Budaya / SeniCerpen

Bapak dan Segala Keresahannya

Cerpen: R. Ravika Dwi Daningtyas

Lampu busur di teras mati sehingga tak cukup cahaya untuk menerangi. Hanya teras tetangga yang sedikit memancarkan pendar di beranda rumah. Bapak bukan tidak sanggup membeli bohlam. Saya kira tidak membeli bohlam teras lebih baik daripada kami tidak makan beberapa hari ke depan. Maka sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk mengikat pinggang di tanggal tua. Azan Isya mengumandangkan seruannya, sementara saya tetap memikirkan masalah uang dan bohlam di teras.

Saya kira kebodohan keluarga ini adalah menangisi nasib tanpa mencari jalan keluar. Berprofesi menjadi seorang dosen tidaklah mencukupi kebutuhan. Belum lagi jika anak-anaknya menginginkan ini dan itu. Bukankah tanpa ada sedikit usaha yang lebih menyusahkan hal itu sulit diwujudkan. Tetapi saya tidak juga banyak menuntutnya untuk segera memenuhi kebutuhan. Lupakan soal lampu busur teras yang mati di tanggal tua. Bagi saya keluarga adalah kemewahan terakhir yang sempat saya rasakan. Keluarga sekiranya menjadi tempat berlindung ia akan tetap berduri bila tidak dirawat. Keluarga sekiranya menjadi tempat ternyaman ia akan tetap terancam bila tidak ada komunikasi. Keluarga sekiranya menjadi tempat bernaung ia akan tetap tersisih jika tidak adanya saling pengertian. Lalu saya harus bersikap bagaimana jika bapak saya tidak sanggup membiayai kehidupan keluarga ini. Lantas bagaimana sikap saya terhadap ibu yang justeru mengambil peran itu. Saya selalu gemetar ketika mengetetahui ibulah yang mengambil semua peran untuk membiayai saya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Apakah saya dibenarkan jika mengatakan bahwa bapaklah ancaman dari keluarga ini. Sebelum bapak terserang penyakit jantung yang tidur dalam tubuhnya itu. Ia dulu adalah seorang pekerja keras. Meskipun yang dihasilkan oleh keringatnya hanya itu-itu saja, tidak pernah lebih seperti penghasilan para koruptor yang memberangus uang rakyat. Bapak tidaklah pandai meraih jabatan yang mentereng. Bapak saya hanyalah seorang dosen swasta dengan gaji yang miris. Selebihnya kebutuhan hidup keluarga terpenuhi dari hasil keringat ibu.

Hidup terasa lebih menjengkelkan jika kedua orangtua saya meributkan perkara uang. Bukankah saling bahu-membahu sangat dibutuhkan dalam menjalin bahtera rumah tangga. Bukankah hidup harus tetap berjalan sungguhpun dengan sedikit atau banyaknya uang. Uang layaknya harta terakhir yang tiada punya pengertian. Ia bisa merubah, bisa merusak, dan bisa mengesani seseorang. Saya harus berada di mana jika kedua orangtua saya tidak memiliki uang? Saya harus menyalahkan siapa jika kedua orangtua saya kesulitan mencari uang? Atau saya harus mengutuk siapa jika uang hanya berpihak bagi pemilik modal?

Ibu adalah kendali emosi dalam rumah yang terdiri dari lima kepala. Ibu saya bernama Jumanah terlahir darii anak desa yang menuntutnya untuk hidup sebagai pekerja keras. Bagaimana tidak keras, diusianya yang baru menginjak lima belas tahun ia harus mengangkat cangkul untuk menggarap ladang sambil bersekolah. Kemudian, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas ibu merantau ke pinggir Jakarta. Di Bekasi Timur tepatnya, ibu tinggal bersama kakak sambungnya. Walaupun tinggal seatap dengan kakak sambung dan dibiayai kuliah olehnya. Ibu tetap harus menjadi pekerja keras dengan membantu urusan rumah.

“Ju, sebelum aku mangkat cucian piring wes beres yo” titah Bude kepada Ibu saya.

Ibu selalu melaksanakan dan tidak pernah menolak titahnya karena bagaimana pun ia menumpang dan dibiayai kuliah darinya. Sebelum berangkat kuliah ibu harus memastikan jika rumah sudah beres. Ibu saya adalah perempuan terkuat yang sudah lama dibanting hatinya dan tetap berjalan kuat di atas bumi manusia. Setelah diperisteri oleh bapak, keadaan ibu tidak serta merta berubah menjadi lebih baik. Bapak saya berdarah betawi tulen, dan beliau hanyalah lulusan strata satu di kampus swasta. Seorang dosen yang berani mempersuntng ibu saya itu tetaplah lelaki dengan segala kekurangan dan keresahannya di tanggal tua. Sekali waktu saya berbicara pada ibu di kamar tidur dengan tembok yang mulai retak karena di makan usia.

“Mengapa ibu mau dengan bapak yang sedikit menghasilkan uang dan tidak mentereng karena jabatan?” keresahan hati saya pada ibu.

Ibu dengan ringannya menjawab, “Banyak atau sedikitnya harta itu ujian manusia Nduk” katanya sembari mengelus kepalaku.

