Connect with us

Artikel

Benarkah Teroris Orang Gila?

Published

on

teroris gila, orang gila teroris, teroris psikotik, membunuh orang, serangan bunuh diri, unabomber, ted kaczynski, anders breivik, khalid sheikh mohammed, mayor nidal hasan

(Foto: Ilustrasi/IST)

NUSANTARANEWS.CO – Benarkah asumsi bahwa teroris gila, atau psikotik. Logika di balik asumsi ini adalah sederhana. Mengapa orang membunuh orang yang yang tidak bersalah, mengapa mereka bahkan, dalam beberapa kasus, membunuh diri mereka sendiri setelah bertindak.

Dalam pandangan masyarakat umum, perilaku ini jelas jenis perilaku yang sulit untuk dipahami, khususnya, ide serangan bunuh diri. Bagaimana seseorang dapat melakukan hal itu? Apakah mereka berbeda dari kita? Apakah mereka menderita gangguan sosial, psikologis? Atau mereka sama dengan orang-orang yang tidak melakukan serangan teroris?

Berikut mari kita perhatikan beberapa orang yang di anggap teroris, dan di hukum sebagai teroris. Mereka bahkan di beri label oleh masyarakat umum sebagai orang gila. Misal Ted Kaczynski, yang disebut sebagai Unabomber. Orang yang mengirim sebuah bomb letter (bom surat) ke universitas.

Lalu Anders Breivik, orang yang membunuh begitu banyak orang di Norwegia, beberapa tahun yang lalu. Kemudian Richard Reid, shoe bomber, orang yang mencoba meledakkan pesawat, dengan bom yang disembunyikan di sepatunya. Khalid Sheikh Mohammed, dalang 9/11, tidak hanya melakukan serangan, tapi ia juga merencanakannya. Bisakah dia dianggap gila? Atau Mayor Nidal Hasan, yang bekerja untuk Angkatan Bersenjata AS, seorang psikiater yang membunuh 13 rekan-rekannya di Fort Hood, Texas. Dan yang terakhir Omar Mateen tentunya, pelaku penembakan massal di Orlando yang menewaskan 50 orang  lebih termasuk dirinya. Apakah mereka semua gila atau tidak, apakah mereka benar-benar berbeda dari kita?

Mungkin sangat sulit bagi kita untuk mencoba memahami mengapa seseorang mengirim sebuah bom surat, dan sadar bahwa akan ada orang terluka atau terbunuh. Atau bagaimana seseorang seperti Richard Reid, mencoba untuk meledakkan pesawat. Atau merencanakan sebuah pembunuhan ribuan orang di New York, atau membunuh rekan-rekan sendiri. Nah, bagaimana dengan Omar Mateen, yang membantai sesama gay di klub gay Orlando, teroris atau orang gila?

Seringkali sebuah tindakan kekerasan telah membangkitkan kemarahan moral yang kuat sehingga menghambat kita untuk menganalisis dengan tepat, obyektif dan rasional untuk memahami apa yang ada dalam pikiran pelakunya.

Dalam beberapa kasus pembunuh massal dan penembak sekolah telah di diagnosis dengan penyakit mental, dan teroris sering dimasukkan ke dalam kategori yang sama. Sebuah kategori yang sama dari orang yang menggunakan kekerasan tanpa pandang bulu dan acak, meski sesungguhnya sangat berbeda.

Baca juga: Kemiskinan Menyebabkan Terorisme, Fakta Atau Mitos?

Perbedaan utama antara pembunuh massal dan penembak sekolah di satu sisi dan teroris di sisi lain adalah tidak bermotif politik. Bila kita setuju dengan definisi terorisme sebagai instrumen untuk mencapai tujuan politik tertentu, maka jelas ada perbedaan mendasar dalam hal rasionalitas. Jika sebuah serangan terkait dengan beberapa ide ideologi, apakah masih dapat disebut sebagai gila, atau perilaku orang gila? Seperti kita ketahui bersama bahwa istilah seperti gila dan waras adalah konsep subjektif, sangat tergantung siapa yang mendefinisikan.

Nah, bagaimana para pakar menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Pada artikel terdahulu kita telah membahas pendekatan studi terorisme, salah satunya adalah pendekatan rasional atau instrumental.

Pendekatan ini dengan tegas menolak gagasan bahwa teroris gila. Terorisme adalah perilaku rasional. Terorisme membunuh adalah untuk mencapai suatu tujuan politik tertentu. Jadi, mereka tidak membunuh karena mereka gila, mereka membunuh untuk mencapai sesuatu. Demikian pula dalam pendekatan sosial-psikologis, ada konsensus bahwa teroris tidak gila.

Jerrold Pos misalnya, salah satu tokoh terkemuka di bidang psikologi teroris, penulis buku The Mind of Teroris, dengan tegas mengatakan bahwa teroris secara psikologis normal. Mereka tidak tertekan, dan tidak mengalami gangguan jiwa  atau emosional yang parah. Mereka juga tidak fanatik buta. Bahkan, organisasi teroris secara teratur menyingkirkan individu yang secara emosional di anggap tidak stabil. Mereka sangat teliti dalam hal risiko keamanan. Sehingga mereka tidak membiarkan orang gila masuk menjadi bagian dari organisasi mereka. Ada seleksi yang ketat.

Sedangkan Louise Richardson, mencatat bahwa pada tingkat psikologi individu tidak ada kepribadian teroris yang gila, karena tidak konsisten dengan bukti empiris di lapangan. Seorang sarjana Israel, Ehud Sprinzak, yang menganggap teroris adalah seorang fanatik, menyebut mereka fanatik rasional, bahkan termasuk untuk menggambarkan pelaku bom bunuh diri.

Singkatnya, kita harus menggali lebih dalam lagi ide bahwa teroris gila. Sebab dalam penelitian akademik menunjukkan bahwa teroris secara klinis normal. Ini berarti asumsi bahwa teroris gila adalah palsu. (Agus Setiawan/diolah dari berbagai sumber)

Terpopuler