Connect with us

Politik

Banyak Orang Alergi Istilah Pribumi, Marzuki Alie: Sebutan Itu Mulia, Bukan Hina

Published

on

Banyak Orang Alergi Pribumi, Marzuki Alie Sebutan Itu Mulia, Bukan Hina

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie saat mengisi seminar Pra Kongres Boemipoetra di Yogyakarta, Senin 23 April 2018. (Foto: Romandhon/NusantaraNews)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie mengaku prihatin terhadap istilah pribumi yang saat ini dilesetkan bahwa bumiputera (pribumi) tidak ada. Ini menyusul anggapan yang menyebut bahwa semua orang adalah pendatang.

Mengenai hal itu, Marzuki menyorot tulisan Ridwan Kamil tahun 2017 lalu yang menyebut istilah pribumi dan non pribumi suatu kebodohan. Bahkan dirinya tak habis pikir Ridwan Kamil yang merupakan sosok yang difigurkan di Jawa Barat justru tak mengakui adanya bumiputera.

Tak hanya itu, Rektor Universitas Indo Global itu juga menyinggung tulisan Peneliti Eijkman Institut Prof Herawati yang membenarkan tentang teori bahwa tidak ada istilah pribumi. Di mana Herawati melakukan pengujian tes DNA, dan menyebut bahwa tidak ada DNA 100 persen asli Indonesia.

Baca juga: Perlakuan Tak Seimbang Antara Tionghoa dan Bumiputra Bisa Memperbesar Potensi Konflik Sosial

“Konsep yang ditulis mereka ini berbasis pada asal usul manusia, yang kita yakini bahwa semua manusia di dunia ini dari nabi Adam dan Siti Hawa, semua kita ini imigran dari surga yang dilepaskan ke bumi,” sindir Marzuki, saat mengisi seminar Pra Kongres Boemipoetra di Yogyakarta, Senin (23/4/2018).

Untuk itu, pada kesempatan tersebut, dirinya mengajak semua untuk menyepakati apa itu Bumiputera? Marzuki menjelaskan bahwa di dalam al-Quran, manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Semua mendiami wilayahnya masing-masing. “Ini sudah gamblang bahwa pribumi atau bumiputra ada,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa bumiputra berdasarkan KBBI tak lain adalah anak negeri, penghuni asli. Atau merujuk dalam bahasa sansekerta sebagai anak bumi.

Baca Juga:  Rocky Gerung: Apa yang Akan Disampaikan Presiden RI di Forum IMF-World Bank Nanti?

Atas dasar itu, ia heran dengan situasi sekarang, bahwa banyak orang yang takut mengakui diri sebagai pribumi. Baginya fenomena itu tak lepas dari sistem yang dibangun pemerintah sekarang.

“Banyak yang takut disebut toleran. Padahal itu keniscayaan. Kenapa kita takut?,” ungkap Marzuki.

Baca juga: Pra Kongres Boemipoetra Nusantara, Prof Kaelan: Jangan Sampai Indonesia Benasib Seperti Singapura

Dirinya menegaskan bahwa yang tidak boleh menyebut pribumi itu adalah pejabat atau pemangku pemerintahan yang dalam hal ini saat memutuskan kebijakan. “Karena pemerintah nggak boleh diskriminasi,” terang dia.

“Sebutan bumiputra itu mulia, bukan hina. Dulu pemerintah Belanda menamai kita sebagai pribumi dengan sebutan inlander. Berbeda dengan Cina dan Arab yang sebut dengan istilah orang Asia Timur. Jadi bumiputra itu ada. Jadi kenapa kita melupakan sejarah itu?” ujar Marzuki.

Namun dewasa ini situasi kian paradoks. Ketimpangan sosial tak terelakkan. Para bumiputra termarjinalkan. Ironisnya, fenomena yang terjadi adalah banyak orang alergi dengan istilah pribumi.

Marzuki menyinggung bahwa kaum bumiputra dalam sejarah kolonial menjadi kelas yang direndahkan dan tertindas. Mulai dari Belanda, selama 3,5 abad yang kemudian dilanjutkan dengan penjajahan Jepang.

“Apa iya sekarang kita mau dijajah kembali oleh bangsa asing, setelah memperoleh kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah?”

Menurut Marzuki akan tidak adil secara politik, jika kelompok seperti Cina yang dalam sejarahnya dulu berkolaborasi dengan penjajah dan mendapat kue ekonomi yang baik di masa penjajahan, justru menjadi sangat dominan dalam bidang ekonomi setelah Indonesia merdeka.

“Tidak masalah mereka maju dalam bidang ekonomi, karena bekerja keras dan ulet, tetapi mayoritas penduduk yang merupakan pribumi harus juga mendapatkan keadilan dalam bidang ekonomi,” tegasnya.

Baca Juga:  Annegret Kramp-Karrenbauer Menggantikan Kanselir Jerman Angela Merkel Sebagai Pemimpin Partai Berkuasa di Jerman

Pewarta: Romandhon
Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler