Connect with us

Ekonomi

BPK Sebut Perusahaan yang Sering Diperiksa Tak Jamin Hebat

Published

on

Konferensi Nasional Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB) di Surabaya (Foto Dok BPK)

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Pencegahan fraud atau kecurangan dalam akuntansi tidak cukup hanya dengan pembenahan teknogi informasi yang baik, tetapi juga harus ada pembenahan moral manajemen dan para pemegang saham. Demikian kata anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Eddy Mulyadi Soepardi dalam Konferensi Nasional Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB) di Surabaya.

Menurutnya strategi internal audit untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam manajemen perbankan adalah dengan para internal auditor harus memahami dan memperkuat COSO element, walaupun ini bukan satu-satunya sistem.

“Apapun sistemnya apabila moralnya tidak selalu diingatkan dan dibawa ke governancy yang baik, maka saya yakin tidak ada jaminan fraud tidak terjadi,” ungkap dia, Jum’at (10/11/2017).

Dalam hal ini, lanjut dia, BPK tak harus juga memeriksa BUMN tetapi dapat dengan mereview Kantor Akuntan Publik yang memeriksa BUMN.

“Saya Tidak pernah membaca buku tidak ada jaminan perusahaan yang sering diperiksa itu menjadi hebat,” sambungnya.

Bagi Eddy, manajemen-lah yang harus berubah bukan karena intensitas auditnya, tetapi pola pikir manajemennya yang harus bisa mencerna keinginan pemegang saham melalui visi dan misinya. Masalahnya di Indonesia, kata dia, banyak BUMN yang menjalankan visi dan misi yang dibuat, dengan rencana kerja yang dibuat padahal fraudnya dimulai dari rencana agar tidak terlihat.

Untuk itu, internal auditor seharusnya menjadi yang pertama dapat mengungkap kasus-kasus yang bertentangan dengan visi dan misi perusahaan. “Tetapi kita juga harus yakin bahwa misi dan misi yang dibuat tidak ada unsur fraud. Peningkatan keahlian auditor internal dalam teknologi informasi dan fraud sangat penting,” tegasnya. (*)

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler