Connect with us

Berita Utama

Atmosfir Perang di Timur Tengah Kian Membara

Published

on

Ilustrasi Turki mengerahkan puluhan tanknya ke perbatasan Suriah

NUSANTARANEWS.CO – Atmosfir perang di Timur Tengah kian membara. Surat kabar utama Israel, Haaretz dan Jerusalem Post melaporkan dalam headline-nya bahwa Iran telah membangun sebuah pangkalan militer baru di Suriah dengan rudal yang mampu menjangkau Israel. Di sisi lain, pejabat Dewan Keamanan Rusia menyebut AS telah mendirikan 20 pangkalan militernya di wilayah Suriah. Dengan demikian AS tampaknya telah meningkatkan kehadiran militernya di Suriah.

Sementara di Amerika, retorika anti-Iran mulai menjadi berita utama di media mainstream yang dengan cepat bisa mendorong situasi perang dingin ke perang panas yang melibatkan pasukan militer. Aliansi AS, Israel dan Arab Saudi tampaknya mulai memanaskan situasi dengan membangun opini perang melalui media masa. Di samping itu, publik Amerika juga dibanjiri oleh berita propaganda tentang bagaimana pemerintah Suriah membantai warga sipil di Ghouta Timur.

Di tengah memanasnya opini global oleh media mainstream barat, Penasihat Keamanan Nasional H.R. McMaster menyatakan bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak guna menggagalkan ambisi regional Iran.

Gedung Putih juga mulai menuduh bahwa Iran telah mengeksploitasi minoritas Syi’ah di negara-negara tetangga yang didominasi Sunni untuk menciptakan kerusuhan, dan juga memperluas perannya di Irak dan Suriah. Kebijakan Presiden Trump tampaknya selaras dengan elemen paling keras di Israel yang terus berupaya mencari dalih untuk menyulut perang dengan Iran.

Sementara di Lebanon, Perdana Menteri Saad Hariri kembali mengunjungi Arab Saudi untuk pertama kalinya sejak pengunduran dirinya yang mengejutkan pada 4 November 2017 – yang kemudian dibatalkannya. Akankah kunjungan Hariri kali ini kembali akan menuduh Iran dan Hizbullah mendestabilkan Lebanon untuk menambah retorika perang yang telah dikeluarkan oleh Israel?

Baca Juga:  Menhan Israel Ucapkan Retorika Permusuhan Dengan Turki dan Erdogan

BACA JUGA: Israel Sudah Bernafsu Mencaplok Lebanon

Di tengah kunjungan Hariri ke Arab Saudi, AS telah meningkatkan jumlah pasukannya di Suriah yang bertujuan untuk mendestabilisasi negara tersebut dan mengusir Presiden Bashar Assad. Menurut laporan pertahanan AS, Washington telah meningkatkan kehadiran pasukannya di Al Tabaqah di dekat Raqqa dan Al-Tanf.

Kehadiran militer AS di Al-Tanf dan di Deir az-Zour telah menutup akses Iran ke Mediterania. Menteri Dalam Negeri AS Rex Tillerson bahkan mengabarkan rencana mereka untuk mengubah kehadiran militer mereka secara terbuka di Suriah – yang diharapkan dapat menangkal pengaruh Iran yang semakin meningkat dan kian meluas di kawasan itu. Tillerson menambahkan bahwa AS ingin menghindari kesalahan yang sama saat meninggalkan Irak pada 2011.

Dengan demikian, rencana perdamaian di Suriah semakin tersendat dengan keterlibatan AS dalam krisis tersebut, kata seorang pejabat Dewan Keamanan Rusia Alexander Venediktov. Bahwa perdamaian dan stabilitas di Suriah menjadi semakin terhambat oleh gangguan eksternal yang terus berlanjut dalam krisis Suriah.

BACA JUGA: Arab Saudi Diduga Berusaha Mengacaukan Lebanon

Venediktov juga mengatakan bahwa taktik AS menciptakan pasukan keamanan baru Border Security Force (BSF) di wilayah pendudukan yang melibatkan organisasi teroris PKK/PYD (versi Turki) dengan persenjataan canggih telah memprovokasi Turki untuk mengambil tindakan militer di wilayah Suriah.

Rusia sendiri memiliki dua pangkalan militer di Suriah, yakni pangkalan udara di Hmeimim dan pangkalan angkatan laut di Tartous. Kedua pangkalan tersebut sebagai hasil kesepakatan antara Moskow dengan Damaskus, di mana Rusia diizinkan mengoperasikan pangkalan militer mereka di wilayah Suriah selama lima dekade.

Rusia telah menjadi sekutu utama rezim Suriah di bawah Presiden Bassar al Assad, terutama sejak meletusnya perang saudara tujuh tahun lalu. (Banyu)

Baca Juga:  Perkuat Program Jalur Sutra, Cina ‘Incar’ Timur Tengah

Terpopuler