Connect with us

Puisi

Barista, Kedai Kopi dan Sajak-sajak Krismonika Khoirunnisa

Published

on

kopi jumpa, kemarilah, separuh penyempurna, sajak kopi, sajak-sajak, normalisa azizah, kumpulan sajak, sajak nusantaranews, nusantaranews

Tata cara minum kopi tempo dulu. (Foto: Jurnal Bumi)

Barista dan Kedai Kopi

Dua insan menjadi peramai kata waktu itu
Yang membicarakan banyak kata tentang kita
Dia memesan secangkir penalaran
Yang di dalam daftar tersebut, terdaftar semua pertanyaan pada menu baya
usianya
Kau memesan secangkir obat lara
Yang di dalamnya terdapat kafein penghilang kenangan di masa lalumu
Berbeda denganku, yang lebih memilih memesan satu renteng sloki ketabahan
Rasanya seperti karamel
Manis, meski harus terbakar
Sedikit demi sedikit kunikmati tegukan karamel itu
Ibarat sedang meneguk manis, di setiap rasa sakit
Di atas meja, kita menghabiskan waktu
Memandang menu yang tetata rapi di tiap meja para tamu
Dengan potret rasa yang sama, kita mulai berani mendeskripsikan tiap peristiwa
Melipat dan meliput waktu yang tak terasa telah berlalu
Sembari menunggu suguhan kopi dari seorang Barista
Di bibirmu, terdapat belepotan asa
Yang sengaja kutawarkan semesta di dalamnya
Sebagai bentuk penanggung jawab masa
Sepasang peneduh cinta, kini menjadi cibir di tengah Sang Pencipta
Selama ini, doa enggan untuk mengkhianati
Ia selalu berhasil menjadi penghangat gigil para pengadu pada cuaca setelah
musim hujan ini

Kita punya banyak cara untuk nikmati kopi masing-masing di tempat itu
Dia lebih senang menghirup aromanya terlebih dahulu
Kau lebih senang mencecapnya terlebih dahulu
Dan aku, lebih senang membiarkan uap panas menghilang terlebih dahulu
Barulah meneguknya ketika hangat
Kita pernah percaya
Bagaimana pun cara mintanya, yang kita harapkan takkan pernah berganti
Ayo, selagi masih di sini
Selagi masih ada waktu untuk di sini
Kau mau pesan kopi yang seperti apa?

Baca Juga:  Kejar Swasembada Pajale dengan Tumpangsari

Figur Tuhan

Bumi ini sedang tertidur
Tertidur pulas, mengigau, sambil mendengkur di kasur
Menyibakkan kebenaran pada mimpi masing-masing pribadi
Memamerkan narasi yang dikemas dalam diskusi
Tak sadar pula
Bahwa, sebenarnya narasi itu adalah suatu bentuk petisi
Menyorotkan cemooh dan ancaman yang dibungkus dengan diksi puisi
Berhadapan dengan wayang yang bermulut dekorasi
Dengan mata-mata yang berserakan bersamaan dengan pecahan kaca delusi
Meski sebenarnya tidak memahami apa yang sedang mereka modifikasi
Apabila kami harus memilih dan mengikutimu
Tunjukkan kami di mana titik koordinat kebenaran yang tepat
Karena kami tak tau arah kiblat
Maka kami tak mau pula datang dengan tersesat
Apabila kami harus memilih dan mengikutimu
Tunjukkan kami di mana letak fajar menyingsing dan menggiring
Karena kami juga tak ingin terombang-ambing
Kami butuh pegangan pada terang, ketika gelap datang untuk menyapa
Apabila kami harus memilih dan mengikutimu
Ajari kami bagaimana merawat panggung peritiwi dengan bakti
Ajari pula bagaimana bercengkrama dengan berita
Agar kami tidak bodoh di hadapan dunia nyata
Jika kami berkewajiban menjadi makmummu
Lukiskan bayangan matahari yang paling terang
Agar dalam perjalanan, kami sanggup untuk menuntaskan
Dengan begitu, tanpa kau janjikan kehidupan
Tanpa harus kau poles perjanjian
Mereka akan membiarkanmu menjadi imam kepribadian

Belum Usai

Kukira, tugasmu telah purna
Ketika orang lain menganggap kau adalah tempat perubahan
Banyak anggapan bahwa kau adalah tempat rahim kebenaran
Sebagai tunas melangkah ke jalan yang telah ditetapkan
Darimu, mereka mulai tau
Bahwa kau adalah salah satu tempat yang diridhoi oleh Tuhan
Tempat di mana seseorang akan dilatih untuk berjalan di atas ridho yang
sebenarnya
Tempat di mana seseorang akan dituntut untuk menjadi patok harga yang layak nantinya
Itulah definisi yang ku tau ketika kau mampu mencetak seseorang untuk mengenal
Tuhan yang tak kasat mata
Definisi yang ku pelajari ketika tau orang lain mampu membenarkan apa yang salah di jalan-Nya
Definisi yang ku pelajari ketika tau orang lain mampu menerapkan lantunan yang tiap kali menjadi kewajiban dalam sujudnya
Seberapa jauh ku lintasi fatamorgana kehidupan
Ternyata, tugasmu tidak berhenti hanya dengan memiliki lulusan ijazah membaca Al-Quran
Kau masih berkewajiban untuk mencetak mereka yang masih berada dalam rahim Ibunya
Bahkan, masih dalam bentuk ruh sekalipun

Baca Juga:  KNKT Temukan Kerusakan pada Penunjuk Kecepatan Pesawat Lion Air

Bait dan Bulir Hujan

Ketika yang pergi tanpa pamit
Yang hilang tanpa menyampaikan kabar
Yang pisah tanpa mengukir kisah
Perlu direncanakannya suatu evaluasi kenangan
Karena terkadang akan selalu tetap dirindukan dalam angan
Mengapa hal demikian tidak dapat terabaikan?
Meski dari segi kasih sayang, telah nahas karena suatu perbuatan
Pada langit, yang menunjukkan pukul 9 malam
Ada sebuah rindu yang masih terlihat sakral dalam ingatan
Yang dilukiskan oleh selengkung garis senyum dari bibirnya
yang tabu dan selalu dipenuhi makna yang ambigu
Yang tak terhingga dekapannya pun berani mengalah tertelan
oleh endapan masa lalu
Kau hanya membahas tentang air yang jatuh ke bumi
Dengan payung transparan yang berhiaskan mawar putih di atasnya
Datang menghampiri sepasang bayangan langkah kaki
di gedung pelaksanaan resepsi
Karena pada saat itulah, kau dan aku berada pada ikatan
yang dicatat oleh ilahi
Di lain waktu, ternyata semua hal tersebut tidak sejalan dengan logika dan naluri
Kau dan aku memutuskan untuk beranjak di atas monokrom masa yang membingungkan
Dalam seteguk kopi yang kau hidangkan
Bahwa kopi yang kau hidangkan saat ini adalah sebuah kenangan
Tak mengapa, Tuhan
Aku tau bahwa Engkau masih memberikan nyawa pada raganya
Pada langit, yang menunjukkan pukul 11 malam
Di bawah hujan dan langit yang sama
Kau dan aku telah beranjak dewasa
Dengan cara dan jalan yang telah kita putuskan masing-masing
Ibarat rumah tangga kecil dengan adanya cinta yang berperang
Mencoba melawan gigilan musim-musim kenangan dan kesepian

Di Sini Saja, Kasih!

Demi membuatmu terpikat
Aku rela melukis jagat
Hingga asa merenggut bilikmu
Ternyata hal itu memang tak membuatmu untuk berbalik ke arah-Ku
Sadarkah engkau, kasih?
Mengenai sikap-Ku yang selalu berselisih
Kau anggap Aku apa, kasih?
Hingga titik saat ini pun kau tak merasa bersedih
Haruskah Aku mengembalikan semua hakmu?
Agar kau tetap ingin bersama-Ku?
Haruskah Aku menjadi penghiburmu?
Agar kau tetap sudi untuk menerima uluran tangan-Ku?
Jangan enggan tuk beradu mulut lewat sujud
Karena Aku akan selalu ada, meski tak bermaujud
Jangan segan tuk mengumpat
Karena Aku mampu mengubah laknat menjadi nikmat
Mana lagi yang kau ragukan, kasih?
Ketika dunia telah mampu Ku genggam dalam jemari

Baca Juga:  Sakitnya Menjadi Kekasih Tak Dianggap

 

 

 

Biodata penulis:

Krismonika Khoirunnisa, lebih akrab dipanggil Monik lahir di Jombang, 01 Maret 1998. Kini, dia melanjutkan studinya di IAIN Tulungagung jurusan Bahasa Indonesia. Banyak tulisan yang telah dipublikasikannya di media, baik media cetak ataupun sebatas postingan saja. Karya tersebut meliputi naskah drama (2015-2016), cerpen (2017-2018), dan puisi (2014-2019). Penulis dapat dihubungi melalui email krismonicakhpirunisa@gmail.com, dan akun instagram @gubahan_sajak (Krismonika K).

Loading...

Terpopuler