HukumMancanegaraPolitik

Aparat Keamanan Menembaki Pengunjuk Rasa di Khartoum

Aparat keamanan
Aparat keamanan menembaki para demonstran di Sudan/Foto: Yahoo.

NUSANTARANEWS.CO Aparat keamanan menembaki pengunjuk rasa di ibukota Sudan, Khartoum. Suara tembakan terdengar sekitar pukul 14:00 waktu setempat yang berlangsung kurang lebih selama empat jam, dilaporkan Al Jazeera. Enam puluh orang dilaporkan tewas dalam tindakan keras aparat keamanan di ibukota Khartoum

Situasi di Khartoum, ibu kota Sudan masih tetap tegang setelah pada bulan April militer Sudan menggulingkan Presiden Omar Bashir dan menangkap puluhan pejabat tinggi serta kemudian membentuk dewan militer transisi.

Sedikitnya dua orang tewas dan sepuluh lainnya luka-luka ketika tembakan dilancarkan di dekat lokasi aksi duduk, di ibu kota tersebut. Pada hari Rabu (5/6) Komite Pusat Dokter Sudan melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat tindakan kekerasan aparat keamanan di meningkat menjadi 100 orang setelah 40 mayat diangkat dari Sungai Nil.

Ribuan demonstran di Sudan berusaha menghentikan pasukan keamanan dan menutup jalan utama di luar markas militer di Khartoum.

Baca Juga:  Punya Visi Misi Sama, KIB dan KIR Berpeluang Duduk Bersama di Pemilu 2024.

Menurut koresponden Sputnik di ibukota Sudan, polisi militer menembaki para pengunjuk rasa di ibu kota Khartoum. Insiden itu terjadi di dekat Markas Besar Angkatan Bersenjata, di mana para petugas berusaha membongkar barikade yang dibuat oleh para pemrotes dan, setelah beberapa bentrokan dengan mereka, mulai menembak.

Ratusan pengunjuk rasa dilaporkan mengungsi di Masjid dekat Jembatan Nil Biru.

Para pemimpin protes sebelumnya mengumumkan aksi duduk di dekat markas militer, mendesak Dewan Militer Transisi untuk memberikan kekuasaan kepada pemerintahan sipil.

Demonstrasi masal melawan pemerintahan transisi terus berlanjut sejak tentara menggulingkan Presiden Omar Bashir. Sementara itu, putaran pembicaraan dewan militer dengan oposisi tentang pengalihan kekuasaan menemui jalan buntu.

Juru bicara oposisi Satia Alhaj mengatakan bahwa pembicaraan terhenti minggu lalu, karena kedua pihak tidak dapat mencapai sebuah kesepakatan. Alhaj juga mengatakan bahwa gerakan oposisi ingin membentuk pemerintahan parlementer yang diperluas untuk masa transisi.

Pada hari ini, jalan-jalan Khartoum relatif lebih tenang karena sedang dalam suasana perayaan Idul Fitri. Meski begitu, tetap saja seorang wanita telah tewas oleh peluru nyasar di rumahnya di Khartoum, lapor komite dokter.

Baca Juga:  Pemda Nunukan Beri Jawaban Atas Pandangan Fraksi Terkait APBD-P 2022

Sementara itu, Internet telah diblokir di berbagai tempat di seluruh negeri oleh penyedia utama. Dan tndakan kekerasan aparat pada hari Senin telah menuai kecaman internasional, termasuk dari Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. (Alya Karen)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3.050