Ya. Itulah ibu saya memandang segala yang ada di bumi manusia ini adalah ujian baginya. Ujian kehidupan yang terlalu keras baginya. Bagaimana tidak keras meskipun ia sudah menyandang gelar sarjana ekonomi di tahun 1995. Ibu tetap harus bekerja di salah satu SMK swasta di Bogor. Pergi-pulang menempuh jarak lima puluh dua kilometer. Dan kini apa yang dikeluhkan Ibu adalah menjadi bagian diri saya.

“Untuk masa depanmu dan adik-adik, Nduk. Ibu ingin melihat kalian rukun dan berhasil. Ibu terus berdoa agar anak-anak ibu diberi keselamatan dan keberhasilan.” pungkasnya.

**

Bapak tetap dengan penghasilannya yang sedemikian rupa sehingga tidak mencukupi kebutuhan di tanggal tua. Tetapi saya mencoba memahami kondisi fisik lemah jantungnya yang belakangan sering kambuh tiap kali bekerja lebih giat. Hingga ibu sayalah yang membantu segala kebutuhan rumah. Saya masih masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tiap saya ingin membantu bekerja serabutan ibu selalu melarang. Katanya biarlah ibu yang menangani semua kebutuhan rumah. Tugas saya dan adik-adik hanyalah fokus belajar. Saya memang terlahir dari rahim yang kuat dan seadanya. Sering juga mengalami kesulitan, hidup bagaikan roda yang terus berputar setiap waktunya.

Kebiasaan bapak tiap minggu pagi ini adalah membeli koran dari pengecer. Bukan halaman politik dan hukum, opini, atau internasional yang dipelototinya. Tetapi kolom iklan mobil-mobil bekas yang menghantui pikirannya. Niat bapak menyicil mobil bekas bukan untuk sarananya bekerja, tetapi untuk pulang kampung ke rumah ibu. Sebab bagaimana anak tiga dan sudah mulai besar-besar akan terlalu repot jika pergi menggunakan transportasi umum. Sekali lagi bapak tidak cukup uang untuk membelinya, ia hanya mampu membeli koran di pagi hari. Dan membeli pulsa untuk mengetahui lebih lanjut harga yang dikehendakinya. Jadi banyak betul alamat mobil bekas didompetnya untuk sekedar melihat dan tawar-menawar harga.

Ibu saya setuju dengan bapak kalau keluarga membutuhkan mobil untuk pulang kampung. Dan akhirnya terbelilah mobil bekas bermerek Suzuki APV dengan catatan mengutang sana-sini. Tak masalah bagi ibu karena sertifikasi atau tunjangan guru adalah jaminannya. Bukan mobil yang menjadi keresahan bapak, lebih daripada itu. Setelah memiliki mobil, keresahan bapak selanjutnyanya adalah tempat untuk meletakkan mobilnya, sedangkan kami tinggal di jalan kecil. Dan satu-satunya lahan yang bisa ditempati itu adalah tanah warisan Engkong.

Homo Homini Lupus menjadi hangat di zaman yang serba modern ini. Saya masih menemui manusia yang menjadi serigala bagi manusia lainnya sampai detik ini. Manusia menikam manusia lainnya untuk bertahan di atas tanah dan untuk hidup yang sedikit layak. Manusia seolah diperbudak oleh tanah lelulur lalu menjadikannya abu dimukanya sendiri. Memaki adalah jurus terakhirnya setelah berdiam diri karena merasa terusik. Ada mula yang menjadikan manusia menjadi demikian. Saya tak ingin menanggapi tuan tanah dan segala keserakahannya. Bagi saya hal tersebut sama saja seperti meladeni dengan orang gila, karena tidak ada arti kemenangan di sana.

Saya adalah anak yang dilahirkan di tanah sengketa bapak. Dibesarkan dengan balas budi, dan seringkali dipandang kecil. Segala keresahan bapak adalah juga bagian dari keresahan saya. Saya meresahkan tingkah pola saudara bapak yang maruk dengan harta warisan. Tanah girik seluas seratus sebelas meter-persegi yang terletak di tengah kota yang mulai sempit dengan jalan tikus itu diperebutkan Engkong dan Nyai.

Mulanya tanah itu adalah warisan untuk kelima anak semenda. Tetapi dalam hal ini bapak yang mewakili ibunya yang sudah meninggal dunia. Dianggapnya tidak berhak atas tanah warisan para tetua itu. Bapak membutuhkan lahan seluas tiga puluh meter persegi saja di depan untuk meletakkan mobil bekas yang baru dibelinya. Tetapi Engkong melarangnya dengan alasan ingin membuat septic tank di depan. Dan kegaduhan di atas tanah sengketa itu kini menjadi perbincangan warga sekitar.

Kiranya sangat sulit menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia. Semua akan bermakna jika diletakkan dengan adil. Nyatanya meninggalkan harta warisan adalah sama saja melemparkan sebatang korek api ke lahan hutan. Lalu membiarkan masing-masing kepala terbakar di atasnya. Saling mengakui kepemilikan yang kuat dan berhak atas warisan adalah kalimat yang merusak masing-masing kepala manusia.

Bekasi, 22 Desember 201

Nama lahir R. Ravika Dwi Daningtyas. Ia sempat menempuh studi Ilmu Hukum di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kemudian ia memutuskan untuk keluar, dan menekuni studi Ilmu Hukum di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Bekasi. Buku kumpulan puisinya berjudul “Bersama Senja di Poros Kota” tahun 2017.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

 

Related Posts

1 of 514