Connect with us

Hukum

Beban Sejarah Pemerintahan Jokowi Menumpuk Jika Ahok Masih di Mako Brimob

Published

on

Senjata-senjata yang Digunakan Tahanan Teroris di Mako Brimob. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/WAG)

Senjata-senjata yang Digunakan Tahanan Teroris di Mako Brimob. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/WAG)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sekretari PP Muhammadiyah Pedri Kasman menyampaikan, Pasca kerusuhan di mako brimob belum ada informasi bahwa Ahok alias Basuki Tjahaja Purna akan dipindah ke lapas.

“Ahok tetap di rutan mako. Hal ini terlihat menjadi aneh dan janggal,” ujar Pedri kepada redaksi NUSANTARANEWS.CO, Jakarta, Sabtu (12/5/2018).

Baca Juga:

Pedri mengingatkan bahwa, setahun lalu (9 Mei 2017) begitu divonis Ahok hanya singgah sebentar di lapas Cipinang, lalu bawa ke mako brimob dengan alasan keamanan. “Kejadian kemaren ternyata meruntuhkan alibi itu, mako tidak aman, bahkan sangat mencekam,” hemat Pedri.

Untuk itu, Pedri bertanya, untuk apa Ahok masih dipertahankan di mako brimob? Alasan apalagi yang dipakai untuk menjustifikasi itu?

Loading...

“Makin aneh dan penuh tanda tanya. Apa karena fasilitas di mako lebih bagus? Atau supaya tidak ada masyarakat yang bisa memantau keberadaan Ahok? Pertanyaan lainnya, apa benar Ahok ada di mako? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus menggelayuti benak publik,” pedri uraikan sekian pertanyaan.

“Saya kira ini akan menjadi beban sejarah pemerintahan Jokowi. Aroma ketidakadilan begitu kentara. Ahok begitu istimewa. Tidak ada kesamaan di depan hukum?. Di rezim ini ada narapidana yang ditahan tidak di lapas sebagaimana perintah aturan yang lazim. Dia adalah Ahok, yang dulu pernah jadi Wakil Gubernur DKI ketika Jokowi Gubernurnya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Tips Menjadi Mahasiswa Kreatif ala Mahasiswi Aceh

Pedri pun menilai, jika Presiden Joko Widodo ingin diakui sebagai pemimpin yang adil, tidak ada jalan lain kecuali Ahok dipindah ke lapas sebagaimana narapidana lainnya. “Tidak diistimewakan. Masih ada waktu, Ahok dihukum dua tahun, baru dijalani setahun. Mari beri rasa adil pada rakyat,” tegas Pedri.

“Bukan hanya kebutuhan pokok yang mahal sekarang. Kejujuran dan keadilan sepertinya jauh lebih mahal. Semoga saja pelan-pelan harganya bisa lebih murah!” tandas Pedri.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler