Connect with us

Politik

BPS: Kualitas Guru Penentu Keberhasilan Suatu Negara

Published

on

Politisi Gerindra DPD DKI Jakarta Bastian P Simanjuntak. Foto NusantaraNews/Pribadi

Politisi Gerindra DPD DKI Jakarta Bastian P Simanjuntak. Foto NusantaraNews/Pribadi

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pendidikan adalah modal dasar pembangunan sebuah bangsa. Tanpa pendidikan yang baik akan sulit menciptakan generasi produktif dimasa depan. Kualitas pendidikan adalah kunci bagi keberhasilan sebuah negara untuk terus membenahi ketidak sempurnaan dalam proses pembangunan.

Demikian pernyataan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPRD DKI Jakarta Partai Gerindra, Bastian P. Simanjutan (BPS) dalam keterangan resmi yang diterima NUSANTARANEWS.CO, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Baca Juga:

Menurut Bacaleg Dapil-II Kecamatan Cilincing, Koja, Kelapa Gading, dan P. Seribu ini, salah satu komponen penting dalam pendidikan ialah tenaga kerja, dan Kualitas pengajar dalam menyajikan materi pelajaran kepada para siswa adalah sangat penting bagi keberhasilan proses pendidikan.

“Dalam menyajikan materi pelajaran seorang dosen atau guru wajib memiliki rasa kepedulian memastikan agar peserta didik (siswa/mahasiswa) benar-benar memahami apa yang diajarkan dan mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bastian.

Loading...

Seorang dosen atau guru, lanjutnya, harus mampu memastikan bahwa antara teori dan praktik bisa sejalan, selama ini ada paradigma yang mengatakan bahwa antara teori dan praktek adalah dua hal yang sering tidak sejalan, hal itu harus di hapuskan. Lulusan S1 accounting harus benar-benar menguasai bidang accounting, dan menerapkan teori-teori akunting di tempatnya bekerja.

“Lulusan S1 desain grafis harus benar-benar menguasai desain grafis dan bekerja sebagai desainer grafis. Disiplin ilmu pengetahuan harus sejalan dengan tempat peserta didik bekerja kelak,” ujarnya.

Baca Juga:  Khofifah Pertanyakan Pernyataan Romahurmuziy Soal Rekomendasi Haris Hasanuddin

Ditambahkan Bastian, kegagalan dunia pendidikan biasanya disebabkan oleh tidak sempurnanya proses belajar dan mengajar di kampus atau sekolah. Metode mendidik yang diterapkan oleh pengajar seringkali tidak tepat sehingga membuat siswa/mahasiswa menjadi kurang memiliki motivasi dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan pengajar.

“Situasi belajar mengajar seperti ini tidak boleh terus terjadi, harus ada evaluasi yang ketat terhadap para pengajar. Harus ada pembenahan kualitas para pengajar, baik dari sisi kesejahteraannya maupun dari kualitas para pengajar dalam mendidik siswa,” jelas Bastian.

Tak hanya, sambungnya, setiap Siswa memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap pelajaran yang diajarkan di kampus atau sekolah, dibutuhkan fleksibilitas dari para pengajar agar ia bisa menyesuaikan diri dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa yang memiliki kemampuan menyerap pelajaran yang berbeda-beda. Pengajar harus paham bahwa ada siswa yang cepat menangkap pelajaran dan ada pula siswa yang lambat dalam menangkap pelajaran. Orientasi pengajar bukan pada selesai atau tidaknya waktu mengajar melainkan keberhasilan siswa dalam menyerap pelajaran yang diajarkan.

“Ini yang harus menjadi prinsip dari para pengajar sehingga kepuasan seorang pengajar itu adalah ketika siswanya benar-benar menyerap materi pelajaran dan mendapatkan nilai yang baik secara murni dan mampu mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan nyata. Ceritakan sekolahmu maka akan kuceritakan bagaimana negaramu,” tutup Bastian.

Pewarta: Achmad S.
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler