Connect with us

Budaya / Seni

Apa Makna Falsafah Jawa yang Dikutip Jokowi?

Published

on

falsafah jawa, jokowi, falsafah, jokowi, nusantaranews

Joko Widodo (Jokowi). (Foto: REUTERS/Beawihrta )

NUSANTARANEWS.CO, JakartaJokowi mengutip sebuah falsafah Jawa yang dinilai mengandung pesan moral yang sangat tinggi bagi masyarakat Indonesia. Falsafah itu berbunyi, lamun sira sekti, aja mateni. Di caption-nya, Jokowi menuliskan bahwa zaman sudah semakin maju, tapi kita tetap mengingat pesan-pesan bijak dan agung para leluhur.

“Itu pesan moral yang disampaikan Jokowi tentang sebuah kepemimpinan, kekuasaan dan hidup di masyarakat yang dalam filsafat Jawa yaitu lamun siro sekti, ojo mateni (meskipun kamu sakti atau kuat, jangan suka menjatuhkan). Maknanya, jika kita memiliki sebuah kepandaian atau pengetahuan yang lebih digunakan untuk sebuah dedikasi pada Yang Maha Kuasa saja dalam ujud masyarakat dan bukan untuk saling menjatuhkan dengan sesama kita,” kata politisi Arief Poyuono, Jakarta, Senin (22/7/2019).

Arief menyebutkan kutipan kalimat lain yang maknanya hampir sama yakni lamun siro banter, ojo ndhisiki. Artinya, meskipun kamu cepat, jangan mendahululi.

Baca juga: Mengenal Kosmologi Jawa

“Ini juga memiliki makna bahwa kita senantiasa ingat kepada yang Maha Kuasa dan selalu waspada, sekali pun kita cepat lebih dahulu mengetahui sebuah pengetahuan jangan kita mendahului kehendak Yang Maha Kuasa. Artinya juga, kita jangan mendahului keinginan-keinginan kita pribadi sebagai pemimpin tetapi lebih mendahulukan hasrat dan keinginan masyarakat lebih dulu,” jelas Arief.

Loading...

Selain itu, ada pula kutipan lain yang berbunyi lamun siro ojo minteri. Artinya, meskipun kamu pandai, jangan sok pintar. Maknanya, kata Arief, janganlah sebuah kepandaian dan pengetahuan dijadikan untuk menipu rakyat, menjebak rakyat tetapi kepandaian dan pengetahuan digunakan untuk kebaikan sesama.

“Kangmas (Jokowi -red) mengingatkan tiga bentuk filsafat Jawa yang bisa kita gunakan sebagai pegangan hidup kita dalam bermasyarakat dan pesan moral bagi para elite politik, para pemimpin di Indonesia,” katanya.

Baca Juga:  Fadli Zon Sebut Demokrasi di ASEAN Berlangsung Semu

“Tiga kata kata filsafat jawa ini maknanya sangat tinggi dan tidak gampang melakoninya. Dan menurut saya Jokowi ini sudah menjalankan ketiga kata-kata filsafat Jawa ini dalam kepemimpinan, kehidupan yang di jalankan selama ini,” imbuhnya.

Adapun konteksnya, lanjut dia, Joklowi ingin adanya sebuah kebersamaan dalam membangun negara. Dan dari sisi ekonomi bisa diartikan silahkan menjadi pengusaha yang sukses dan maju atau konglomerasi, tetapi jangan matiin usaha usaha orang kecil,” kata dia.

“Yang kuat dan mampu diajak untuk saling kerjasama dengan yang tidak kuat dan jangan justru menekan dan mematikan,” pungkasnya. (ach/eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler