Connect with us

Hukum

Bacakan Pledoi Sendiri, Setnov: Saya Rela Mengabdi Jadi Pembantu

Published

on

Setya Novanto (Setnov) di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (13/1/2018). (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Setya Novanto (Setnov) nampak benar-benar insyaf dan tobat kali ini. Di hadapan Hakim, terdakwa perkara dugaan korupsi mega korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) itu begitu lirih dan santun membacakan pledoinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2018).

Lirih nada dan suara mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menceritakan renretatan panjang merangkai karirnmya dari titik nol baik di bidang bisnis maupun politik.

Baca:

Tidak tanggung-tanggung, pengalaman yang ia tembuh sewaktu menjadi mahasiswa pun dicurahkan di hadapan sang Hakim. “Saya rela mengabdi jadi pembantu, nyuci, ngepel jadi supir, dan bangun pagi untuk antar sekolan anak-anak, semua saya lakukan untuk melanjutkan kuliah saya,” tutur lirih Setnov.

Ia pun mengaku banyak dibantu oleh para petinggi Golkar, demi menggapai cita-citanya menjadi Ketua DPR. Ia ucapkan rasa syukur atas kerja kerasnya yang akhirnya bisa membuahkan hasil. Seolah Setnov hendak mengatakan bahwa usaha tidak pernah meledek hasil.

Loading...

“Ternyata karunia anak sungguh sangat besar, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, berkat kerja keras, untuk wujudkan cita-cita saya mengabdi untuk negara ini. Menjadi Ketua DPR,” kata Setnov.

Sepanjang Setnov mebacakan nota pembelannya itu, sesekali suaranya melemah, nyaris tak terdengar. Ia berkata kepada hakim bahwa dirinya sedih bukan untuk dikasihani, namun demi mengimbangi pandangan masyarakat terhadap dirinya.

“Saya terpaksa, bukan pamrih membacakan (pledoi) ini. Saya ingin masyarakat melihat cahaya ditengah-tengah gelapnya, saya ingin mengimbangi pemberitaan atau kabar yang beredar di luar, sudinya kiranya kurangi dapat mengurangi celaan, cacian yang kejam itu,” kata Setnov dengan nada perih menutup pledoi.

Baca Juga:  Netanyahu Siap Mencaplok Tepi Barat dan Mengakhiri Solusi Dua Negara

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler