Connect with us

Artikel

Apa Salahnya Kencing Unta?

Published

on

Fahri Hamzah (Istimewa)

Hati-hati karena (minum kencing unta) itu ada hadisnya dan sahih. Seorang sahabat kena lepra dan sembuh setelah disuruh Nabi SAW minum.

Maksud saya, itu keyakinan, apakah sains mau berbaik sangka membuktikannya ya kita tunggu saja. Di kampung saya anak-anak sakit mata cuci mata pakai kencing pagi.

Saya tambah sedikit, soal kencing sebagai obat mata, itu biasa waktu saya kecil. Dan memang saya menyaksikan kesembuhan.

Waktu saya kecil banyak orang berobat sakit mata ke rumah saya karena ada stok salep polysporin yang dikirim paman saya dari luar negeri.

Lalu, setelah saya dewasa saya tahu bawa mungkin “urea” yang ada dalam kencing manusia punya pengaruh pada obat mata.

Saya belum pernah mendengar keterangan lain. Tapi saya melihat orang sembuh karena air kencing waktu saya kecil.

Kembali ke soal kencing unta, saya juga kaget waktu mendapat keterangan itu. Dan melihat sendiri para peternak unta di Saudi menjual kencing unta lebih mahal dari susu unta, 5 SR untuk susu unta dan 20 SR untuk kencing unta. Saya tanya ke ulama.

Saya diberitahu bahwa ulama memang ada perbedaan pendapat. Sebagian menganggap hadits sahih itu hanya berlaku zaman nabi karena yang disuruh nabi minum itu adalah orang yang kena hukuman. Bukan orang biasa. Tapi sebagian ulama berpandangan bahwa hadits itu tidak dibatalkan dan berlaku umum.

Maka tradisi itu berlaku sampai sekarang. Maka, tindakan Ustadz Bachtiar Nasir itu hanya meneruskan apa yang ada dalam teks. Apa salahnya?

Paling tidak ini perbedaan pendapat. Tapi dalam Islam, sikap sains terhadap agama bukan permusuhan. Tapi “wallahualam” sampai kita menemukan ruang kepastian.

Dan kadang sains juga tidak sanggup memberikan semua kemungkinan dan itulah sifat sains, tidak ada yang mutlak.

Discovery after discovery.  Dalam sains, temuan baru mengalahkan temuan lama. Dan itu bisa diberlakukan dalam fenomena seperti kencing unta dan daripada dipertengkarkan kenapa kita tidak mendorong inovasi dan penelitian?

*Fahri HamzahWakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Komentar

Advertisement

Terpopuler