Connect with us

Ekonomi

Bidik Pemilih Milenial, Airlangga Dinilai Berusaha Perkenalkan Revolusi Industri Keempat

Published

on

Robot polisi operasi pertama di dunia berdiri di depan Dubai Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia pada 31 Mei 2017. (Foto: AFP)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Founder Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali mengomentari langkah Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang dinilainya sedang membawa Indonesia masuk ke dalam revolusi industri keempat.

“Betapa peradaban sudah berubah. Kita memasuki revolusi industri keempat, yang bersandar pada artificial inteligence, robot, internet of things, virtual community, nano technology, 3D-printing, bio technology, Chripto currency, dan aneka istilah yang kita belum terlalu akrab,” kata Denny JA dikutip dari keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (5/3/2018).

Kata Denny JA, berita 5 Maret 2018 Airlangga Hartarto menghadiri wisuda Universitas Muhammadiah Malang (UMM) ke -86. Tak banyak yang tahu, ternyata team robot universitas ini menang kontes internasional pada Conity College Fire Fighting Home Robot Contest di Amerika Serikat.

BACA: Mengenal Revolusi Industri Keempat

Dalam acara itu, Airlangga Hartarto hadir sebagai menteri industri. Ia singgung pula data yang mungkin belum banyak publik Indonesia sadar. Betapa sebagai negara industri, Indonesia kini masuk dalam rangking 10 besar tingkat dunia. Indonesia sejajar dengan Inggris dan Brazil, bahkan di atas Rusia. Sumbangan sektor industri kepada ekonomi nasional lebih dari 20 persen.

Airlangga Hartarto bahkan melangkah lebih jauh. Ia mencanangkan empat langkah strategis membawa Indonesia masuk ke dalam revolusi industri keempat.

Pertama, IOI (Internet of things). Sebanyak mungkin indonesia perlu melibatkan industri agar terintegrasi dengan internet. Ini era yang semakin lama dunia terhubung dalam koneksi internet.

Tak hanya ada smart phone atau smart city, tapi juga smart labour. Semakin banyak pekerja yang mendaya gunakan fasilitas yang tersedia karena hadirnya peradaban internet.

Kementriannya menginisiasi pendidikan advokasi, sehingga tercipta link and match antara SMK dan industri. Ia menyiapkan tenaga kerja yang terampil, fasih dengan perkembangan baru, satu juta orang hingga 2019.

Kedua, tak hanya industri skala besar, bahkan industri skala kecil dan menengah (IKM) disiapkan masuk ke era itu. Kementriannya menyiapkan E-Smart IKM memperluas jaringan dan mempermudah IKM bahkan ke dunia ekspor.

Ketiga, ini era Big Data, Robot Otomatis, Cybersecurity, Cloud, Augmented Reality, dan aneka istilah teknologi super canggih lain. Teknologi ini bisa menghemat biaya produksi hingga 12-15 persen.

Yang istimewa, kehadiran teknologi tinggi tetap menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (labour intensive). Itu sudah ditunjukan dalam usaha industri makanan dan minuman.

Keempat, memgembangkan tempat inkubasi bisnis, start up, dan technopark di beberapa wilayah Indonesia. Antara lain: Bandung Technopark, Tohpati Center (Denpasar), Incubator Business Center Semarang, Makasar Techno Park.

“Aneka lokasi itu memfasilitasi dan mensimulasi lingkungannya. Siapapun yang tergerak dalam start up business, yang ingin memulai usaha, dan terhubung dengan revolusi industri keempat dapat menggunakannya,” katanya.

Menurut Denny, empat strategi yang diperkenalkan Airlangga jika berhasil makai a tak hanya menjalankan kerja seorang Menteri bagi pemerintahan Jokowi.

“Airlangga memberikan efek lebih jauh. Ini adalah kerja peradaban. Airlangga akan dikenang ikut menumbuhkan dan menyebar benih revolusi industri keempat ke dalam evolusi budaya Indonesia,” katanya.

Menurutnya, tentu saja Airlangga mengerjakan empat strategi itu bukan dalam kapasitasnya sebagai ketua umum Golkar. Namun dalam opini publik, apapun yang melambungkan Airlangga, akan pula melambungkan lingkungannya. Sebaliknya, apapun yang menjatuhkan Airlangga, akan pula menjatuhkan lingkungannya.

“Ini era generasi milenial. Secara elektoral, ini usia pemilih dari 17 tahun hingga 37 tahun. Total jumlah mereka sekitar 40 persen dari total pemilih. Mereka adalah generasi yang peka teknologi tinggi. Dibanding generasi sebelumnya, mereka lebih antusias pada revolusi industri keempat,” jelasnya.

Ke depan, kata dia, generasi ini akan dominan. Siapun yang bisa mengambil hati generasi ini akan menguasai pemilu Indonesia.

Jika empat strategi Airlangga itu berhasil, tentu saja punya efek elektoral tak hanya pada Airlangga pribadi. Efeknya juga terasa pada Jokowi, bahkan Partai Golkar. Efek itu lebih terasa pada segmen pemilih milenial.

“Tapi peradaban tak hanya soal pemilu. Membawa teknologi tinggi untuk memajukan bangsa, itu yang utama. Efek paling dalam dan lebih penting tentu tak hanya terbatas pada efek elektoral, tapi efek kesejahteraan publik dan kemajuan peradaban,” tutupnya.

Pewarta: Alya Karen
Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler