Connect with us

Hukum

Bos Agung Sedayu Group Akui Ada Pertemuan Tiga Kali dengan Anggota DPRD DKI

Published

on

Bos Agung Sedayu Group bersaksi di Tipikor, Rabu (27/7/2016)/Foto: Rede Ardiansah/Nusantaranews

Bos Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma alias Aguan bersaksi di Tipikor, Rabu (27/7/2016)/Foto: Rere Ardiansah/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Pendiri PT Agung Sedayu Group Sugianto Kusuma alias Aguan mengaku pernah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali dengan beberapa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Pengakuan itu disampaikan Aguan dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap terkait pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) mengenai reklamasi di pantai Utara Jakarta dengan terdakwa Ariesman Widjaja dan Trinanda Prihantoro.

Aguan berujar pertemuan pertama digelar pada Desember 2015 di kediamannya, pertemuan tersebut diketuai oleh Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edy. Sebelum bertandang kerumah nya, Edy menelepon terlebih dahulu. Edy menyampaikan bahwa kedatangannya hanya sekedar silaturahmi. Edy juga menyampaikan bahwa dirinya akan datang bersama anggota DPRD lainnya yakni M Taufik, M Sanusi, Ongen Sangaji, dan Selamet Nurdin. Menurut Aguan tidak ada yang salah dalam pertemuan tersebut. Aguan mengklaim pertemuan itu hanya sebatas silaturahmi.

“Mereka datang silaturahmi hari Minggu, mereka sore hari datang, ngobrol biasa saja,” kata Aguan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2016).

Saat disinggung apakah ada pembahasan terkait reklamasi dalam pertemuan tersebut? Dia mengaku tak mendengarnya, alasannya hari minggu merupakan acara kumpul keluarga. Sehingga dirinya hanya sebentar saja menemui Anggota DPRD.

“Saya keluar masuk karena keluarga banyak, saya hanya sebentar saja ke rumah. (Pertemuan) tersebut tidak lebih lewat dari setengah jam dan lalu bubar,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pertemuan kedua terjadi pada hari raya imlek tepatnya pada tanggal 8 Februari 2016. Pertemuan tersebut kembali di gelar di rumahnya Aguan. Pertemuan tersebut lebuh banyak membahas tentang NJOP (Nilai Jual Objek Pajak).

“Pas Imlek 8 Feb 2016, Prasetio Edi yang datang sama yang lain, kalau tidak salah sama pak Ongen. Pembicaraan lebih banyak bicara NJOP,” katanya.

Loading...

Pembahasan NJOP lantaran pihaknya mendapatkan kabar burung yang menyebutkan Pemda mengajukan NJOP dengan nilai yang cukup fantastis yakni Rp20 juta per meter persegi.

“Kalau Rp20 juta itu terlalu tinggi, belum lagi pembangunannya lama yakni memakan waktu 40 tahun, belum juga selesai, mau ambil harga sudah tinggi. Jadi kita rasa itu kurang fair, paling tinggi itu Rp10 juta, penggunaan tanah hanya 30 persen misalnya 300 meter, yang bisa saya jual hanya 100 meter,” keluhnya.

“Saya kasih contoh, saya tinggal di PIK, saya sampaikan ke DPRD dan Sunny jangan kasih ketetentuan seperti itu, maka sebelum kejadian kami sampaikan. Lalu Edy menyarankan saya untuk berbicara dengan Taufik, Edy kasih ke Taufik melalui telepon, saya jelaskan ke Taufik, tapi Taufik bilang bukan bidang dia katanya. Sama saya jelasin seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu saat ditanya kenapa Pemda memberikan nilai NJOP Rp20 juta? “Saya tidk tahu kenapa Pemda masukan NJOP segitu, setahu saya ada tim khusus yang bahas itu, bahkan Gubernur (Ahok) pun tidak bisa,” katanya.

Kembali kepada pertemuannya dengan Anggota DPRD, pertemuan yang ketiga di gelar pada Maret 2016. Pertemuan tersebut digelar di kantor PT APL yakni di Harco Mangga Dua.

“Ada, pak sanusi di kantor, Harco mangga dua. Sekali atau dua kali saja, dalam pertemuan tersebut ada Ariesman juga, sama anak saya (Richard Halim Kusuma) mereka ngobrol-ngobrol,” imbuh Richard.

“Saya ingat-ingat dulu, sudah datang kita ngobrol-ngobrol ringan. Karena Selasa banyak tamu. Jadi pak Ariesman yang banyak temenin Sanusi. Saya tidak mendengar mereka berbicara tentang apa, dan tidak lama ketemunya,” katanyan.

Diakuinya dalam pertemuan tersebut ada pembicaraan mengenai Raperda Reklamasi. “Tapi saya tidak pernah masukin detail, saya cuma mau tahu kenapa Perda belum kunjung selesai,” tukasnya. (restu)

Terpopuler