Connect with us

Mancanegara

AS Marah Melihat Iran Tetap Mengekspor Uraniumnya

Published

on

AS Marah Melihat Iran Tetap Mengekspor Uraniumnya

AS Marah Melihat Iran Tetap Mengekspor Uraniumnya. Foto: AP

NUSANTARANEWS.CO – AS marah melihat Iran tetap mengekspor uraniumnya yang diperkaya. Setelah melanggar kesepakatan multilateral nuklir Iran tahun lalu, kemudian memaksa Eropa agar tidak membeli uranium Iran, kini terbaru Amerika Serikat (AS) menuding Iran tidak lagi mematuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan. Sungguh aneh.

Betapa tidak aneh, AS telah keluar dari kesepakatan nuklir, tiba-tiba mengeluh bahwa Iran kini sedang meningkatkan pengayaan uraniumnya – seakan-akan AS merasa dirinya masih merupakan bagian dari kesepakatan nuklir Iran.

Padahal apa urusan AS bila negara-negara lain membeli pesediaan uranium Iran yang telah diperkaya rendah. Media mainstream tidak menceritakan dengan lengkap bahwa salah satu alasan Iran melampaui batas itu adalah untuk memenuhi kebutuhan negara-negara lain yang telah diancam oleh AS sebelumnya bila tetap menerima ekspor uranium dari Iran.

Iran memang meningkatkan persediaan berbagai bentuk uranium yang diperkaya hingga 3,67 persen menjadi lebih dari 300 kilogram adalah untuk memenuhi kebutuhan ekspornya, terutama ke Rusia.

AS menciptakan krisis tersebut adalah untuk mencegah Iran mengekspor persediaan uraniumnya yang berlebih yang telah diperkaya, sebagai bukti bahwa Iran akan meluncurkan senjata nuklir.

Para politisi Gedung Putih tampaknya bertekad untuk mendorong Presiden Trump terjebak ke dalam perang besar-besaran dengan Iran, persis sama dengan taktik memanipulasi George W. Bush ke dalam perang multi-triliun dolar dengan Irak, negara yang tidak mungkin menyerang AS.

Pompeo dalam cuitannya mengatakan: “Iran yang dipersenjatai dengan senjata nuklir, akan menimbulkan bahaya yang bahkan lebih besar bagi dunia.”

Loading...

Sebagai mantan kepala CIA, Pompeo tahu bahwa Iran telah sejak lama meninggalkan program senjata nuklirnya dan telah dikonfirmasi oleh penilaian intelijen AS. Tetapi Pompeo malah membual membalik fakta sesungguhnya.

Meskipun orang Eropa berjanji kepada Iran bahwa mereka akan terus menghormati kesepakatan itu, tapi mereka tidak dapat mengajukan alternatif yang kredibel untuk mengganti sistem SWIFT yang didominasi AS. Dengan kata lain, tidak ada solusi perdagangan dengan Iran, khususnya: minyak.

Iran akhirnya menanggapi keresahan Eropa dengan mengumumkan kembali peningkatan pengayaan uranium hingga lima persen, yang merupakan level yang diperlukan untuk menjalankan salah satu pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Seperti dapat diprediksi, langkah ini – yang diizinkan sesuai dengan bagian 36 dari kesepakatan Iran – diperlakukan sebagai setara dengan “laboratorium senjata kimia seluler” milik Saddam.

Iran tidak mundur. Mereka merasa ditipu, karena mereka terus menghormati kesepakatan itu bahkan ketika AS memberlakukan kembali sanksi yang melumpuhkan yang dimaksudkan untuk menghancurkan ekonomi mereka dan membuat rakyat mereka kelaparan.

Presiden Trump tampaknya harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang sangat serius, di samping mempertaruhkan masa jabatan keduanya yang sudah di depan mata. (Agus Setiawan)

Terpopuler