Berita UtamaKolomMancanegaraOpiniTerbaru

Barat Kelimpungan Menghadapi “Senjata Energi” Rusia

Barat kelimpungan menghadapi “senjata energi”Rusia
Barat kelimpungan menghadapi “senjata energi”Rusia/Ilustrasi: Global Times

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Barat kelimpungan menghadapi “senjata energi” Rusia. KTT G7 baru-baru ini yang ingin membatasi penjualan minyak Rusia justeru kontra produktif dan malah mendorong naiknya harga minyak dunia dengan cepat hingga kisaran di atas US$110 per barel pada akhir bulan lalu.

Seperti dilaporkan CNBC bahwa: Dated Brent naik sebesar US$10,45 per barel dari US$ 113,25 per barel menjadi US$ 123,70 per barel; WTI (Nymex) naik sebesar US$ 5,08 per barel dari US$ 109,26 per barel menjadi US$ 114,34 per barel; Brent (ICE) naik sebesar US$ 5,54 per barel dari US$ 111,96 per barel menjadi US$ 117,50 per barel; Basket OPEC naik sebesar US$ 3,96 per barel dari US$113,87 per barel menjadi US$ 117,83 per barel (sampai dengan tanggal 29 Juni 2022).

Bahkan Indonesia sendiri telah menetapkan harga minyak mentahnya naik menjadi US$ 117,62 per barel memasuki bulan Juli.

Baca Juga:  Wakil Bupati Nunukan Tutup Turnamen Basket Pelajar Gelaran PERBASI Nunukan

Wakil kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev juga telah memperingatkan G7 bahwa proposal Jepang terkait pemotongan setengah harga minyak Rusia akan menyebabkan berkurangnya pasokan minyak di pasar dan berisiko mendorong kenaikan harga hingga US$300-400 per barel atau lebih tinggi.

Barat tampaknya mulai terguncang dengan krisis energi akibat ulahnya sendiri yang bersikeras menerapkan sanksi terhadap Rusia, pengekspor minyak utama dunia.

Pencabutan sanksi terhadap Venezuela dan Iran juga tidak menjamin bahwa kedua negara tersebut mau meningkatkan produksi minyaknya.

Sementara peningkatan produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS) pun tampaknya sama, tidak mampu menggantikan pasokan minyak Rusia. Demikian pula gabungan produsen minyak non-OPEC seperti Brazil dan Kanada.

Di AS harga minyak sudah mencapai US$ 6 per gallon. Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Joe Biden tampaknya tidak memiliki cara untuk menghentikan kenaikan harga energi dan makanan di Amerika meskipun bila Joe Biden mendapatkan janji lebih banyak minyak ketika dia mengunjungi Arab Saudi minggu ini, hal itu pun tidak akan banyak membantu menurunkan harga BBM yang tinggi yang mengguncang ekonomi global.

Baca Juga:  Gelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Marthin Billa Ajak Masyarakat Bergotong Royong Pulihkan Ekonomi Pasca Pandemi

Sejauh ini, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah dua negara anggota OPEC+ yang memiliki cadangan minyak hingga 3 juta barel per hari yang dapat saja menggantikan minyak Rusia di pasaran.

Namun masalahnya jika negara-negara Teluk menggunakan kapasitas cadangan mereka – itu dapat menjadi bumerang. Menurut Helima Croft, kepala strategi di RBC Capital dan mantan analis CIA mengatakan bahwa pedagang cenderung menjadi cemas ketika pasar global tidak memiliki cadangan untuk menutupi potensi gangguan.

“Mereka akan bijaksana tentang bagaimana menggunakan barel cadangan yang tersisa. Saya tidak berpikir mereka ingin menghabiskan semua kapasitas cadangan mereka sebagai bagian dari pengaturan ulang strategis dengan AS,” ungkapnya.

Kekuatan politik Barat kali ini tampaknya kena batunya, tak berdaya menghadapi “senjata energi” Rusia. Harga minyak diprediksi dapat mencapai level lebih dari US$200 per barel bila Rusia mengurangi pasokan energinya di pasaran. Apalagi OPEC+ tetap kukuh tidak akan meningkatkan produksi minyaknya sesuai keputusan kolektif mereka. (Agus Setiawan)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

No Content Available