Connect with us

Budaya / Seni

Bintang Semesta – Cerpen Nanda Rista Novianti

Published

on

Ilustrasi: Istimewa

Ilustrasi: Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Malam yang temaram itu masih setia ditemani bulan yang bersembunyi di balik mendung dan bintang-bintang yang bertebaran meski samar cahayanya. Di bawah langit itu masih setia seseorang yang enggan beranjak dari bangkunya, meski dinginnya malam menusuk sum-sum tulang. Gadis yang sama dan tatapan memujanya terhadap bintang yang masih sama. Lima belas tahun yang lalu, di tempat yang sama masih terdengar samar janji yang mereka ucapkan untuk selalu melihat bintang bersama-sama. Janji dua remaja berusia 13 tahun yang masih murni untuk diabaikan.

“Daniel kamu masih ingat kan janji kita?” Gadis itu mengirimkan sebuah pesan whatsapp dengan isi yang persis setiap tahunnya. Lagi-lagi dia berharap sekali saja agar pesan itu terbalas. Gadis itu hanya tersenyum lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia harus mengerti akan situasinya sekarang, mungkin Daniel masih menepati janjinya walaupun bukan di sini bersamanya, hiburnya dalam hati.

Alunan dan hentakan musik beat memenuhi setiap sudut kafe. Dengan ukuran yang cukup besar tv layar datar itu mampu menjadi pusat perhatian apalagi dengan suguhan acara paling terkenal yang sedang berlangsung sekarang.

“Hana, Daniel makin ganteng deh? Coba lihat setiap orang pasti akan mikir 1000 kali untuk melewatkan penampilannya. Ih aku meleleh banget lihat senyumnya…” celoteh Yura yang sedari tadi tatapannya tak lepas dari tv.Hana hanya tersenyum, Daniel memang sangat terkenal setelah debut pertamanya. Bukan hanya satu kampung bahkan satu negara pun sangat mengelu-elukannya. Meskipun semua terasa semakin berubah, Hana hanya berharap suatu hari nanti Daniel dapat menepati janjinya.

Di teras perpustakaan kampus, Hana duduk di bangku yang terletak di sudut teras sesekali ia memandang lepas lapangan yang berada di depannya. Entah mengapa meskipun Daniel tak pernah berkunjung ke kampusnya ia merasa Daniel berada di mana-mana. Ah rindunya kepada laki-laki itu semakin parah, Hana menghela nafas berat.Ia harus bertemu Daniel, tekadnya bulat. Sore di hari Sabtu itu, Hana menunggu di depan asrama tak lupa dengan renteng makanan yang berisi nasi uduk dan semur tahu bacem kesukaan Daniel.

“Selamat sore, Pak”, Hana membungkukkan badan menghormati orang yang ia temui.

“Ah ya, selamat sore juga. Kau Hana kan yang menghubungiku tadi?”, Hana tersenyum dan mengangguk. Orang yang sedang berbicara dengan Hana adalah manajer Daniel. Tentu saja siapapun tamu yang akan menemui Daniel harus melalui ijinnya.

“Kau bisa menunggunya sebentar di sini aku akan memanggilnya”, ucapnya lalu berlalu. Saat pikiran dan hatinya bergumul memikirkan Daniel seseorang yang familiar menghampirinya.

“Kau mencari Daniel kan? Pasti kau yang namanya Hana?” ucapnya tanpa basa-basi lalu duduk di samping Hana. Hana tentu saja kaget, ia menatap orang tersebut dengan gugup mencoba mencerna siapa gerangan orang yang duduk di sampingnya ini.

“Kak Lucas, Ah aku hampir tak mengenalimu. Kau lebih tampan bila dilihat langsung. Kau tahu aku sangat mengagumimu kak”, celoteh Hana antusias. Apa yang kau rasakan bila bertemu idolamu langsung? Itulah yang Hana rasakan sekarang.

“Aku merasa terhormat bisa jadi idolamu, Hana. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi?” Lucas menatap Hana dengan ramah tak lupa senyum yang masih terpasang di bibirnya.

