Connect with us

Politik

Boni Hargens Beberkan Sejumlah Tantangan Jokowi dan Prabowo Usai Terpilih Jadi Presiden

Published

on

Pengamat politik Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens.

Pengamat politik Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens. (Foto: Kompas)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens memaparkan hasil evaluasi kualitatif LPI yang dilakukan selama tiga bulan belakangan terkait proyeksi kalkulatif masa depan Indonesia seperti apabila Jokowi atau Prabowo yang terpilih pada Pilpres 2019.

Boni mengangkat sejumlah aspek yang coba dibangun kedua kandidat. Menurutnya, pasangan capres-cawapres nomor urut 01 lebih fokus pada pemerataan pembangunan, infrastruktur, kemaritiman dan lain-lain. Sedangkan pasangan calon nomor urut 02penekanannya pada nasionalisme ekonomi.

“Ini menarik karena dalam pernyataan terbuka, agak menarik karena dalam beberapa hal paslon ini juga menyatakan ekonomi liberal. Lalu ada wacana NKRI syariah, isu ketimpangan ekonomi dan instabilitas harga,” kata Boni saat diskusi bertajuk Membaca Masa Depan: Seperti Apa Indonesia Jika Jokowi atau Prabowo Terpilih? yang diselenggarakan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Dari aspek strategi kampanye, kata dia, kubu paslon nomor 01 menggunakan strategi positive campaign. “Tapi, ada pergeseran sejak Oktober 2018, kubu ini ingin meniru strategi negative campaign seperti yang digunakan kubu paslon nomor 02. Paslon nomor  02 fokus pada negative campaign dan bergeser menjadi black campaign contohnya Jokowi PKI, anti Islam dan lain-lain,” urainya.

Lalu seperti apa jika kedua paslon itu terpilih? “Pada level kepemimpinan politik, fokus pada Kita punya keyakinan bahwa jika Paslon 01 menang, NKRI dan Pancasila tidak akan diganggu gugat,” paparnya.

Sementara jika paslon 02 menang, kata Boni, mereka berhasil membangun persepsi masyarakat secara cepat dan mengobok-obok emosi kolektif masyarakat. Hal ini positif, kata dia, untuk memenangkan pertarungan politik. Tetapi juga negatif karena akan melahirkan pemerintahan yang ‘ahli bicara’, bukan ahli bekerja.

Baca Juga:  Meski Jalur Eropa Dibuka, Maskapai Indonesia Dipastikan Sulit Bersaing

“Dukungan ormas garis keras seperti HTI, FPI berikut kubu Cendana di belakang pasangan Prabowo-Sandi merupakan indikasi kuat bahwa Prabowo-Sandi akan mendaur ulang rezim Orba dalam varian yang lebih buruk karena ada perkawinan antara rezim otoriter dan pro-khilafah,” sebutnya.

Boni menambahkan, tantangan terberat jika Prabowo-Sandi menang ialah meredam kekuatan sosial politik ormas garis keras dan kubu Cendana. “Saya tidak yakin, Prabowo-Sandi punya kapasitas untuk melakukan penetrasi terhadap kekuatan tersebut,” ujarnya.

Berikutnya dalam konteks ekonomi. Boni memandang, paslon nomor 01 mengusung konsep ekonomi keumatan yang merupakan arus baru perekonomian Indonesia, yang menjadi jalan tengah terbaik untuk mendamaikan ekonomi pasar dengan ekonomi umat atau rakyat.

“Fokusnya mengatasi ketimpangan. Ekonomi keumatan tidak hanya didasarkan pada hukum pasar. Negara melakukan redistribusi aset dan memperluas program dan agenda kemitraan dengan kelompok ekonomi masyarakat yang berbasis koperasi sekaligus memperkuat peran pesantren seagai motor perekonomian di sektor hilir,” terang Boni.

Jika paslon 02 yang terpilih, lanjutnya, secara umum visinya merupakan kombinasi prinsip liberal dan nasionalisme ekonomi kerakyatan.

“Di atas kertas, ada 36 aksi program ekonomi Prabowo-Sandi. Tetapi secara umum, sebagian besar sudah dilakukan di masa pemerintahan Jokowi-JK (2014-2019). Dengan kata lain, tidak ada hal yang baru dalam misi ekonomi Prabowo-Sandi. Selain itu, tidak sedikit agenda ekonomi tersebut yang debatable dan kontroversial,” papar dia.

Pada dimensi budaya, Boni menambahkan, jika Jokowi terpilih tidak akan ada benturan dengan otentisitas budaya nasional dan budaya lokal. Dia menilai pasangan 02 dapat mengabstrasikan budaya lokal dan nasional menjadi kekuatan, setidaknya dapat bertahan dari arus besar budaya global.

“Bila Prabowo yang terpilih, ada indikasi dan potensi menguatnya budaya Islam dalam khasanah kebudayaan lokal dan nasional. Ada potensi benturan perkembangan budaya arabisme dengan budaya nasional. Ada indikasi dan potensi faktor agama menggeser tradisi dan budaya lokal. Ada kecenderungan kebangkitan gerakan populisme-ekslusifisme Islam yang berpotensi menggusur kebudayaan Indonesia,” jelas Boni.

Baca Juga:  Impor Daging Ayam Dari Brasil Mengancam Nasib Peternak Ayam di Jawa Timur

(eda/edd)

Editor: Almeiji Santoso

Loading...

Terpopuler