Connect with us

Politik

Begini Cara Aktivis Memandang Media Mainstream di Indonesia

Published

on

Eks relawan Jokowi tahun 2014, Ferdinand Hutahaean. Foto via Kabarterbaru
Eks relawan Jokowi tahun 2014, Ferdinand Hutahaean. Foto via Kabarterbaru

NUSANTARANEWS.CO – Founder Rumah Amanah Rakyat Ferdinand Hutahaean menyatakan, Media, tidak lagi memberitakan tentang kebenaran. Akan tapi, media memberitakan persepsi yang dibentuk sesuai kebutuhan politik pemilik yang menjadi tokoh politik maupun menjadi partisan politik.

“Media berubah menjadi musuh demokrasi. Sesuatu yang sangat harus dihindari media adalah menjadi alat kepentingan politik dan menjadi partisan politik,” kata Ferdinand di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Menurut Ferdinand, Media seharusnya menjadi pilar demokrasi. Media semestinya adalah salah satu pilar penegak demokrasi, dan bukan musuh demokrasi. Media wajib hukumnya hanya memberitakan kebenaran, fakta dengan jujur dan tanpa rekayasa. Media harus independent dari semua kepentingan politik, baik itu kepentingan pemerintah atau kelompok politik manapun.

Baca : Media: Dulu Pilar Demokrasi, Kini Musuh Demokrasi

“Namun sangat disayangkan, justru media-media mainstream yang selama ini menjadi media rujukan nasional, justru menjadi media partisan yang kemudian hanya memberitakan berita yang dikondisikan untuk memenuhi kepentingan politik pemiliknya,” terangnya.

Ferdinand menyampaikan, kondisi kerusakan bangsa justru akan semakin menjadi besar bila media sudah membohongi publik demi kepentingan politik pemiliknya.

“Kemana lagi publik akan mendapatkan kebenaran dan kejujuran jika media dan penguasa lebih suka berbohong? Lahirnya media-media kecil yang coba memberitakan faktapun harus berhadapan dengan arogansi kekuasaan. Ditutup paksa atau dituduh menyebarkan kebencian atau informasi konten ilegal. Kenapa pemerintah tidak menutup media besar yang juga menyebarkan ketidak benaran?,” jelas dia tegas.

Memang, lanjut Ferdinand, fakta lapangan menunjukkan bahwa AHY terus melaju mendominasi survay pemenangan Pilkada. Nampaknya realitas ini membuat panik kelompok tertentu yang kemudian semakin mengintensifkan serangan lewat media sosial maupun media untuk merusak nama baik AHY maupun SBY yang memang menjadi tokoh sentral dalam proses kontestasi Pilkada ini. Lawan politik yang sudah panik dengan kekalahan didepan mata, memilih jalan menciptakan kekacauan dengan berita-berita fitnah yang menyerang SBY maupun AHY.

Baca Juga:  Vincentia Tiffani Akhirnya Blak-Blakan Soal Kesediaannya Jadi Istri Kedua Sandiaga

Baca : AHY Digosipin, RAR: Fakta Nyata Jahatnya Medsos dan Media Partisan

“Mereka mungkin berharap, dengan kekacauan, fitnah dan menebar kebohongan, mereka akan memenangkan pilkada ini meski dengan cara kotor maupun dengan cara curang, karena hanya dengan cara itulah mereka bisa punya harapan,” tandasnya. (Sule)

Loading...

Terpopuler