Connect with us

Politik

Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya Dilempari Ular Piton, Tindakan Kebencian Rasial Kembali Terulang

Published

on

penyerangan, mahasiswa papua, aktivis papua, usut tuntas, surabaya, malang, nusantaranews

Polisi geledah Asrama Mahasiswa Papua di Kota Surabaya. (Foto: Jatim.net/Khaesar J U)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Aktivis HAM Natalius Pigai mengatakan aksi lempar karung berisi ular piton ke asrama mahasiswa Papua di Surabaya merupakan bentuk tindakan yang sengaja dilakukan atas dasar kebencian rasial.

“Lempar karung berisi ular Piton itu tindakan atas dasar kebencian rasial,” kata Natalius kepada wartawan, Jakarta, Senin (9/9).

Natalius juga kembali mengkritik Menkopolhukam, Wiranto. Menurutnya, pernyataan Wiranto bahwa lempar ular piton di asrama Papua di Surabaya adalah skenario tindakan oknum pengacau tidak disertai bukti dan malah terkesan menghindar.

“Saya minta tunjuk hidungnya kalau memang ada skenario, jangan menghindari ketidakmampuan pemimpin melindungi dan menghadirkan rasa aman bagi warga negara. Kalau tidak tunjuk hidungnya maka saya katakan tidak ada skenario, itu tindakan rasis oleh masyarakat,” cetus tokoh asal Papua kelahiran Paniai itu.

Mantan Komisioner Komnas HAM itu meminta pemerintah mengusut tuntas tindakan rasis terhadap warga Papua.

Loading...

Usut pemimpin-pemimpinnya, usut juga pelaku dan nyatakan negara hadir. Itulah sebabnya pemimpin negara ini jangan dimonopoli satu suku, pasti akan subjektif dan terkesan rasis dalam pelayanan kepada warga negara,” kata Natalius.

“Saya minta negara tangkap itu pemimpin-pempin yang mengusir, teror dan intimidasi kepada rakyat Papua atas dasar kebencian rasialisme,” cetusnya.

Natalius menuturkan, pemerintah sudah berlaku diskriminatif dan rasialis. “Rakyat Papua diintimidasi di mana-mana, sementara mereka menyerang dan uber rakyat Papua seperti penjahat atau kriminal. Korban dicap pelaku dan pelaku dijadikan korban,” tuturnya.

Aktivis kemanusiaan ini menambahkan, tindakan segregasi ras dan etnik terhadap bangsa Papua terus dibiarkan.

“Maka tidak ada kehidupan ras Negro Melanesia di Indonesia. Setiap asrama Papua disisir, mahasiswa di-sweeping dan terancam melanjutkan pendidikan di luar Papua. Saya mengecam semua tindakan ini,” tegasnya. (eda/nus)

Baca Juga:  FKDB Wakili Indonesia di Pameran Perdagangan Internasional di Kansas City

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler