PeristiwaRubrika

Anton Charliyan Ajak Dirikan “Musium Galunggung” Sebagai Cikal Bakal Sejarah Sunda dan Tasikmalaya

Anton Charliyan Ajak Dirikan Musium
Anton Charliyan Ajak Dirikan Musium. Mengundang para sesepuh Tatar Pasundan, para kyai-ulama, dan seluruh Keluarga Besar Masyarakat Sunda dimanapun berada.

NUSANTARANEWS.COAnton Charliyan ajak dirikan Musium Galunggung. Mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan, mengajak para sesepuh Tatar Pasundan, para kyai-ulama, dan seluruh Keluarga Besar Masyarakat Sunda dimanapun berada untuk dapat menghadiri acara “Deklarasi Forum Silaturahmi Sunda Sadunya” dan “Launching Geopark Galunggung” pada hari Kamis 20 Februari 2020 pukul 09.00 WIB yang bertempat di Taman Wisata “BATU MAHPAR GALUNGGUNG” Desa Sukamulih Kec.Leuwisari – Singaparna Kab.Tasikmalaya

“Kami mengundang kepada seluruh masyarakat Tatar Sunda dimanapun berada yang peduli pada kelestarian seni budaya Sunda yang adiluhung untuk hadir pada waktunya,” kata Pecinta Sejarah dan Budaya Nusantara ini.

Sebagai Pecinta Sejarah dan Budaya Nusantara, Anton mengungkapkan kepada Nusantaranews.co bahwa sudah saatnya dibuat MUSIUM GALUNGGGUNG – terutama untuk mengenal lebih jauh dan lebih luas lagi sejarah Tatar Sunda. Misal sejarah awal berdirinya Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, bahkan kerajaan Galuh dan Sunda – tidak dapat dilepaskan dari sejarah Galunggung di zaman Kabataraan Resi Sempak Waja di abad ke VI. Begitu pula dengan Kerajaan Galunggung Ratu Batari Hyang (1111), dan Kerajaan Sukakerta Prabu Sri Gading Anteg Putra Prabu Surawisesa abad ke XVI.

Baca Juga:  Bupati Nunukan Hadiri Perayaan Natal Bersama Jemaat Gereja Katolik Santo Markus Desa  Pulau Keras

Demikian pula di zaman Sultan Agung Mataram (1632) ketika menjadi ke-Adipatian Soekapoera, lalu Kabupaten Sukapura di zaman VOC (1677) yang kemudian menjadi Kabupaten Tasikmalaya sejak Bupati Wiratanuningrat tahun  1913.  Itulah sekilas perjalanan  sejarah Tasikmalaya yang cukup panjang yang semuanya berawal dari Galunggung.

Posisi Galunggung juga sangat penting di dalam catatan “Sejarah Sunda” secara umum. Menurut salah satu Naskah Lontar Kuno Amanat Galunggung yang ditulis oleh Raja Sunda Galuh Prabu Darmasiksa (1175) – Tatar Sunda adalah suatu wilayah kabuyutan sekaligus “tempat suci” yang harus tetap dijaga keutuhan dan kelestariannya jangan sampai dikuasai oleh bangsa lain. “Jika tidak bisa menjaga tanah air maka Putra Sunda derajatnya akan lebih hina dari bangkai yang ada di tempat sampah,” tukas Anton.

“Naskah Lontar Kuno yang lain juga menceritakan fragmen Carita Parahyangan mengenai Posisi Galunggung selain sebagai tempat yang Sakral di Tatar Sunda juga dikenal sebagai TARAJUNYA JAWADWIPA  (Pasak Penyeimbang Jawadwipa). Sehingga secara geopolitik memiliki posisi strategis bukan hanya di Tatar Sunda tapi juga bagi seluruh Jawadwipa. Pengetahuan ini tentu sangat penting bagi generasi mendatang dengan mempelajari catatan-catatan, dokumen-dokumen, artefak, dan lain-lain yang tersimpan di dalam musium.”

Baca Juga:  Data Penerima Tak Valid, Distribusi Pupuk di Jawa Timur Masih Amburadul

Mantan Kadiv Humas Polri ini, memohon dukungan nyata yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya dari semua pihak, baik Pemerintah Pusat, Daerah, DPR/DPRD, maupun pihak BUMN/BUMD, swasta dan seluruh kalangan masyarakat yang cinta dan peduli terhadap Sejarah & Budaya Nusantara. Karena sekarang ini semua program baru dapat berjalan atas usaha swadaya pribadi, ujarnya dengan prihatin.

Namun bila ada uluran tangan dan gotong royong dari semua pihak tentu akan jadi ringan, dan salah satu yang sudah ikut peduli adalah Yod Mintarega, Sekda Kabupaten Tasik, Kadisbudpar Kabipaten Tasik serta Keluarga besar Sukapura.  Yang penting bukan hanya wacana, kata Anton, tapi betul-betul realitas nyata, “Ulah loba POK yang penting PRAK,” pungkasnya.

Sejauh ini sebagai pecinta sejarah dan budaya, Anton selain menulis buku juga terlibat penelitian dan berbagai program aksi terkait situs sejarah antara lain:

  1. Tugu Kujang Kampung Naga (2007)
  2. Gong Perdamaian Dunia Karang Kamullyan Ciamis (2009)
  3. Mushaf Al Quran Terbesar Dunia di UPI Bandung (2012)
  4. Membuat Papan Peringatan Untuk Melestarikan Situs-Situs (2009),
  5. Pengadaan Koper Besi untuk Naskah-naskah Ciburuy Garut (2010)
  6. Pemasangan Pintu Besi, CC TV dan identifikasi pusaka-pusaka di Musim Sumedang (2011)
  7. Identifikasi Pusaka-Pusaka di Musium Kerajaan Goa Sulsel (2016)
  8. Dinobatkanan sebagai salah satu kolektor kitab Al-Quran Kuno & Kitab Kuning kuno terbanyak di Indonesia (2018)
  9. Turut membantu pembuatan Gerbang dan Tangga ke makam Rakeyan Sancang Gunung Nagara (2019)
  10. Penelitian-penelitian dan ekspedisi: Situs Parit Galunggung, Kitab-kitab Kuning di Jampang, Situs Gunung Padang , Situs Gunung Nagara, Situs Piramida Garut, Situs Walahir, Peta Ci Eka Ciburuy Garut , Situs Batu bersusun Sukaraharja ciamis, dan masih banyak lagi.
Baca Juga:  Mendagri Sambut Kedatangan Sejumlah Tamu Negara G20 di Bali

(Editor: Banyu)

Related Posts

1 of 3,056