Connect with us

Peristiwa

Arab Spring Membuat Sejumlah Negara di Tanah Arab Menderita

Published

on

(Photo: Peter Macdiarmid/Getty Image)

NUSANTARANEWS.CO – Mungkin kita masih ingat dengan istilah The Arab Spring yang telah berlangsung sejak 2010 lalu. Ya, Arab Spring bertarti juga kebangkitan dunia Arab, merupakan gelombang revolusi unjuk rasa dan protes besar-besaran yang terjadi di tanah Arab. Gerakan yang juga dikenal pemberontakan Arab ini dimulai sejak 18 Desember 2010 silam yang berhasil memicu terjadinya revolusi di Tunisia, Mesir, perang sudara di Libya, pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah, Yaman, protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi sendiri, Sudan dan Sahara Barat, bahkan hingga kersusuhan di Israel. Kesemuanya terinspirasi dari kebangkitan dunia Arab (Arab Spring).

Kini, konflik, pertikaian dan perselisihan sipil terus meletus di wilayah timur Mediterania, dan telah menghancurkan kehidupan dan kesehatan masyarakat setempat. Di Yaman, Tunissia dan Mesir, menurut sebuah laporan studi yang dirilis Kamis (25/8/2016) semua orang dikatakan telah kehilangan harapan hidup selama tiga bulan, antara tahun 2010-2013. Memburuknya kondisi di tiga negara tersebut telah mengancam kesehatan dan kehidupan masyarakat, kata para peneliti.

Selain itu, di Suriah juga tengah dilanda perang saudara yang menewaskan lebih dari 290.000 orang dan jutaan rakyat mengungsi terhitung sejak Maret 2011 silam. Harapan hidup rakyat Suriah sudah menipis dan rata-rata telah dipotong selama enam bulan, kata para peneliti yang melaporkan studinya di Jurnal The Lancet Global Health. Pria di Suriah sebelumnya mampu bertahan hidup sampai usia 75 tahun. Namun, pada tahun 2013 rata-rata usia kematian adalah 69 tahun.

Sementara itu, para wanita Suriah penurunan serupa terjadi dari 80 menjadi 75 usia kematian selama periode yang sama. Artinya, konflik di Suriah sudah masuk dalam kategori sangat mengerikan.

Baca Juga:  [Video] Laporan Hasil Investigasi Bangkai Pesawat Lion Air

“Konflik baru-baru ini menghancurkan infrastruktur dasar di sejumlah negara. Akibatnya, jutaan orang menghadapi kekurangan air mengerikan dan sanitasi yang buruk yang akan menyebabkan wabah penyakit,” kata penulis Ali Mokdad, seorang profesor di University of Washington’s Institute for Health Metrics and Evaluation.

Studi ini juga menemukan tingginya angka kematian bayi di sejumlah negara Arab. Adalah Suriah menempati urutan pertama situasi yang mengerikan kasus kematain bayi tersebut. Para peneliti mencatat, sejak tahun 2000-2010 kematian bayi mencapai angka 6 persen, dan mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2010-2013 yakni 9 persen per tahun.

Untuk itu, para peneliti mengingatkan bahwa ancaman memburuknya kesehatan tak hanya terjadi di Suriah tetapi juga Libya, Yaman, Lebanon, Afghanistan, Irak dan Somalia.

Baca: Mencoba Memahami Perang Yaman

“Pemberontakan Arab telah berkembang menjadi perang yang kompleks. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan penuaan, konflik-konflik yang sedang berlangsung telah secara dramatis meningkatkan beban penyakit kronis dan cedera,” kata Mokdad dalam sebuah pernyataannya.

Akibat peperangan, tak sedikit para dokter dan perawat justru lebih memilih menyelamatkan diri, melarikan diri, serta berlindung ke tempat yang lebih aman. Dan hal itu jelas menambah kesengsaraan rakyat dalam bidang kesehatan.

Namun, dalam kondisi perang di tanah Arab, kelompok-kelompok berkepentingan justru berupaya memutarbalikkan fakta tentant kematian. Menurut mereka, kematian rakyat di sejumlah negara Arab yang tengah berkonflik bukanlah akibat perang melainkan akibat penyaki menular seperti tuberkolosis. Tuberkolosis, kata mereka berkilah penyebab utama kematian dini, dan hal ini berkaitan erat dengan gaya hidup sehingga banyak yang mengalami penyakit jantung, diabetes dan stroke.

Untuk 22 negara di kawasan Arab Saudi, kematian yang diakibatkan diabetes meningkat 12-19 per 100.000 orang antara tahun 1900 sampai 2013. Begitu pula penyakit jantung yang merupakan pembunuh nomor satu, termasuk diare dan infeksis saluran pernafasan.

Baca Juga:  Jokowi Dinilai Salah Alamat Tuding Pertamina di Balik Mahalnya Harga Tiket Pesawat

“Tren ini akan menyebabkan beban tambahan pada sumber daya manusia dan keuangan di daerah di mana mereka sudah langka,” studi tersebut memperingatkan. (eriec dieda)

Loading...

Terpopuler