Connect with us

Artikel

Bangsa Lain Boleh Nasionalis, Bangsa Indonesia, Kok Tidak Boleh?

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Teknologi boleh berubah, ilmu sains terus berkembang, kerumitan peradaban terus bertambah, tetapi sifat manusia, human nature, tidak berubah. Hasrat satu kaum untuk mendominasi kaum lain, hasrat satu bangsa untuk ingin menekan bangsa lain, tidak atau belum hilang. Sifat keserakahan, sifat ingin berkuasa dan menjajah orang lain dan bangsa lain masih tetap bertahan di dunia kita.

Petikan kalimat diatas adalah sebuah ungkapan filosofis yang dikemukakan oleh Letjen (Purn) Prabowo Subianto dalam sebuah surat terbukanya di media sosial. Mantan Danjen Kopassus ini mengingatkan kita semua bahwa dalam hubungan sesama bangsa di dunia ini, kita janganlah terlalu naif. Sifat manusia itu tidak jauh berbeda makanya kita harus rajin belajar sejarah.

Memang harus diakui bahwa ada peradaban-peradaban yang sekarang mendominasi dunia. Kita harus banyak belajar dari mereka. Kita ingin negara dan rakyat kita meniru, menyusul serta mengejar pencapaian-pencapaian mereka. Kita ambil yang terbaik dari kapitalisme, kita ambil yang terbaik dari sosialisme. Itulah yang harus kita jalankan. Kita perlu belajar dari Barat, dan kita juga perlu belajar dari Japan Inc, Korea Inc, dan China Inc.

Zaman telah berubah. Kalau dahulu penjajahan datang dengan fisik secara brutal, maka kondisi sekarang lebih sulit, penjajahan sering tidak terlihat. Mereka kini datang dengan lebih santun, dibungkus dengan bahasa dan teknik yang lebih halus, tetapi di ujungnya kepentingan diri dan kepentingan bangsanya akan selalu menjadi motivasi utama dalam menjalankan hubungan dengan bangsa lain. Intimidasi, penekanan, dominasi, dan penguasaan bentuknya mungkin sekarang lain. Kini para penjajah menyogok pejabat-pejabat kita, memengaruhi para intelektual kita, mengadu domba suku-suku kita dan agama-agama kita ala politik divide et impera.

Ini semua masih berlangsung. Mereka yang tidak mau belajar sejarah akan dihukum oleh sejarah, dengan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh pendahulunya. Kita harus ingat akan hal tersebut. Karena itu saya prihatin kalau mendengar orang-orang pintar sekarang, meremehkan kata-kata seperti nasionalisme. Bahkan saya pernah dengar seorang doktor mengatakan bahwa sekarang perbatasan sudah tidak berlaku. Saya geleng-geleng kepala, alangkah naifnya doktor tersebut. Kenapa ia begitu mudah terbuai oleh ajaran-ajaran, dan pandangan-pandangan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang saat ini sedang mendominasi dunia.

Karena itu saya merasa sungguh aneh, bangsa-bangsa lain boleh patriotik, boleh nasionalis, boleh mengutamakan kepentingan nasional mereka. Kalau bangsa Indonesia, kok tidak boleh?

Di saat bangsa bangsa lain begitu gencar membangun peradaban mereka dengan memperbaiki teknologi mereka, industri mereka, pendidikan mereka, prasarana infrastruktur mereka, kita masih saja ribut dengan hal hal yang tidak mendasar. Pertikaian kecil dengan cepat menjalar menjadi perkelahian antara suku. Kalau sudah terjadi, saat ada korban yang meninggal, baru kita saling mencari kesalahan. Banyak kalangan orang pintar selalu mencela dan mencari kelemahan aparat pemerintah dan aparat keamanan. Sebaliknya banyak pribadi dalam pemerintahan dan institusi keamanan sering tidak sungguh sungguh mementingkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat dalam menjalankan kebijakan publik.

Disinilah betapa pentingnya ada pemerintahan yang bersih. Dengan pemerintahan yang tidak bersih, tidak efisien, kebocoran kekayaan negara terlalu besar. Dengan kebocoran yang terlalu besar, akhirnya jasa-jasa yang paling dasar, yang dibutuhkan oleh suatu negara moderen tidak bisa tersedia. Kebutuhan air bersih saja untuk rakyat banyak tidak bisa disediakan oleh pemerintah di banyak tempat di Republik kita.

Apakah kita heran kalau terjadi pertikaian dan kerusuhan antara suku dan antara desa, bisa cepat menjalar menjadi kerusuhan yang menghilangkan banyak nyawa? Karena terus terang saja sering aparat pemerintahan tidak dapat menunjukkan kehadirannya di banyak tempat di Indonesia. Reaksi pemerintah sering terlambat karena memang sistim yang dibangun oleh suasana demokrasi liberal ala menyontek dari barat telah menambah ketidakefisienan dan tidak efektifnya pemerintahan kita. (AS/Prabowo Subianto/Medsos)

Komentar

Advertisement

Terpopuler