Connect with us

Politik

Buat Generasi Milenial, Aziz Syamsuddin: Jangan Menjadi Boneka Generasi Sebelumnya

Published

on

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar M. Aziz Syamsuddin saat menjadi pembicara pada launching Forum Diskusi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Fokus PB PMII), oleh PB PMII bidang politik, advokasi dan kebijakan publik di Graha Mahbub Junaidi, Jakarta, Selasa (23/1/2018). Foto: Achmad S./ NusantaraNews

NusantaraNews.co, Jakarta – Dalam pengertiannya yang paling umum, generasi milenial merupakan generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000. Dalam konteks politik, generasi ini menjadi sasaran para kontestan dalam kontestasi perebutan kekuasaan di tanah air. Karakteristik generasi milenial yang beragam menuntut para praktisi politik untuk lebih intik dengan generasi yang satu ini.

Anggota DPR RI Aziz Syamsuddin mengidealkan generasi milenial harus mempunyai peran aktif dalam segala bidang, terutama dalam hal politik menuju berlangsung pilkada serentak di 171 daerah tahun 2018 dan Pemilu di tahun 2019 mendatang.

“Karena di era-era 2019 ini tinggal 12 bulan lagi. Dalam peran politik ini kita harus menjadi subjek bukan objek. Dan kita harus juga waspadai, jangan sampai antar sesama milenial, tidak melakukan persaingan yang objek dan sehat,” katanya di hadapan para aktivis peregerakan pada launching Forum Diskusi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Fokus PB PMII), oleh PB PMII bidang opolitik, advokasi dan kebijakan publik di Graha Mahbub Junaidi, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Politisi partai Golkar itu mengingatkan kepada semua supaya bersaing secara objektif dan sehat. Persaingan yang sehat, kata dia, salah satunya tidak menjadi boneka generasi sebelumnya dengan tujuan menggeser generasi milenial.

“Persaingan objektif dan sehat ini jangan sampai diantara kita ada yang menjadi casing, menjadi boneka untuk menghantam sesama. Kita generasi milenial. Tujuannya apa? Tujuannya supaya generasi yang kemarin (generasi x dan baby boomer, -red) tetap eksis. Dengan menggunakan casing seolah-olah ini milenial, padahal substansinya bukan milenial. Janganlah naif, dengan cara menjadi boneka generasi sebelumnya yang digunakan untuk menggeser teman-teman generasi milenial,” paparnya.

Baca Juga:  Pengamat: Petahana Digoyang, AHY Berpotensi Menang

Baca: Aziz Syamsuddin: Generasi Milenial Harus Menjadi Subyek Tidak Menjadi Obyek

Mantan Ketua Umum KNPI itu mencontohkan moment pilkada serentak pada bulan Juni 2018 nanti. “Saya senang melihat 171 Pilkada: 17 Provinsi dan 154 Kabupaten/Kota yang notabene 60% diisi oleh generasi Milenial. Tapi yang saya khawatirkan nanti generasi milenial hanya casing. Dia tidak menjadi kepala daerah dengan kaki dan tangan dia kecuali hanya menjadi boneka belaka,” ujarnya.

Apabila itu terjadi, sambung Aziz, maka yang didengungkan dari pembicaraan-pembicaraan di internasional bahwa generasi milenial ini generasi internet dan segala macam, impact terhadap generasi selanjutnya tidak tercapai. Niscara manfaat pun tak dapat dipetik oleh generasi yang akan datang.

Baca juga: Dekati Generasi Milenial Salah Satu Jurus Jokowi, Cak Imin dan Gus Ipul

“Setelah ini, kita harus segera menganalisis dan mengoreksi dengan data, kalau generasi milenial ini dengan sarana prasarana seperti internet kuat, kemudian casingnya bagus, isinya juga bagus, outputnya bermanfaat tidak terhadap para generasi milenial secara khusus, bangsa dan negara secara umum, baik secara nasional maupun secara internasional,” pesan Aziz kepada semua.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler