Politik

Apa dan Siapa Generasi Milenial? “Fokus” PB PMII Menjawabnya

NusantaraNews.co, Jakarta – Istilah generasi milenial sudah ada sejak tahun 2010 di Indonesia. Saat itu ketika BPS (Badan Pusat Statistik) mengeluarkan data sensus penduduk.

Hal tersebut disampaikan oleh penulis buku “Milenial Nusantara” Hasanuddin Ali saat menjadi pembicara pada launching Forum Diskusi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Fokus PB PMII), oleh PB PMII bidang opolitik, advokasi dan kebijakan publik di Graha Mahbub Junaidi, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Ada 4 (empat) hal yang menarik kata Hasan dari hasil sensus yang dikeluarkan BPS. Pertama, jumlah antara pria dan wanita dalam struktur demografi penduduk Indonesia.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia penduduk pria sekarang lebih banyak dari penduduk wanita. Kalau dulu, selalu dikatakan bahwa wanita lebih banyak dari pada penduduk laki-laki,” ungkap Hasan.

Kedua, kata dia, temuan soal penduduk kota. Jadi, tren sekarang penduduk kota lebih banyak dari penduduk desa. Secara geografis sejak tahun 2015, penduduk yang tinggal di kota lebih banyak dari penduduk yang tinggal di desa. Ketiga, lanjutnya, soal kelas menengah. Sejak tahun 2012 penduduk Indonesia lebih banyak kelas menengah.

Baca Juga:  Fraksi Demokrat Beri Tanggapan Atas Nota RAPBD Yang Disampaikan Pemkab Nunukan

Keempat soal generasi melinial. “Sekarang penduduk Indonesia dengan usia muda luar biasa sekali. Makanya orang banyak mengatakan, ini eranya bonus demografi. Sebab, sekarang usia produktif sangat besar,” ujarnya.

Hasan juga menyampaikan hasil risetnya bahwa, tahun 2018 ini merupakan tahun politik. Karena 171 daerah melaksanakan pilkada, terutama daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Kalimantan Timur dll. Hal itu juga berhubungan dengan Pemilu 2019. “Tahun politik ini memiliki tiga isu utama. Pilkada, kelas menengah dan Milenial,” terang Hasan.

Menurut dia, penduduk kota, kelas menengah, kesenjangan ekonomi, dan generasi milenial itu bukan sebatas persoalan bonus demografi. Beda dengan urben prural yang lebih pada perubahan paradigma (dari kampun yang komunal pindah ke kota berubah individualis).

Apa dan Siapa Milenial?

Dari sekian banyak versi yang menguraik tantang apa dan siapa milenial, Hasanuddin, memilih versi yang paling poluler. Milenial, kata dia, merupakan istilah dalam demogragi. Dimana generasi milenial berada diantara generasi X dan generasi Z.

Baca Juga:  Purnawirawan TNI Bersama Habib, Kyai, dan Gus Siap Menangkan Prabowo Subianto Sebagai Presiden Tahun 2024

“Saat ini, terdapat 4 (empat) cohort besar demografi yang masing-masing dibedakan berdasarkan periode kelahiran. Pertama disebut Baby Boomer (lahir antara 1940-1964), kedua Gen-X (lahir antara 1965-1980), ketiga milenial (kelahiran 1981-2000), dan keempat Gen-Z (kelahiran 2001-sekarang).

Sesuai dengan isi buku yang ditulisnya, Hasan juga menjabarkan ciri atau Karakteristik generasi milenial itu ada tiga yaitu Creative (brain), Connected (behavior) dan Convident (belief).

Kaum milenial yang masuk dengan karakteristik Creative ialah orang yang biasa berfikir out of the box, kaya dengan gagasan dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik.

“Generasi milenial termasuk generasi kreatif, salah satu bukti adalah tumbuhnya industri kreatif dan start up. Pencipta start up didominasi oleh generasi milenial,” ujarnya.

Generasi milenial dalam karakteristik Connected ialah mereka kolompok milenial yang pandai bersosialisasi, terutama dalam komunitas yang mereka ikuti. Mereka juga aktif berselancar di sosial media dan internet. “Sosial media dan internet sudah menjadi kebutuhan,” kata dia.

Baca Juga:  Diusung Caleg di Pemilu 2024, Cara PKB di Jawa Timur Raih Suara Kalangan Milenial

Milenial dengan karakteristik Confidence adalah mereka yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Related Posts

1 of 13