncong ini sebenarnya adalah bawaan dari bangsa portugis yang pada jaman dahulu berlayar hingga ke daerah tersebut untuk mencari rempah-rempah.

Musik ini awalnya dimainkan oleh budak-budak keturunan portugis dan beberapa orang maluku. Dimainkannya musik keroncong sebagai musik rakyat di daerah tersebut menunjukkan terbentuknya koneksi antara Eropa dengan Indonesia. Begitu juga ditemukannya rempah-rempah dengan kualitas yang baik di Eropa.Berdasarkan iklim yang terdapat di Eropa, rempah-rempah sebenarnya tidak dapat tumbuh dengan baik, namun orang-orang Eropa berlayar ke negara-negara tropis untuk mencari rempah-rempah berkualitas tinggi.

Imbasnya adalah terjadinya hubungan antara orang Eropa dengan orang-orang yang berasal dari negara-negara beriklim tropis yang jelas berbeda kulturnya dengan mereka orang-orang Eropa. Lainnya, coba kita lihat orang-orang cina yang ada di Indonesia. Secara historis apakah mereka orang asli Indonesia? Tidak, mereka memang berasal dari negeri Tirai Bambu yang melakukan pelayaran hingga sampai Indonesia untuk berdagang.

Namun, beberapa dari mereka menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Indonesia, hingga membentuk peradaban Indo-cina di Indonesia yang sekarang cukup banyak juga jumlahnya. Imlek yang merupakan perayaan Tahun Baru Cina pun turut dirayakan disini, karena memang jumlah orang-orang keturunan Cina di Indonesia cukup banyak. Kita juga dapat pecinan di beberapa daerah Indonesia.

Tapi, tidak hanya bangsa luar yang terus menerus melakukan penjelajahan ke berbagai belahan dunia. Kerajaan Majapahit yang terletak diIndonesia ini pun pernah melakukan pelayaran untuk pergi ke tempat yang letaknya cukup jauh dari Indonesia, karena mereka dikenal sebagai kerajaanyang cukup besar kekuatan maritimnya. Irawan Djoko Nugroho (2011) dalambukunya Majapahit: Peradaban Maritim memaparkan betapa besarnya kekuatan maritim Indonesia kala itu.

Diceritakan bahwa Kerajaan Mataram memiliki kapal sejumlah 2.800 buah, lebih banyak hampir tiga kalinya dari pada kapal-kapal milik Kubilai Khan yang hanya sejumlah 1.000 buah ketika melakukan penyerangan ke Jawa. Kapalnya pun bukan kapal-kapal kecil, tapi kapal yang besar. Bahkan menjadi kapal paling besar di dunia pada jamannya.

Disini kita dapat membayangkan betapa besarnya kekuatan maritim bangsa kita pada waktu itu, melalui cerita-cerita tentang Kerajaan Majapahit tersebut. Bukti fisik dari peradaban besar maritim Kerajaan Majapahit ini adalah ditemukannya bangsa Melayu-Merina yang memiliki kulit sawo matang dan tinggal di Madagascar, yang mungkin tertinggal atau menetap di situ.

Saatnya kita mengembalikan kekuatan bangsa dengan memahami jadi diri bangsa maritim, dari konsekuensi kita sebagai manusia maritim dengan memahami dasar-dasar ontologis hingga kosmologis tentang eksistensi kita, yang kemudian menjadi bahan dasar kita dalam menata cara hidup dan kebudayaan yang berbasis pada dunia laut dan pesisir.

Manusia-manusia yang hidup berkembang dalam dimensi spasial perairan secara alami akan menjadi kelompok masyarakat hibrid, yang berpikiran terbuka, adoptif, sekaligus adaptif. Tatanan sosial, ekonomi, dan politik sebagai produk budaya maritim tentunya akan memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan produk budaya yang lahir di atas konteks alam yang lain (Radhar Dahana, 2011). Secara adab, budaya maritim lebih toleran terhadap perbedaan-perbedaan karena interaksinya yang lentur dan intens antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Hal ini tidak seperti budaya daratan yang dipenuhi konflik dan peperangan berkat kondisi geografis dan geologis yang memaksa mereka untuk melawan atau menguasai manusia, binatang, atau lingkungan di sekitar mereka. Sebagaimana yang kita dapat ikuti di Timur Tengah baik pada masa silam atau saat ini yang terus saja dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa kekerasan dan peperangan.

Jales Veva Jaya Mahe

*Mbah Salim adalah nama populer dari Kolonel Laut P Salim

Terpopuler