Connect with us

Ekonomi

BPS Mengaku Tak Lihat Pemicu Inflasi November 2018 Akibat Menurunnya Daya Beli

Published

on

kemiskinan, angka kemiskinan, jumlah kemiskinan, data bps, badan statistik, kemiskinan indonesia, rakyat miskin, masyarakat miskin, kemiskinan turu, kemiskinan naik, garis kemiskinan, penduduk miskin, tidak miskin, pengangguran, angka stunting, jumlah penduduk miskin, nusantaranews

Inflasi, daya beli dan Kemiskinan. (Foto: Ilustrasi/NN)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengaku dirinya tidak melihat  inflasi year on year, antara November 2018 dengan 2017 ada keterkaitannya dengan menurunnya daya beli masyarakat. Dia mengatakan tidak melihat faktor itu dalam kasus inflasi 0,27 persen pada November 2018.

“Jadi kalau disebut apakah penurunan daya beli? Ndak bisa dilihat. Karena di sana inflasi intinya juga masih tinggi. Ya kan?,” ucap Suhariyanto saat ditanya wartawan di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018).

Baca juga: Oktober 2018, Jumlah Wisman Tiongkok Tertinggi di Indonesia

“Kemudian kemarin dari konsumsi rumah tangga pada waktu kita merilis PDB juga masih bagus,” sambungnya.

Jadi lanjut dia, pemicu harga naik, ini bukan karena faktor daya beli yang menurun, “Tetapi saya pikir lebih antisipasi pemerintah untuk awal akhir tahun, biasa terjadi kenaikan harga. Sehingga persiapannya jauh lebih matang,” sambungnya.

Dalam laporan BPS sendiri, inflasi kali ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran.

Baca juga: Dibanding 2017, Inflasi November 2018 Meningkat 0,27 Persen

Yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,24 persen. Kemudian kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,20 persen. Selain itu ada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,25 persen.

Adapun untuk kelompok sandang sebesar 0,23 persen. Begitupun pula dengan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,05 persen. Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,56 persen.

Pewarta: Romandhon
Editor: Gendon Wibisono

Advertisement
Advertisement

Terpopuler