Connect with us

Sport

Balotelli: Balotelli Seorang Pemain, Mario Adalah Sesuatu yang Lain

Published

on

Balotelli memperkenalkan kalimat terkenal "Why Always With Me?" di kaosnya ketika Derby Manchester/Foto via Squawka

Balotelli memperkenalkan kalimat terkenal “Why Always With Me?” di kaosnya ketika Derby Manchester/Foto via Squawka

NUSANTARANEWS.CO – Mario Balotelli mengungkapkan curahatan hatinya soal masa depan karir sepakbolanya. Kepada surat kabar Italia, Corriere della Serra, Balotelli mengungkapkan kalau dirinya menaruh harapan besar musim depan bermain untuk Liverpool, klub yang meminjamkan dirinya ke AC Milan. Di Milan sendiri, Balotelli juga nyatanya sangat jarang diturunkan dalam sejumlah laga.

“Saya berharap bermain di Liverpool musim depan. Milan memutuskan untuk tak lagi mempertahankan saya. Anda tak akan lagi melihat seorang Mario bermain di sana,” ungkap Balotelli.

Karir sepakbola Balotelli terjun bebas pasca hengkang dari Manchester City. Sempat digadang-gadang sebagai salah satu pemain muda terbaik di Eropa, bahkan dipercaya bakal merengkuh gelar Ballon d’Or suatu hari, Balotelli malah justru tenggelam akibat ulahnya yang terkadang kontroversial. Bahkan, mantan kapten Liverpool, Steven Gerrard pernah menuding Balotelli adalah pemain yang malas, tidak tertarik untuk berlatih serta enggan bekerja keras menunjukan potensi yang dimilikinya.

Tapi, tuduhan itu dinilai Balotelli sebagai suatu yang tidak adil. “Saya memiliki hubungan yang fantastis dengan semua orang, termasuk Presiden Massimo Moratti dan Silviao Berlusconi. Bencana yang menimpa saya hanya satu …. Brendan Rodgers,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dalam kesempatan sama, Balotelli juga mengkofirmasi perihal perlakuan Roberto Mancini kepada dirinya selama di Manchester City. Begitu pula saat menjadi anak asuh Jose Mourinho di Inter Milan, dirinya kesal karena pelatih tidak memberikan kesempatan kepada dirinya untuk bermain di laga final Liga Champions.

“Jose Mourinho memang memiliki keputusan, tapi dia mencintai saya. Dia benar-benar menikmati gaya saya, saya berpikir dia akan memberikan kesempatan lebih kepada saya di lapangan. Saya hanya mengeluh tentang satu hal; ia tidak memberikan kesempatan kepada saya bermain di final Liga Champions. Padahal, kalau saya diturunkan niscaya saya akan mencetak gol. Saya benar-benar merasakannya,” ungkap Balotelli.

Baca Juga:  Enzo Zenz Allie Diterpa Isu Simpatisan HTI, Calon Prajurit TNI Harus Setia Pada Pancasila dan Konstitusi

“Suatu hari nanti, saya tidak berpikir apakah saya akan dipandang baik dan buruk. Karekter diri saya begini memang sudah sejak lama tumbuh di dalam diri saya. Saya seolah-olah tidak diizinkan untuk melakukan sesuatu hal yang kurang atau lebih. Saya tidak munafik. Saya marah ketika saya selalu dibilang melakukan sesuatu tindakan konyol. Saya tidak begitu suka mereka selalu membesar-besarkan hal-hal berbau positif tentang saya. Saya hanya ingin menjadi seorang pemain laiknya pemain lain, atau mungkin sedikit lebih baik daripada pemain lain,” sambungnya.

“Balotelli seorang pemain. Mario adalah sesuatu yang lain. Lebih mudah menggambarkan Balotelli daripada Mario. Balotelli adalah karakter yang diciptakan oleh kertas; orang tersenyum atau tidaki tersenyum, pencetak gol yang hebat, merindukan penalti, tidak merayakannya (cetak gol) dan membiarkan orang-orang yang menonton ketika dia bermain untuk menilainya,” pungkasnya. (Dieda)

Loading...

Terpopuler