Connect with us

Budaya / Seni

Aurora di Tengah Bencana Corona, Sebuah Refleksi Diri Tun Masri Amin

Published

on

Aurora di tengah bencana Corona. Tun Masri Amin, Koordinator Gugus Pencegahan Penyebaran Covid-19, Kabupaten, Aceh, Tenggara.

Aurora di tengah bencana Corona. Tun Masri Amin, Koordinator Gugus Pencegahan Penyebaran Covid-19, Kabupaten, Aceh, Tenggara.

NUSANTARANEWS.CO, Aceh Tenggara – Aurora di tengah bencana Corona, sebuah refleksi diri Tun Masri Amin, Koordinator Gugus Pencegahan Penyebaran Covid-19, Kabupaten Aceh Tenggara. Birokrat muda Aceh dari Lembah Alas ini menulis bahwa peristiwa horor Corona jauh melebihi sekuel film horor urban dua dasa warsa yang lalu “I Know What You Did Last Summer”. Membuat negara dengan pranatanya sedikit gamang dan gugup mengeksekusi kebijakan karena dihantui ketakutan dan serba salah ditengah tekanan publik.

“Rakyat juga bergidik diliputi ketakutan yang membuncah”.

Dalam pusaran badai Corona, titah kebajikan pemimpin Itu merupakan  “mellfluous” – sebuah suara yang manis, lembut dan menyenangkan saat di dengar. Sebagai panutan, laku pemimpin Itu cukup “ineffable” – terlalu hebat dan luar biasa untuk digambarkan dengan kata-kata ketika jelata mendengarnya di tengah bencana.

Nah, sikap reaktif kita beberapa waktu ini karena Covid-19, cenderung  “evanescent” – lekas menghilang dan hanya bertahan dalam kurun waktu singkat, tinggal penyesalan yang tersisa.  Karena kita saling menyalahkan hal parsial, bukan saling menguatkan yang substansial.

Di belantara wabah Corona, kita kini dirasuki rasa “hiraeth” – perasaan rindu terhadap rumah kebebasan kita beraktifitas yang tak bisa kita kunjungi. Kita semua teringat “epoche” – di mana periode waktu tertentu dalam hidup yang menentramkan jiwa kita. Kita berharap mendapat “serendipity” – sebuah keberuntungan yang di dapat saat kita tidak bermaksud untuk mencari,  sebuah anugerah Tuhan di saat terpapar bencana Corona.

Kontestasi kebijakan disaat mitigasi bencana corona  sikap “limerence” – sebuah kondisi saat kita sedang tergila-gila dengan seseorang harus kita nalarkan,  karena itu berkaitan dengan nasib warga. Bukan semua kebijakan nir koreksi karena “kita”.

Baca Juga:  Caleg DPR RI Anton Charliyan dan KH Maimoen Zubair Hadiri Deklarasi Kaum Petani Dukung Jokowi-Ma’ruf

Semoga, badai Corona berlalu, sering kita bermimpi mengharap “ethereal” –  sebuah cahaya halus yang bukan bagian dari dunia ini (surga). Sama kita rindunya dengan aroma “petrichor” – bau tanah yang menenangkan setelah hujan ditengah kemarau panjang.

Mimpi kita “halcyion” – sebuah kondisi merasa senang, tenang dan damai disetai “iridescent” – memancarkan cahaya seperti semburat pelangi pasca bencana corona setiap harinya.

Kejenuhan memuncak saat isolasi mandiri, langkah kita kadang menjemput “solitude” – sebuah kondisi menyendiri karena keinginan kita sendiri dengan harapan “Aurora” waktu fajar tiba hingga kebahagian yang “sempiternal” abadi.

Mari kita bergandangan tangan, bukan saling menyalahkan. Apalagi hanya karena kebijakan cabang dan ranting, bukan kebijakan utama.

Kebijakan utama kita adalah amanat dari konstitusi: “Melindungi segenap rakyat dan keadilan sosial” dalam hal ini adalah dampak ari bencana Corona. Semoga,  hidup kita tak semata hanya “phosphenes” – semburat cahaya berwarna yang kita lihat setelah mengucek mata.

Pejabat publik, politisi dan tokoh masyarakat ketika bergerak dan berbuat,  tetap melekat dengan statusnya, jadi tak perlu “baper”. Bahkan ketika beribadahpun mudah dipelintir dan politisir. Jadi tak usah hirau takut di tuduh politis, memang semua kebijakan adalah politis.

Dan kita yang  jelata pun harus mampu dan cerdas memilah antara kritik dan kebencian atas nama sekedar tetap berbeda dan oposan, sehingga melihat setiap orang berbuat selalu di politisir.

Satu hal perlu kita jaga dan ingat, kita jangan menjadi pengkhianat bangsa di tengah Bencana Corona. #EagleFliesAlone

Ditulis oleh Tun Masri Amin, di tengah social sistance, persawahan Lembah Alas, Minggu, 5 April 2020.(M2).

Loading...

Terpopuler