Berita UtamaFeaturedMancanegara

Bagaimana Bila Terjadi Perang Lebanon Jilid III Antara Israel dan Hizbullah?

NUSANTARANEWS.CO – Aliansi Israel, Arab Saudi dan AS tampaknya akan memulai perang baru di wilayah tersebut. Gejalanya mulai terlihat dengan semakin intensifnya Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menggelar latihan militer. Kali ini latihan digelar selama lima hari di Kiryat Gatarea, dan juga di tempat latihan Tze’elim di selatan negara itu.

Menurut para pengamat, latihan militer tersebut diselenggarakan sebagai persiapan akhir yang ditujukan guna melancarkan agresi bersenjata melawan Hizbullah di Lebanon.

Latihan militer Israel ini semakin memanaskan situasi kawasan, apalagi setelah Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Bukan itu saja, Trump juga telah menginstrusikan Departemen Luar Negeri untuk memulai persiapan untuk pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv. Dan Trump juga mendesak negara lain untuk mengikuti langkah AS.

Langkah tersebut telah memicu kecaman dari sejumlah negara, terutama di Timur Tengah dan Palestina, yang memicu gelombang protes di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Rudal HAMAS Dapat Menjangkau Seluruh Wilayah Pendudukan Zionis Israel

Terlepas dari kebijakan Trump, militer Israel tampaknya mendapat tekanan politik yang besar setelah kekalahannya dalam Perang Lebanon Jilid II pada tahun 2006. Ada tuntutan kuat agar IDF menegaskan kembali dominasi militernya yang hilang.

Namun bukanlah hal yang mudah bagi Israel untuk menaklukan Hizbullah, karena Hizbullah juga memiliki agen di dalam IDF, maka seluruh gerakan dan konsentrasi militer Israel tidak mungkin dirahasiakan.

Ada sebuah skenario Perang Lebanon Jilid III yang pada akhirnya kedua belah pihak akan saling menghancurkan. Perang sudah pasti di mulai oleh Israel dengan pemboman besar-besaran yang menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sosial dan beberapa kerusakan pada infrastruktur militer Hizbullah, namun tidak menghancurkan peluncur-peluncur roket yang terlindungi dan tersamarkan dengan baik.

Selain itu pos komando dan sistem peperangan elektronik Hizbullah juga tidak lumpuh, sebagaimana pengalaman dalam Perang Jilid II. Unit yang lebih kecil akan beroperasi secara independen, bekerja dengan saluran komunikasi terbuka, menggunakan tanda dan kode panggilan yang telah ditentukan sebelumnya.

Baca Juga:  Zimbabwe Ingin Bergabung dengan BRICS

Bahwa Israel yang memulai perang dan menimbulkan kerusakan infrastruktur sipil yang kemudian dibalas dengan peluncuran rudal-rudal ke kota-kota Israel oleh Hizbullah yang juga menimbulkan kerusakan yang sama.

Segera setelah IDF’s Iron Dome dan sistem pertahanan jarak menengah lainnya dihabiskan untuk mencegat roket Hizbullah jarak pendek – baru rudal berbahan bakar padat Iran diluncurkan Hezbollah untuk menghancurkan target-target strategis di wilayah Israel.

Bagaimana akhirnya Perang Lebanon Jilid III, sulit diramalkan. Tapi satu hal yang nampaknya pasti dihadapi oleh Israel adalah unit tempur Hizbullah telah lebih kuat dan lebih efisien dibanding ketika Perang Lebanon Jilid II. (Banyu)

Related Posts

1 of 24