AS dan Uni Eropa Ternyata Hanya Perampok Biasa

AS dan Uni Eropa ternyata hanya perampok
AS dan Uni Eropa ternyata hanya perampok biasa/Ilustrasi bendera Uni Eropa dan AS.

NUSANTARANEWS.CO – Amerika Serikat (AS) sejauh ini telah menjanjikan bantuan setidaknya US$54 miliar untuk Ukraina. Sedangkan negara-negara Uni Eropa (UE) menurut berbagai laporan diperkirakan akan membantu hingga €10 miliar. Total ketika digabungkan menjadi US65 miliar setara dengan pengeluaran militer tahunan Rusia.

Sebuah jumlah yang cukup mengesankan. Namun bagaimana kenyataan di lapangan? Tentu saja bantuan ini menjadi kue lezat bagi politisi dan elit-elit korup selama perang terus berlanjut di berbagai pelosok bumi. Korupsi dan penggelapan terus bekerja dengan elegan atas nama demokrasi dan kemanusiaan.

Masih ingat Perang Afghanistan? Sejak invasi tahun 2001, AS ternyata telah menghabiskan US$ 2,26 triliun atau setara dengan Rp 32.318 triliun berdasarkan hitungan yang dilakukan oleh Brown University. Dan hasilnya malah berakhir kacau. Bahkan pasukan AS kabur diam-diam dari Afghanistan di malam hari.

Menariknya, dari beberapa laporan di lapangan ternyata banyak perangkat militer yang sudah tua dan bahkan amunisi yang kadaluarsa begelimpangan memenuhi tanah Afghanistan seperti kendaraan lapis baja dan bom-bom cluster yang tidak meledak. Peralatan perang dan munisi tersebut hanya dipoles dan direkondisi seakan-akan layak digunakan di medan pertempuran,

Sebagai catatan: Berbeda dengan Uni Soviet pada waktu. Soviet tidak pernah menginvasi Afghanistan pada tahun 1979. Sama halnya dengan kehadiran Rusia di Suriah hari ini, Soviet sebetulnya diundang secara resmi oleh pemerintah Afghanistan yang diakui oleh PBB untuk membantu membangun infrastruktur, jalan, listrik, perawatan medis, telekomunikasi, dan pendidikan.

Sehingga tidak mengherankan ketika pasukan Soviet meninggalkan Afghanistan pada tahun 1989 berjalan dengan tertib dan terkoordinasi secara profesional. Moskwa meninggalkan Afghanistan dengan pemerintahan yang berfungsi, militer yang lebih baik, termasuk penasehat dan ekonomi yang menjamin kelangsungan hidup pemerintah – tidak kabur malam-malam meninggalkan kunci dengan situasi yang hampir tidak terkendali.

Setelah ditinggal Soviet, Republik Demokratik Afghanistan (DRA) tetap bertahan dengan baik. Pemerintahan Kabul baru runtuh pada April 1992 ketika gerakan Mujahidin dukungan AS semakin kuat dan Uni Soviet bubar tahun 1991.

Hal yang sama tampaknya terjadi. Seperti banyak diberitakan, ketika MANPADS “Stinger” yang dibanggakan telah membuat pasukan Ukraina frustrasi karena tidak berfungsi dengan baik. Padahal jumlah yang dikirim mencapai ribuan. Belum lagi terkendala teknis karena tidak terbiasa menggunakan sistem senjata barat – sehingga serangan balasan militer Ukraina menjadi tidak efektif.

Ukraina sendiri telah mendapatkan senjata NATO selama bertahun-tahun. Misalnya, drone “Phoenix Ghost” dan drone “Switchblade” buatan perusahaan AS untuk menyerang tank dan kendaraan lapis baja. Lalu kendaraan lapis baja M113 yang sudah usang, termasuk howitzer M777, artileri 155 mm yang belum memiliki sistem digital.

Pengiriman senjata-senjata usang tersebut tentu sangat mengunguntungkan bagi para kontraktor senjata. Seperti membuang seluruh kendaraan lapis baja M113 ke Ukraina telah membuka peluang bagi akuisisi AMPV (Armored Multi-Purpose Vehicle) yang baru dari BAE Systems.

Jelas Kompleks Industri-Militer AS, kartel manufaktur senjata terbesar di planet Bumi akan sangat diuntungkan. Lockheed Martin, Raytheon, Boeing, BAE Systems, General Dynamics, Northrop Grumman tentu akan menikmati sebagian besar dana tersebut.

Dan seperti biasa, seluruh bantuan peralatan perang tersebut ujung-ujungnya adalah hutang yang harus dibayar oleh Ukraina. Kabar terakhir bahkan AS dan Uni Eropa akan menyita aset Rusia untuk membayar biaya produksi peralatan perang tersebut. Benar-benar perampok yang pengecut. (Agus Setiawan)