Connect with us

Mancanegara

Beijing Cemas, Situasi Hongkong Makin Tidak Terkendali

Published

on

Beijing Cemas, Situasi Hongkong Makin Tidak Terkendali

Beijing Cemas, Situasi Hongkong Makin Tidak Terkendali/Foto: Voice of the cafe

NUSANTARANEWS.CO – Beijing cemas, situasi Hongkong makin tidak terkendali. Pada hari Minggu, para pengunjuk rasa menguasai jalan utama di sebuah distrik perbelanjaan Hongkong, kerumunan besar masa tersebut membuat barikade untuk memblokir daerah itu. Kejadian itu sungguh tak terduga karena berawal dari unjuk rasa singkat di sebuah taman umum untuk menentang tindak kekerasan polisi yang membubarkan protes pada minggu lalu, termasuk penggunaan gas air mata dan peluru karet.

“Add oil, add oil…” Lautan masa pengunjuk rasa dengan menggunakan baju hitam, helm dan topeng kuning cerah sambil berteriak mengalir keluar dari Chater Garden, sebuah taman di distrik keuangan Hongkong. Frasa “Add oil” atau tambahkan minyak, adalah frasa penyemangat para demonstran yang berarti terus berjuang.

Kerumunan masa terus berbaris melalui jalan-jalan lebar di Hongkong tengah dalam demonstrasi terbaru. Hong Kong spring mulai bersemi.

Dalam bentrokan terakhir, Polisi telah menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Polisi juga telah menahan sedikitnya 49 orang pengunjuk rasa. Konfrontasi ini terus berlanjut hingga senin dini hari. Pemerintah Hongkong mengabarkan bahwa 16 orang cedera dalam bentrokan tersebut.

Situasi politik Hongkong terus memburuk setelah terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dengan polisi yang mengambil langkah keras pada hari Minggu (28/07/2019). Aksi protes terus berlanjut untuk menolak rancangan undang-undang ekstradisi yang akan memungkinkan pemerintah mengalihkan tersangka ke Cina daratan.

Loading...

Pengunjuk rasa yang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda kerap terlibat pertikaian dengan dengan polisi di sepanjang jalanan menuju kantor Penghubung Cina daratan, serta di distrik komersial. Anak-anak muda melawan petugas kepolisian dengan melemparkan batu bata yang mencoba memukul mundur mereka dengan cara membakar potongan kardus di dalam gerobak.

Baca Juga:  Belajar Berkelompok dan Manfaatnya Bagi Siswa dalam Pembelajaran Aktif

Sementara kelompok lain mengotori kantor dan mencipratkan tinta hitam pada lambang nasional Cina, yang menimbulkan kemarahan Beijing.

Pemerintahan Hongkong telah dihancurkan oleh aksi protes selama tujuh minggu, penolakan terhadap RUU ekstradisi telah berkembang menjadi tuntutan untuk pengunduran diri pemimpin kota dan penyelidikan terhadap aparat kepolisisan yang dianggap bertindak berlebihan.

Gerakan Hongkong Spring tampaknya mulai menuntut pelaksanaan demokrasi penuh di kota pulau ini. Di mana pemilihan pemimpin kota harus dilakukan secara langsung tidak lagi oleh komite yang didominasi elit pro-Beijing.

Aksi masif demonstran muda di jalan-jalan Hong Kong ini berturut-turut hingga pekan ke delapan telah memicu kekhawatiran mendalam di Beijing.

Para pengunjuk rasa dan polisi saling berhadapan di jalan-jalan hingga malam, dan terus berulang selama aksi protes pro-demokrasi berlangsung. Pengunjuk rasa juga memindahkan pagar dari jalan untuk membuat barikade, sementara kelompok lain mengepung dan merusak kendaraan polisi. Batu bata terus beterbangan menghujani polisi.

Petugas kemudian menembakkan gas air mata dan peluru karet sambil menghindari lemparan batu bata dan benda-benda lainnya di balik perisai. Belakangan, polisi kemudian mengenakan helm dan gas air mata untuk membubarkan para pengujuk rasa. Petugas menggunakan tongkat mereka untuk membubarkan para demonstran, darah pun berceceran.

Kelompok hak asasi manusia Amnesty International menyebut tindakan polisi itu berlebihan dan tidak dapat diterima. Polisi pun berdalih bahwa mereka harus menggunakan apa yang mereka sebut “kekuatan yang tepat” untuk menghadapi lemparan batu bata dan benda-benda lain ke arah mereka, termasuk botol kaca yang diduga berisi cairan korosif di dalamnya. (Alya Karen)

Loading...

Terpopuler