“Iya kak, aku ke sini untuk menemui Daniel. Ini ada titipan dari orangtuanya untuk anak kesayangan mereka”, Lucas mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba tangan Hana ditarik oleh seseorang yang dirindukannya ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Lucas hanya memandang kepergian mereka dengan gelengan kepala dan senyum tipis.

“Untuk apa kau ke sini?” begitulah sambutan Daniel atas kedatangan Hana. Hana bahkan sudah kebal dengan sikap Daniel.

“Aku hanya memberikan titipan orangtuamu. Mereka sangat merindukanmu, Daniel”, begitupun aku tambahnya dalam hati. Secuek apapun sikap Daniel tapi Hana tetap saja merindukannya.

“Kalau hanya itu saja. Kau bisa pergi sekarang”, ucap Daniel lalu meraih renteng makanan yang dibawa Hana. Hana mengangguk lemah. Sebelum Hana pergi ia menatap Daniel cukup lama menyimpan setiap inchi lekuk wajah Daniel dan menyimpannya rapat sebagai simpanan asupan energi ketika besok ia merindukannya lagi.

“Aku juga merindukanmu Daniel, sangat”, ucap Hana lirih hingga tak siapapun bisa  mendengarnya.

“Kau berkata apa tadi?” tanya Daniel yang ternyata samar-samar mendengar ucapan lirih Hana. Hana gugup ia tersenyum asal.

“Tidak ada. Jaga selalu kesehatanmu Daniel, kalau ada waktu kau harus pulang kasihan ayah dan ibumu mereka pasti sangat merindukan anak semata wayangnya ini. Aku pulang ya…”, Hana tersenyum tipis dan berlalu. Daniel menatap kepergian sahabat karibnya itu dalam diam. Ia bernafas lega ketika melihatnya baik-baik saja. Maafkan aku yang belum menepati janjiku, pandangannya menerawang jauh lalu ia menghembuskan nafasnya kasar.

“Hai, Daniel kau tidak perlu mengabaikannya terus. Dia sepertinya wanita yang baik dan penurut”, tiba-tiba saja Lucas sudah duduk di samping Daniel yang sedang mencoba mengarang sebuah lagu dengan gitarnya. Meskipun ia tidak pernah membawa gitar saat manggung, siapapun akan mengacungkan jempolnya jika Daniel mulai memainkan gitarnya. Daniel adalah pentolan boy band ternama di negara ini yang dikenal melalui konsep koreografi dance yang begitu memukau.

“Aku hanya tidak mood bertemu siapapun hari ini”, ucap Daniel masih fokus menulis lirik di kertas kecil sembari sesekali memetik gitarnya.

“Kau suka dengannya?”, Daniel berhenti lalu menatap Lucas sejenak ia tertawa kecil.

“Kami hanya sebatas teman kecil”, lalu Daniel memfokuskan kembali pada secarik kertas di depannya. Lucas hanya mengangguk mencoba mengerti meskipun belum sepenuhnya mengerti ia merasa ada sesuatu yang masih tersembunyi pada ucapan Daniel tadi.

Di kamar yang gelap dengan penerangan minim, seseorang meringkuk di bawah bantal berungkali menatap layar handphonenya dan menggesernya ke atas ke bawah tanpa bosan. Ingin sekali ia membuka puluhan isi chat seseorang yang bahkan ia tak tahu kapan terakhir ia membukanya. Ia hanya takut ketika tahu isinya ia akan mundur dan melupakan tujuan awalnya di sini. Ia di sini untuk mewujudkan harapan seseorang, hanya itu yang ia tahu.

Pada suatu sore, Hana seperti biasa duduk di bangku taman menunggu datangnya senja, malam dan bintang. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya lembut, Hana segera berbalik menatap gerangan yang menepuk bahunya. Seseorang dengan topi hitam itu tersenyum manis, Hana hampir saja terlonjak kaget kalau orang yang menepuk bahunya tadi adalah Lucas.

“Kau terkejut ya”, Lucas terkekeh kecil sambil duduk di samping Hana.

“Iya sedikit kak, aku kira tadi bukan kak Lucas. Aku hanya tidak menyangka kak Lucas bisa berkeliaran di tempat umum seperti ini. Ya walaupun tetap ada sedikit penyamaran”, Lucas kembali tertawa. Hana pun ikut tertawa kecil.

“Aku juga manusia Hana. Aku bukan seperti Daniel yang tidak pernah keluar.”

“Kenapa dia tidak pernah keluar padahal kak Lucas saja bisa?”

“Daniel memang tidak mau Hana bukan tidak bisa. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Bukannya kalian dekat ya?” Hana sedikit gugup.

“Emm… Kami memang dekat saat masih kecil tapi bukan untuk sekarang. Aku bahkan merasa dia berubah jadi orang asing.”

“Dia masih sama Hana, kau harus tahu itu. Mungkin ia melakukan ini karena dia takut kalau kau tahu dia menyukaimu” Hana terkejut atas perkataan Lucas.

“Kak Lucas bercanda kan tadi?”

“Aku pandai membaca mata seseorang Hana dan saat ini tebakanku tentang Daniel juga tidak akan meleset. Ya walaupun Daniel sering mengelaknya bilang bahwa kalian hanya teman kecil. Hana sudah ya aku pamit waktuku untuk bersantai sudah selesai. Ingat Hana kau jangan suka sendirian di taman, berbahaya untuk gadis baik sepertimu.”

Tibanya di asrama kebetulan Daniel sedang bersantai setelah berlatih koregrafi dance terbarunya. Lucas menghampiri Daniel yang tengah menenggak sebotol air mineral dengan minat.

“Aku tadi bertemu Hana di taman, Daniel”, tiba-tiba saja Daniel tersedak ketika nama Hana disebut.

“Kau tahu dia sangat terkejut ketika aku mengatakan kau menyukainya. Jujurlah Daniel, kau benar-benar menyukainya kan?” tiba-tiba darah Daniel mendidih ia menarik paksa kerah Lucas dan menariknya berdiri. Lucas tentu saja terkejut namun ia dapat mengendalikan dirinya. Beruntung hanya mereka berdua yang ada di ruangan ini.

“Maksudmu apa hah?” Daniel menatap Lucas dengan amarah yang membumbung tinggi.

“Aku hanya mengatakan apa yang tercetak jelas di matamu Daniel.”

“Kau harusnya berpikir seribu kali sebelum mmengatakan itu”, Daniel berbalik dan berlari meninggalkan Lucas. Lucas tahu ke mana Daniel akan pergi. Lucas tahu ia salah tapi ia hanya tidak ingin Hana menunggu terlalu lama.

Daniel mengendarai mobilnya dengan kasar tidak peduli dengan pakaian yang sekarang ia pakai. Fokus pikirannya hanya tertuju pada Hana. Sesekali ia meraba ponselnya, ia ingin sekali menghubungi dan membuka chat gadis itu tapi egonya menekan kuat-kuat. Ia hanya perlu menemuinya langsung dan mengatakan semuanya. Pikirnya kalang kabut seakan tidak bersama dirinya. Ia menambah kecepatan secepat yang ia bisa tiba-tiba handphonenya berdering dan nama Hana tertera di sana. Tangan Daniel bergetar penglihatannya tiba-tiba tidak fokus dan sesuatu di depan tiba-tiba menghantamnya keras. Maafkan aku Hana itulah yang ia ucapkan sebelum semuanya menggelap dan pekat.

Hana mencoba memastikan apa yang diucapkan oleh Lucas tadi tetapi Daniel tidak juga mengangkat teleponnya. Selang beberapa menit tiba-tiba orangtuanya Daniel menelponnya.

“Iya ibu, ada apa?”

“Apa ibu? Daniel kecelakaan? Iya Hana akan ke sana sekarang. Ibu tenang ya Hana akan segera sampai”, ketika panggilan berakhir handphone yang Hana genggam meluncur begitu saja lutut Hana melemas seketika. Daniel kecelakaan? Ini seperti mimpi. Apa tadi saat ia menghubunginya Daniel sedang dalam perjalanan. Tangisnya pecah begitu saja namun ia sekuat tenaga berlari. Ia harus segera bertemu Daniel.

“Ibu bagaimana keadaan Daniel?” Tangis Hana tak henti-hentinya surut ia memeluk Ibu Daniel erat seakan mencari sedikit energi agar ia tetap bisa berdiri.

“Daniel pasti baik-baik saja Hana. Dia tidak akan meninggalkan kita”, ucap Ayah Daniel mencoba menenangkan dua sosok wanita yang begitu berharga.

Sudah satu minggu Daniel masih belum sadar, banyak ucapan yang datang agar Daniel lekas sembuh dan kembali beraktifitas seperti sedia kala. Tak terkecuali Lucas dia menceritakan semuanya pada Hana, ia menyesal karena mengakibatkan semua ini. Hana tertegun mendengar penjelasan Lucas, jadi Daniel ingin menemuinya sebelum kecelakaan?

Di suatu sore, giliran Hana untuk menjaga Daniel. Hana menatap wajah yang terlelap tenang itu dengan hampa, tiba-tiba gerakan kelopak mata halus membuatnya terkejut mata itu perlahan terbuka.

“Daniel kau sudah sadar?”, Daniel hanya menggumam pelan. Hana segera memanggil dokter yang sedang bertugas. Dokter segera memeriksa keadaan Daniel.Tiba-tiba saja Daniel menggeram keras sambil memegang kaki kirinya. Hana dan dokter panik akan reaksi Daniel. Dokter segera memeriksa kaki Daniel, semburat kesedihan tiba-tiba menyeruak.

“Maaf dengan sangat, kalau ternyata kaki kiri Anda lumpuh. Kami terlambat menyadarinya. Kami tidak tahu apakah ini permanen atau sementara yang jelas kami akan melakukan yang terbaik” guntur seakan menyambar Hana dan Daniel. Tangis Hana pecah, sedangkan Daniel berteriak frustasi atas keadaannya. Hana merengkuh Daniel mencoba menenangkannya.

“Daniel kau tidak perlu khawatir kau punya kami yang akan selalu di sampingmu. Aku janji sedetikpun aku akan selalu bersamamu”, janji Hana pada Daniel.

Selang satu jam orang tua Daniel datang kembali. Mereka mencoba menguatkan sang anak semata wayang.

“Ibu dan Ayah akan selalu bersamamu, Nak. Daniel kami pasti bisa”, itulah yang mereka katakan pada Daniel.

Malamnya setelah sedikit tenang, Hana mengajak Daniel ke luar melakukan hal yang biasa mereka lakukan saat kecil, melihat bintang. Hana mendorong kursi roda Daniel sampai di taman rumah sakit.

“Kau tahu Daniel aku sangat menunggu momen ini terjadi, di mana kita berdua bisa melihat melihat bintang bersama-sama lagi, seperti saat kita masih kecil.”

“Hana kau tidak marah?”

“Marah? Marah untuk apaDaniel?”

“Kau sudah tahu apa yang diucapkan Lucas kan?Aku tidak mengelaknya. Maafkan aku Hana seharusnya aku hanya menjadi seorang kakak untukmu dan menjadi sosok yang kau impikan. Menjadi sang idola. Tapi sekarang aku sudah merusak semuanya. Kepercayaanmu dan harapanmu. Aku tidak berarti lagi sekarang Hana”, Daniel terisak pelan. Hana tersenyum ternyata Daniel melakukan semua ini untuknya. Ia duduk di depan Daniel merengkuhnya dan menghapus pelan air mata Daniel.

“Daniel, bagiku kau di sini saja semua terasa sempurna. Kau harusnya tahu kau sudah jadi idolaku bahkan sebelum kau setenar ini. Daniel memang dulu aku menganggapmu sebagai kakakku, tapi entah sejak kapan rasa itu berbeda. Saat kau jauh dariku ternyata aku sangat sulit menjalani hidup namun ketika aku melihat wajahmu dilayar kaca energiku serasa kembali. Kau lebih dari apapun sekarang Daniel. Kaulah bintang semestaku.”

Daniel tersenyum, ia lega semuanya baik-baik saja. Ia percaya bahwa ucapan Hana benar dan itulah yang akan jadi motto hidupnya sekarang.

 

Nanda Rista Noviati lahir di Rembang, 18 November 1997. Suka menulis. Bisa dihubungi melalui facebook dengan nama Nanda Rista Noviati. Motto: “Never Give Up.”

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Advertisement

Terpopuler