Tato (Ilustrasi/Nusantaranews.co)
Tato (Ilustrasi/Nusantaranews.co)

NUSANTARANEWS.CO – Banyak orang yang mengidamkan untuk memiliki tato sebagai hiasan tubuh. Namun, mungkin Anda perlu memikirkan ulang untuk mengukirkan tato kebagian tubuh. Pasalnya sebuah penelitian baru menemukan bahwa tinta tato mengandung partikel beracun yang dapat menembus di bawah kulit dan menyebar ke seluruh tubuh yang mungkin dapat berimplikasi pada kesehatan jangka panjang.

Health memaparkan sebuah tulisan dari seorang ilmuan Jerman dan Prancis yang berasal dari jurnal Scientific Reports. Tulisan tersebut menggambarkan temuan mereka sela,a otopsi empat individu dengan tato. Dengan menggunakan teknologi fluoresen sinar-X. Mereja mendapati adalanya partikel nano titanium dioksida, yang merupakan bahan umum pigmen tato berwarna putih dan berwarna di kelenjar getah bening orang dengan tato.

Hal tersebut dikatakan karena peran sistem limfatik yang dimiliki kelenjar getah bening untuk membuang racun dan kotoran. Jadi suatu hal yang masuk akal jika para peneliti menemukan kumpulan partikel tinta yang disuntikkan dalam pengukiran tato.

Mereka menuliskan dalam publikasinya, “kelenjar getah bening berpigmen dan membesar telah terlihat pada individu bertato delama beberapa dekade.”

Tetapi penuan baru yang mereka temukan bahwa partikel tinta ditemukan pula di kelenjar getahbening pada ukuran nano partikel sangat memprihatinkan, kata mereka. Pasalnya partikel kecil tersebut dapat menyebabkan berbagai ancaman kesehatan.

Sebenarnya dalam bentuk non partikelpun tinta tato yang dibuat dari titanium dioksida telah dikaitkan dengan masalah seperti lambatnya penyembuhan, elevasi kulit dan gatal. Selain titanium dioksida para periset juga menemukan berbagai bahan kimia dalam skala nano terkait tato lainnya yang kemudian merambat dan tersimpan di kelenjar getah bening.

Penulis penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa efek kesehatan kronis seperti perkembangan kanker, sulit dikaitkan dengan tato karena efek tersebut hanya muncul setelah bertahun-tahun atau puluhan tahun terpapar.

Melalui peneliti utamanya yaitu Ines Schreiver dari Institut Penilaian Risiko Federal Jerman para peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat perlu lebih memahami kembali bahwa, “tidak banyak peraturan tentang tinta tato di dunia yang memungkinkan seseorang untuk menyatakan bahwa tinta tato pada umumnya aman,” kata Schreiver kepada Health dalam keterangan tertulisnya. “Bahan-bahannya belum pernah disetujui untuk disuntikkan ke kulit dan ada kekurangan data yang signifikan untuk menjelaskan sejauh ini efek samping yang diketahui seperti alergi dan pembentukan granuloma.”

Ia menambahkan bahwa, “Mungkin ada lebih banyak risiko yang terkait dengan tato, namun kecenderungan tato yang semakin meningkat mungkin menyiratkan.”

Oleh karena banyak hal di atas, para periset menyarankan bahwa seharusnya orang akan berpikir lebih banyak lagi tentang risiko yang mungkin akan ia dapatkan melalui tato, dari pada mempertahankan pikiran yang selama ini berkembang bahwa tato aman, sementara tidak ada peraturan yang membolehkan atau melarangnya.

Penulis: Riskiana
Editor: Romandhon

Komentar