Connect with us

Mancanegara

AS Mulai Kepung Iran Secara Militer

Published

on

AS Mulai Kepung Iran

NUSANTARANEWS.CO – Amerika Serikat (AS) mulai kepung Iran secara militer. Sungguh menarik bila mengingat kebijakan Presiden Donald Trump, yang terus menekan Iran sejak awal menjabat di Gedung Putih. Di bawah pemerintahannya, Iran digambarkan sebagai sumber segala kejahatan di kawasan regional – termasuk kejahatan terorisme.

Jadi tidak mengherankan bila tekanan AS terhadap Iran dari hari ke hari terlihat semakin meningkat, sama seperti tekanan AS terhadap Venezuela. Trump tampaknya memang ingin memaksa Teheran agar tunduk sepenuhnya, bila tidak maka, ekonomi Iran akan “dibunuh” sehingga Iran tidak memiliki kemampuan sebagai pemain utama yang berpengaruh di kawasan regional.

Untuk mencapai tujuan strategis itu, Presiden Trump kemudian mengambil langkah mundur dari kesepakatan nuklir Iran 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Sejalan dengan itu, AS kemudian menerapkan sanksi-sanksi keras terhadap Iran yang memukul sektor ekonominya. Bukan itu saja, AS juga mengancam negara-negara yang masih berhubungan dengan Iran, beserta perusahaan-perusahaannya – untuk berhenti berbisnis dengan Iran.

Puncaknya, Presiden Trump menunjuk pasukan militer Iran, Korps Pengawal Revolusi Islam, sebagai organisasi teroris.

Dilapangan, AS secara signifikan telah meningkatkan penempatan militernya di sekitar lingkungan Iran. Bahkan telah menambah kekuatan armada tempurnya dengan mendatangkan kelompok penyerang kapal induk USS Abraham Lincoln dan satu gugus tugas pembom ke Timur Tengah. Belakangan, Kapal LPD USS Arlington pun telah diperintahkan menyusul ke kawasan Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok penyerang USS Lincoln.

Baca: USS Arlington Diperintahkan Berangkat Ke Timur Tengah

Loading...

Di tengah-tengah eskalasi ini, penasihat keamanan nasional, John Bolton, yang didukung oleh Sekretaris Negara Mike Pompeo, mengatakan bahwa: “AS tidak mencari perang dengan Iran, tetapi hanya bersiap sepenuhnya untuk menanggapi setiap serangan dari militer Iran.”

Bukan sebaliknya? Justru AS yang lebih dulu mengerahkan militernya untuk mengepung Iran dari segala sisi, sehingga tinggal mencari dalih saja untuk mulai membombardir Iran dengan rudal dan pesawat pembomnya yang sudah siaga di kawasan.

Nah, mampukah kekuatan militer Iran menghadapi serangan AS yang dapat dengan cepat membom instalasi militer, fasilitas nuklir, dan fasilitas infrastruktur utama lainnya. Begitu pula sebaliknya, mampukah AS mencegah Iran memblokir Selat Hormuz dengan jutaan ranjau – yang merupakan jalur perdagangan 30% minyak dunia – termasuk menghadang serangan ribuan rudal Iran yang mengancam pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan regional.

Boleh jadi Iran akan mampu membalas serangan militer AS dan menutup Selat Hormuz serta menenggelamkan beberapa kapal perang di Selat Hormuz yang sempit. Di samping itu, Iran juga telah lama mengembangkan strategi perang asimetris, termasuk penggunaan kekuatan hard dan soft. Iran bahkan telah berhasil mengembangkan rudal jarak pendek, menengah dan jauh untuk mencapai Israel.

Baca: Meski Diancam AS, Iran Tetap Menjalankan Program Rudal Balistiknya

Selain itu, Iran secara tradisional juga telah lama memiliki jaringan perang proksi di seluruh kawasan regional. Milisi Syiah Irak, dan Hizbullah siap meluncurkan ratusan ribu rudal menghujani Israel.

Iran juga dapat memobilisasi pasukan yang siap mati yang sangat berdedikasi untuk mengorbankan diri mereka demi melawan penindasan dan ketidakadilan serta membela kedaulatan negara mereka dari agresi militer lawan.

Kini saatnya Iran membuktikan kemampuan pertahanan nasionalnya untuk menagkal agresi militer AS dan sekutunya – setelah bermusuhan dengan AS sejak Revolusi Iran 1979. Dengan demikian, Iran jelas tidak mungkin menyerah dan tunduk kepada kemauan AS. Jika terjadi Perang AS-Iran sudah pasti akan membawa konsekuensi buruk bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Bahkan mungkin tidak terkendali. Disinilah para kontraktor militer mencari keuntungan sebesar-besarnya. Mengapa begitu? Baca selanjutnya: Dibalik Diplomasi Perang AS Yang Mengglobal. (Agus Setiawan)

Terpopuler