Berita UtamaOpiniTerbaru

Bak Biduanita, PPWI Makin Digoyang Makin Menjadi

Bak Biduanita, PPWI Makin Digoyang Makin Menjadi
Bak Biduanita, PPWI Makin Digoyang Makin Menjadi

NUSANTARANEWS.CO – PPWI merupakan singkatan atau akronim. Kepanjangannya Persatuan Pewarta Warga Indonesia. Merupakan satu-satunya organisasi pers di Indonesia yang mewadahi sekaligus para wartawan dan pewarta warga (citizen journalist). PPWI sebagai organisasi didirikan pada 11 November 2007, sehingga menginjak usia “remaja” 15 tahun pada 11 November 2022.

Pada HUT ke-15 ini, PPWI sekaligus merayakan dengan menggelar Kongres Nasional III, yang sempat tertunda akibat pandemi. Saya sudah terima SK panitia dan bajunya sekira 3 (tiga) tahun silam.

Kalau kebanyakan orang mengibaratkan tumbuh kembang sebuah organisasi laiknya pohon, yang dimafhumi bersama semakin tinggi menjulang semakin kencang angin meniup. Maka saya melihatnya justru tetap secara humanis sebagai kumpulan orang yang berada di panggung hiburan, dan PPWI salah satu biduannya. Makin digoyang makin menjadi. Assoy bukan?

Tapi perlu diketahui dan disadari bersama, biduan yang di(minta)goyang terus itu biasanya karena cantik, seksi, punya goyangan khas apakah itu ngebor, gergaji, patah-patah, atau berguling-guling dan mencakar seperti macan.

PPWI ada di deretan “biduan” dengan “daya goyang”, yang tak hanya membuat semua penonton ikut bergoyang, tapi juga hampir merobohkan panggung, sampai-sampai jadi incaran bagaikan buzzer mengintai Anies Baswedan, sedikit salah goyang, sikat. Gara-gara bunga papan tersenggol, kriminalkan!

Baca Juga:  Andi Muliyono: Kawula Muda Harus Mampu Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Hal yang kerap dilupakan orang, PPWI lahir dari idealisme, hobi, dan sebagian karena letih mendapat banjir informasi pasca dibukanya kran kebebasan berekspresi melalui media. Jadi bukan lahir dari modal kapital (investasi dalam bentuk finansial). Itu sebabnya dengan lahir sebagai satu tubuh dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing anggotanya, menjadikan PPWI sebagai organisasi pers yang mix antara profesional dan amateur ini jika salah satu anggotanya tersakiti akan menyulut solidaritas anggota lain.

Apalagi jika “kepala”nya yang disakiti, seperti dalam kasus Ketum, Wilson Lalengke, semua anggota bereaksi. Hampir saja ada “panggung” rubuh, kalau bakuhantam di wilkum Lampung Timur itu terus berlanjut.

Kegaduhan para citizen journalist PPWI dengan otoritas lembaga tempat bernaung insan serta perusahaan pers yang menjadi kepanjangan tangan negara dan bertugas membina, justru nyaris saja jadi ajang membinasakan oleh kepentingan tertentu. Ini meresahkan dan tak bisa dibiarkan terus berlarut.

Dari interaksi-interaksi tak direncanakan, Prof. Azyumardi Azra (Alm, semoga mendapat ketenangan di sisi-Nya) juga menangkap hal tersebut. Namun sebagai orang tua, beliau melihat ini sebagai sebuah dinamika. Hingga suatu saat di depan forum dewan pers dan serikat media siber, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2022, beliau mengatakan: “Citizen Journalism bisa menjadi afiliator kita. Sehingga bisa diberikan perlindungan, yang penting mereka dapat melakukan liputan layaknya jurnalis yang profesional. Tinggal kita siapkan formulanya.”

Baca Juga:  Menanti Revolusi Palestina Abad 21

Wah, bisik-bisik saya dan mungkin bisik-bisik sekian banyak orang berhasil mencuri perhatian beliau. Itu artinya beliau juga menangkap keresahan yang pernah dirasakan Dato Tun DR Mahathir Mohammad terhadap fenomena blogger saat itu, yang dikatakannya jika bergerak bisa saja meruntuhkan sebuah pemerintahan.

Sepeninggal beliau (Sir Prof. Azyumardi Azra), semoga catatan yang ditinggalkannya itu dapat dilanjutkan oleh para penerusnya. Apalagi yang selama ini jadi simpul masalah telah terurai terutama soal sertifikasi. Adapun soal verifikasi, ketika sudah mengantongi syarat administrasi dari kemenkumham tentu saja tak elok dipermasalahkan. Tapi terdokumentasikan dengan rapih tentu saja juga lebih baik.

Bagaimana, masih mau goyang?

Baik, kembali ke soal HUT ke-15 dan Kongres Nasional III DPN PPWI yang akan sama-sama kita ikuti pada tanggal 10-12 November 2022 di Hotel Sunter Sunlake, Jakarta Utara.

Diinformasikan oleh Ketua Umum, sedikitnya 4 delegasi PPWI Luar Negeri dipastikan hadir yaitu Dr. Abdoul Rahman Salem Dabbousi dari Lebanon, Mr. Talib bin Saif Al-Dabbari, Dr. Mohamed bin Mubarak Al-Araimi dan Mr. Salim bin Hamad Al-Jahuri dari Kesultanan Oman. Biasanya peninjau dari Maroko dan Israel juga hadir dalam kegiatan-kegiatan PPWI lainnya.

Baca Juga:  Buka Bimtek PTT DPRD Jawa Timur, Sahat: PTT Harus Bisa Menjadi TIGER

Soal delegasi luar negeri yang akan hadir, tadi petang Ketum menelepon saya, bahwa mereka akan tiba lebih awal dalam rangka berdiskusi dan mengenal lebih dekat tentang organisasi PPWI serta perkembangan jurnalis warga atau citizen journalists di Indonesia. Jadi kita persiapkan kegiatan yang sifatnya sebagai “study banding” dengan melihat langsung kegiatan citizen journalist dalam mengolah konten.

Selain acara Kongres, juga akan digelar Konferensi Internasional dengan tema “Peran Citizen Journalists dalam Mewujudkan Dunia yang Aman, Damai, dan Harmonis”. Pas banget dengan pembukaan UUD 1945.

Khusus soal konferensi internasional ini saya kira PPWI  harus menelurkan rekomendasi-rekomendasi yang bisa kita titipkan ke forum G-20 di Bali. Terutama soal krisis di Eropa yang melibatkan Rusia dan Nato dengan Ukraina yang dijadikan boneka itu. Imbasnya sampai ke kita, lho. Importir jadi punya ALASAN menaikkan harga BBM padahal sejatinya minyak dunia sedang turun. Harga mie instant dan roti juga naik padahal harga bahan baku turun karena Rusia menghukum sejumlah negara eropa dan serikat amerika yang mendukung NATO dengan tidak mengiriman gandumnya.

Siapa tahu rekomendasi-rekomendasi konferensi internasional PPWI dapat menggoyang forum G-20, dan menggoncang dunia. (*)

Penulis: Mahar Prastowo, Pegiat Literasi PPWI, 25 tahun berkarya di bidang jurnalistik & PR Strategic

Related Posts

1 of 3